Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Ada Tapi Tidak Ada


__ADS_3

Kini George sudah sampai di rumahnya. Dia memarkirkan Mobilnya begitu saja di halaman, ia sudah gak sabar untuk bertemu dengan orangtuanya.


"Mih, Pih!" Teriak George pas masuk ke dalam rumah.


Kedua orang tua, George yang sudah sangat lama menunggu kedatangan Putranya itu langsung berdiri. Mereka merentangkan kedua Tangannya menyambut kedatangan, George.


George berjalan menuju kedua orang tuanya dengan langkah yang besar.


Meskipun, George anak Lelaki, ia juga ingin di peluk, dan di sayang-sayang oleh orangtuanya. Apalagi mereka jarang untuk berkumpul.


Dengan sedikit malu-malu, George memeluk Tubuh, Mamihnya dengan erat. Lalu, di ikuti oleh Papih. Mereka menyalurkan kerinduan masing-masing layaknya orangtua dengan anaknya.


"Anak, Papih udah Bujang!" Katanya seraya mengelus lembut Kepala George.


George hanya tersenyum menanggapi.


"Katanya kamu sakit, Sayang?" Tanya Mamih seraya mengendurkan pelukannya.


George menatapa sang Mamah sebentar. Lalu, ia tersenyum.


Mereka terlebih dahulu duduk. Sebelum saling bercakap-cakap.


"Alhamdulillah, Mih! Aku udah baikan, sekarang." Jawab George.


"Hm..." Jawabnya cuman berdehem saja.


"Mamih sama Papih, kapan pulang dari Paris?" Tanya George ingin tahu.


"2 hari yang lalu!" Jawab Mamih santai.


George menatap lekat manik Mata , Mamihnya. Ia gak percaya, kalo ternyata mereka ( Kedua orangtuanya ) udah pulang dari 2 hari yang lalu, tapi baru hari ini sampai ke rumah. George menunduk sedih berdiam diri.


"Kami ke kantor Pusat dulu, George!" Jelas Papih paham dengan diamnya George.


George mengangguk paham dengan itu, dia paham, kalo dia bukanlah Prioritas bagi kedua orangtuanya. Dia hanya menjadi bayang-bayang mereka saja. Terlihat jika ada cahaya yang menerangi mereka.

__ADS_1


Seperti sekarang, mereka baru pulang hanya ketika ada kabar bahwa George lagi sakit.


Kadang, George sering berpikir. Lebih baik, aku terus sakit. Supaya kedua orangtuaku ada di sampingku dan memberi perhatiannya untukku.


George berdiri setelah gak ada lagi kata, atau ucapan yang keluar dari Mulut mereka.


"Kalo gitu, Aku mau ke atas." Ijin George.


Kedua orangtuanya mengangguk tanpa melihat George. Mereka sudah sibuk dengan Smartphone yang ada di Tangan mereka masing-masing.


Di saat seperti ini pun, di saat aku dan kalian baru bertemu. Kalian masih saja sibuk dengan dunia kalian saja. Kalian gak memikirkan bagaimana perasaanku. Batin George menatap mereka sedih.


George berbalik dan melangkahkan kakinya dengan berat, ia berjalan menuju Tangga yang terlihat sangat Panjang di Matanya.


Di kamar...


George melempar sembarangan Tasnya, ia kesal, dan juga emosi. Tapi, ia gak tahu harus bagaimana menyalurkan ke marahannya.


Bugh...


Bugh...


Bugh....


"Seberapa berharganya aku untuk kalian," Kata George marah. Ia terus memukul tembok secara berulang-ulang.


Sudah merasa puas, George meluruhkan badannya bersandar di tembok.


George menangkupkan kedua Tangannya di Wajah.


Dalam diam, George menangis lirih, "Dek, Kakak kangen kamu, Dek! Gak ada seorangpun yang mengerti aku, Dek!" Gumamnya di sela-sela tangisnya.


George mengepalkan kedua Tangannya di depan, "Luka ini, luka yang bisa siapapun melihatnya." Batin George meringis kecewa.


George segera bangkit dan langsung menyambar sebuah jaket dari dalam lemari.

__ADS_1


Dengan penuh kemarahan, George turun ke lantai bawah dengan kepalan tangan yang erat.


Dalam hatinya, George ingin sekali mendengar sang Mamah memanggilnya dan bertanya, "Mau kemana, Sayang."


Tapi, itu hanyalah angan belaka.


George langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Di depan pintu, George berbalik untuk melihat Mamih juga Papihnya yang sedang ber-argument membicarakan pendapat mereka masing-masing.


George menatap sedih, sebegitu tak berharga dan pentingnya, George di mata orangtuanya.


Dengan perlahan, George membuka pintu itu dengan ke sedihan yang mendalam.


"Den, Aden mau kemana?" Tanya salah satu pekerja di rumahnya.


George berusaha untuk tersenyum, "Main." Jawab George santai, dan langsung berjalan cepat ke arah Mobil yang masih terparkir di depan rumah.


George melajukan Mobilnya dengan begitu kencang, dia terus membelah jalanan yang cukup ramai dengan terus menyalip Mobil-mobil lain yang ada di hadapannya.


Bugh...


Bugh...


Bugh....


George memukul-mukul stir Mobil dengan kasar.


"Ahhhh......" George berteriak prustasi dengan ke hidupan yang sangat menyakitkan untuknya.


Tak ada sapa, tawa, apalagi kasih sayang dari kedua orangtuanya. Sedangkan yang di butuhkan George adalah itu, bukan hanya harta dan tahta yang ia butuhkan. George juga menginginkan kasih sayang dari orang-orang yang ia Sayang.


Tanpa arah dan tujuan, George terus mengemudi Mobilnya dengan cepat. Tak, ada lampu merah dan yang lainnya. George terus menerobos semua rambu-rambu lalu lintas.


Ia gak peduli mau di tegor ataupun di masukan ke dalam penjara sekalipun. Yang ia pikirkan sekarang, bagaimana menghilangkan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Kalian ada, tapi seperti gak ada." Gumam George dengan napas tak beraturan, "Aaahhhhh....." George kembali berteriak kencang seraya menendangkan Kakinya keras.


__ADS_2