Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Apa Aku Akhiri Hubungan Kita


__ADS_3

Setengah jam berlalu, George juga Hadfy sudah sampai di depan tokonya Serly.


Mereka langsung turun dan masuk berdesak-desakkan di ambang pintu.


"Ck. George. Gue duluan napa?" ucap Haddy sambil mendorong tubuh George kuat.


"Ih. Siapa tadi yang duluan? Sono lo. Gue yang masuk duluan!" ucapnya mendorong tubuh Haddy kuat.


"Gue dulu, George. Gue kangen Ayang Ndew!" Haddy menatapnya memelas.


"Ciah. Gue juga sama. Minggir!" George kembali mendorong tubuh Haddy kuat.


"Haelah. Gue duluan!"


"Gue!"


"Gue!"


"Gu-" George menggantungkan ucapannya, saat melihat seorang bidadari cantik tengah berdiri di hadapannya, dengan tatapan sengit ke arah mereka berdua.


"Eh, Tante," ucapnya menggemaskan.


Serly mendelik dengan kedua tangan melipat di dada.


"Kalian ngapain?" tanyanya menatap George juga Haddy heran.


Haddy menggaruk tengkuknya. "Noh. Si George. Masa gak mau ngalah sama aku. Padahal 'kan-" ucapannya menggantung, saat melihat Serly mendelikkan matanya.


"Yaelah. Kalian berdua jahat ama Adek! Awas. Minggir!" ucapnya menyingkirkan mereka berdua dari ambang pintu.


"Haish. Lebay!" cibir George menatapnya kesal.


Serly menghela nafas, lalu membalikkan badannya hendak meninggalkan George disana.


"Tungguin, dong. Masa aku ditinggal!" ucap George seraya menarik sebelah tangan Serly lembut.

__ADS_1


Serly menghembuskan nafas, kemudian berbalik menatapnya lagi.


George tersenyum, menampilkan semua deretan giginya yang putih. Namun, tidak sedikitpun tidak membuat Serly terpesona melihatnya.


Dia mendelik dan meninggalkannya di sana.


George mendesah, kemudian melangkah cepat menyusulnya ke dalam toko.


"Tante masih marah, ya, sama aku," ucapnya lirih.


Serly tidak menggubris. Dia mendaratkan b0k0ngnya di kursi empuk yang selalu ia tempati.


"Maafin aku, Tan. Aku tidak sengaja. Itu, itu-"


"Sudahlah, George. Jangan bahas itu lagi. Aku sudah melupakannya," potong Serly pelan.


Dia meraih sebuah buku majalah yang ada di atas mejanya.


"Apa aku menyerah saja, George? Apa aku akhiri saja hubungan kita. Sebelum aku dan kamu melangkah lebih jauh lagi," batinnya sakit.


Serly terus membuka satu persatu lembar  majalah tersebut, namun dia tidak membacanya.


Pikirannya terus berkelana ke kejadian beberapa jam ke belakang.


George menghela nafas. Dia tahu kalau Serly tengah memikirkan banyak tentang hubungannya.


Dia melangkah dan berjongkok di samping kursi yang Serly duduki.


"Tan."


Serly terkesiap saat melihat George sudah tidak ada di hadapannya. Dia menoleh,


"George. Ngapain?" tanyanya tidak percaya.


George menghela nafas sambil menatapnya dalam. "Apa yang tengah Tante pikirkan?" tanyanya lembut.

__ADS_1


Serly menggeleng pelan.


"Jangan bohong, Tan. Aku tahu Tante sedang memikirkan sesuatu."


Serly menunduk seraya memutar tubuhnya menghadap George.


"George-"


"Aku tidak mau berpisah sama Tante. Aku sangat mencintai Tante," ucapnya yang tahu akan apa yang Serly ucapkan padanya.


Serly menghela nafas lirih. "Tapi, George-"


 "Sudahlah, Tan. Aku tahu Tante akan menyerah dan meninggalkanku," ucapnya lirih.


Serly menghela nafas dengan tatapan terus tertuju pada George.


"Aku bingung, George. Mamamu tidak sedikitpun mau membuka hatinya untukku."


"Jika itu memang keputusan Tante… aku permisi!" ucapnya seraya beranjak dari sana.


Serly menghembuskan nafasnya lagi. Kemudian dia melangkah menyusul George yang sudah keluar dari tokonya.


"George. Tunggu!" Dia meraih tangannya lembut.


"Buat apa lagi, Tan," ucapnya sinis.


Serly meluruhkan tangannya, memeluk tubuh George hangat.


Keduanya terdiam dengan air mata yang mengalir.


💜💜💜💜💜


**Mohon dukungannya. Dengan cara:


Like juga komentarnya

__ADS_1


Saranghaeyo😘**


__ADS_2