
Dewi menatap pacarnya lekat, lalu memberitahu siapa orang yang beruntung akan memiliki Serly, dan itu membuat Haddy terperanjat.
"Seriusan dia?" ucapnya dan menggeleng kecil.
Dewi mengangguk.
"Kenapa harus dia yang Tante pilih?"
Dewi mengedikkan bahunya.
"Astaga. Kenapa jadi seperti ini, sih! Pegimana aku ceritain semuanya pada George?" Haddy menundukkan kepalanya bingung.
"Ceritain aja yang sebenarnya. Suruh siapa dia mutusin Serly," usul Dewi malah bikin Haddy semakin sedih.
"Ayank gak tau sama apa yang terjadi sebenarnya," ucapnya lesu, "ini gak seperti kenyataannya."
Dewi memandangnya lekat.
"George sebenarnya gak mau lakuin itu."
"Terus itu?" Dewi ikut duduk di kap mobil di samping Haddy.
"Ya, yang namanya anak labil … otaknya gak muter dua kali."
Dewi terkekeh, lalu menggeleng kecil. "Ya sudah. Terus, sekarang gimana?"
"Sekarang aku gak tau. Bingung kudu bagaimana, apalagi sekarang dia lagi sekarat," ucapnya memelas.
"Sekarat? Maksudnya?" Dewi mengernyit.
"George sakit. Dia lagi mempertaruhkan hidup matinya sekarang."
"Yang jelas, Dy. Jangan malah drama." Dewi berdecak sembari melipat kedua tangannya.
Haddy terkekeh. Kemudian menjelaskan kronologinya dari awal sampai akhir.
Dewi terkesiap mendengarnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita harus gagalin acaranya Serly!" usulnya.
Haddy menjentikkan jarinya. "Ayank pinter juga," ucapnya dengan senyum sumringah.
Dewi memutar bola matanya malas.
"Kalo gitu, yuk! Kita gagalin acaranya sekarang!"
Dewi mengangguk. "Tapi, aku mandi dulu, ya! Belum mandi dari pagi."
"Ish. Ayank kok, jorok! Pantesan dari tadi aku cium bau aneh."
Dewi mengerucutkan bibirnya.
"Haha. Nggak kok, Yayank Ndew. Yayank mah tetep cantik dan wangi. Meski seminggu gak mandi-mandi."
"Serius, nih?" Dewi menyipitkan matanya, "kalau gitu, aku gak mau mandi, ah! Kan, masih wangi," jawabnya sembari mencium aroma tubuhnya sendiri.
Haddy hanya nyengir sambil mengusap-ngusap kuduknya pelan.
"Seriusan Ayank gak mau mandi dulu?"
Dewi menganggukkan kepalanya kecil.
"Padahal, kita mau ke rumah sakit dulu, lho. Dan di sana ada Mamah sama Papah aku!" ucapnya dengan sedikit merayu sang pacar.
Dewi menggeleng. "Gapapa. Kan, aku masih wangi walau gak mandi."
"Mmm … aku temenin mandinya, gimana? Atau … aku mandiin?"
"Ih. Memangnya aku bayi!" ucapnya dengan bibir mencebik.
Haddy terkekeh. "Eh, iya, ya. Ayank bukan bayi. Yang bayinya 'kan, aku," ucapnya tertawa geli.
"Ish! Ayolah. Kita ke rumahku dulu."
"Mau mandi?"
__ADS_1
"Bukan. Mau nyelemin badan ke dalam sumur," jawabnya ketus.
Sontak saja Haddy langsung tertawa terbahak-bahak. "Ayank ada-ada aja. Mati, dong, kalau gitu," ucapnya seraya beranjak dari duduknya.
"Lagian, kamu kalau mau ngerayu 'tuh, yang bener. Yang sesungguhnya. Jangan boongan." Dewi melangkahkan kakinya duluan, dan diikuti oleh Haddy yang terus cekikikan mengikutinya.
Sampai di depan sebuah rumah kecil, mereka menghentikan langkahnya dan masuk.
"Aku ikut mandi juga, ya!" Haddy memepet tubuh Dewi sembari berkedip-kedip manja.
Dewi tidak menggubris. Dia membiarkan apa pun hal yang mau dilakukannya.
****
____ Tempat lain ____
Serly tengah duduk termenung dengan butiran kristalnya terus menetes membasahi wajahnya.
"Nona. Jangan menangis terus. Saya jadi susah meriasnya." Seorang wanita yang sedari terus mendandaninya, mengusap air mata tersebut dengan sebuah tisu.
Serly tidak menggubris. Perasaannya benar-benar hancur. Dia sudah putus asa untuk memperjuangkan cintanya.
"Cinta yang kupikir akan tumbuh subur kembali … ternyata malah layu dan perlahan gugur," batinnya dengan air mata yang malah semakin deras mengalir.
"Nona-"
"Biar aku saja," potong seorang Pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dia mengambil selembar tisu yang ada di atas meja. Lalu, memandang Serly dalam.
"Ay. Jangan nangis. Aku tidak mau meminang dan menikahimu jika seperti ini," ucapnya seraya mengusap setiap air mata yang menetes di pipi mulusnya.
Serly segera tersenyum dan menyekanya sendiri. "Maafkan aku. Aku janji akan terus tersenyum," ucapnya dengan bibir yang merekah.
Pria yang ada di hadapannya tersenyum manis, dan mengelus pipinya lembut.
Serly memejamkan matanya dengan pikiran tertuju pada George.
__ADS_1