
Serly menyajikan segelas susu hangat di atas meja yang ada di hadapan calon mertua laki-lakinya.
"Maaf, Om. Aku tidak tahu kalau Om tidak ngopi juga ngeteh," ucapnya sopan.
Papanya George tersenyum. Dia terus memperhatikan Serly yang tengah membuka paperbag yang tadi dia bawa.
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
Serly menoleh sambil tersenyum manis. "Ini cake, Om," jawabnya seraya menyajikannya ke atas piring kecil.
Papanya George mengangguk kecil.
"Silahkan Om cicipi. Semoga Om menyukai cake buatanku." Serly menaruhnya tepat di hadapannya.
"Oh. Jadi, kamu suka bikin cake?" ucapnya seraya mengambil satu potong cake dari piring tersebut.
Serly mengangguk. "Aku juga menjualnya."
"Wah. Kamu sudah punya usaha sendiri?"
Serly mengangguk lagi. "Kecil, Om," ucapnya sedikit malu.
Papanya George tersenyum bangga. Tanpa terasa, dia sudah memakan banyak potongan cake bikinan Serly, dan dia tersadar saat mau mengambil lagi cake itu sudah tandas di dalam piring tersebut.
"Yah." Papanya George menggaruk tengkuknya dengan senyum malu-malu menatap Serly.
Serly terkekeh dan memotong sisa cake yang dia bawa itu.
"Silahkan, Om," ucapnya sambil menaruhnya kembali di hadapan sang calon mertua.
Papanya George tersenyum malu. Dia sebenarnya sangat mau mengambil dan memakan cake bikinan calon menantunya itu, namun rasa malu dan sedikit kehormatan mengurungkan niatnya untuk mengambilnya lagi.
"Oh, iya. Gimana kabar George? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya dengan mata sekali-kali melirik cake yang sangat menggoda bibirnya.
Serly tersenyum. "Alhamdulillah, Om. Hari ini juga dia lagi di sekolah!"
__ADS_1
Papanya George mengangguk. "Maafkan semua perlakuan istriku, ya? Dia lupa dan gelap akan harta."
Serly mengangguk paham. Dia sangat bahagia bisa ngobrol hangat dengan satu calon mertuanya.
"Mm … kalau begitu, Om mau titip sesuatu buatnya."
Dia mengeluarkan sebuah kunci mobil juga beberapa kartu ATM dari tas kerjanya.
"Berikan ini padanya. Dia pasti sangat membutuhkannya," ucapnya sambil mengulurkan semua benda itu ke hadapan Serly.
Serly mengangguk sambil menerimanya. Namun,
"Biarkan saja anak itu sengsara! Suruh siapa memilih gelandangan daripada hidup enak!"
Semua orang menoleh ke arah suara. Termasuk para Pelayan yang tidak sengaja lewat di sana.
"Papah juga! Papah mau semua uang kita diambil sama dia?!"
Serly menundukkan kepalanya sakit dituduh seperti itu oleh calon mertuanya.
Serly mengeratkan tautan jarinya, melampiaskan rasa sakit hatinya.
"Mah. Jangan bicara seperti itu. Dia anak baik! Dia juga menghargai kita sebagai orang tuanya George!"
Cih.
Tatapan mamanya George tertuju pada cake juga susu yang ada di hadapan suaminya.
Prang!
Dia meraih dan melemparnya sembarangan.
"Mah!"
"Apa, Pah? Papah tahu itu makanan apa yang Papah makan?"
__ADS_1
Serly semakin menenggelamkan kepalanya merasakan hatinya yang semakin sakit.
"Papah! Itu mengandung gula, Pah. Dan Papah tidak boleh makan itu!"
Deg!
Serly mendongak terkejut mendengarnya.
"Kamu! Kamu mau suami saya sakit, hah? Kadar gulanya naik? Dan kamu bisa kuasai semua harta kami?"
Air mata Serly seketika itu juga meluruh. Rasa sakit atas tuduhannya sudah tidak bisa dia tahan lagi.
Serly berdiri, "maaf, Tante. Aku tidak tahu kalau Om-"
"Halah. Bilang saja kalau kamu menginginkan suamiku meninggal!"
"Mah! Cukup! Jaga ucapanmu. Ingat! Ucapan adalah doa!" bentak suaminya tidak terkendali.
"Cih. Ingat, Pah. Disaat sakit siapa yang akan mengurusmu! Bukan dia, Pah! Tapi Mamah!"
"Oh. Jadi Mamah gak rela ngurusin Papah?" tanyanya sengit.
Serly yang berada disana merasa bersalah. Dia malah membuat ribut kedua calon mertuanya.
"Lihat kamu! Lihat! Suamiku sampai begini itu gara-gara kamu!" ucapnya sambil menunjuk-nunjuk Serly menyudutkan.
"Stop menyalahkan orang lain! Mamah seharusnya intropeksi diri!"
"Papah tega bicara seperti itu pada Mamah?" tanyanya tidak percaya. Sorot matanya tajam ke arah Serly.
"Kau-"
"STOP!"
Semua orang berbalik menatap seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.
__ADS_1