
Pukul 7, Serly sudah sampai di tokonya bersama dengan Dewi juga beberapa karyawannya yang tidak sengaja ketemu di dalam angkot.
Sementara George, dia sampai di sekolahnya pukul 7: 49. Dikarenakan dia harus ke rumah Haddy terlebih dahulu untuk berganti pakaian.
Sesampainya di sekolah, mereka tidak bisa masuk. Sebab, mereka sudah sangat terlambat. Namun, karena George adalah salah satu anak Donatur terbesar di sekolah ini. Jadi, dia dibiarkan masuk begitu saja oleh pimpinan sekolahnya yang ternyata hadir disana.
*****
Satu pelajaran George ikuti dengan sangat serius. Dia tidak menghiraukan goda-godaan dari sahabatnya.
"Caelah. Mentang dikasih support masa depan … lo ampe lupa jati diri lo di sekolah ini." Ejek Haddy menatapnya malas.
George tidak menggubris. Dia terus fokus sama apa yang sedang gurunya terangkan di depan.
"Ck. Emang, ya. Kalau udah bucin … nurut banget. Kek kucing pada majikannya."
George meliriknya sekilas. Lalu, fokus lagi ke depan.
"Ish. Lama-lama gue timp-"
"Haddy!"
Ucapan Haddy terhenti saat guru yang tengah menerangkan di depannya memanggil namanya dengan sorot mata tajam.
"Iya, Pak. Hadir!" jawabnya sedikit santai. Dia sudah biasa seperti itu. Bukan hanya dia. Tapi, sama George .. yang entah kenapa sekarang jadi makhluk tidak menyenangkan---bagi Haddy.
Ck.
Guru tersebut menggeleng pelan.
"Ada apa, ya, Pak?" tanyanya tanpa beban.
"Ada apa, ada apa. Kedepan!" teriaknya sangat tegas. Namun, tidak sedikitpun membuat Haddy takut.
Dia malah menyilangkan kedua tangannya dada. "Ngapain, Pak?"
"Astagfirullah, Haddy." Pak Guru menggeleng-gelengkan kepalanya, "buruan kedepan! Atau Bapak tambah hukumannya buat kamu!"
George yang mendengar hal itu cekikikan.
"Seneng. Seneng. Awas aja lo. Gue jebak supaya lo juga kena hukuman!" Ucap Haddy tidak suka.
George terkekeh. "Makanya… kalau lagi belajar itu fokus! Biar pinter!" ucapnya mengejek.
__ADS_1
Haddy mendelik. Tatapannya kembali fokus pada Pak Guru yang tengah menunggunya untuk ke depan. "Pak. Emangnya salah saya apa? Kok saya dihukum?"
Cia. Konyol. Rasanya George ingin menimpuk kepala Haddy dengan batu besar.
"Masih aja nanya. Lo Murid paling badung disini. Sono. Nikmati hukumannya." Ucap George meng kesal sekali.
Haddy mendelik seraya beranjak dari kursinya. "Awas lo, George!" ucapnya penuh penekanan.
George tertawa. "Kasih hukuman yang lebih berat, Pak! Biar dia tau rasa!" ucapnya mengompori.
Haddy berbalik menatap George tajam. "Awas, lo!" gumamnya.
George tidak menggubris. Dia tersenyum sambil mengingat pepatah Serly sebelum mereka berangkat.
💜💜💜
George. Belajar yang rajin. Jangan nakal. Aku mau kamu jadi murid nomor satu karena kedisiplinan juga nilai-nilai bagus yang kamu raih. Fokuslah belajar … biar dimasa depan nanti … kamu bisa mengamalkannya pada anak-anak kita.
💜💜💜
George tersenyum-senyum membayangkan hal itu.
💜💜💜
Satu lagi, George. Kamu jangan tebar pesona terus sama Murid Cewek-cewek yang ada di sekolahmu. Aku cemburu!
💜💜💜
"Cia. Caelah. Dasar bucin!" Haddy kembali setelah menuntaskan hukumannya. Dia menggebrak meja George cukup keras. Sampai George yang tengah asyik dengan haluannya terperanjat kaget.
"Sial-"
"Haddy! Mau Bapak tambah hukumannya?"
Haddy bergidik. Lalu, duduk dengan santainya memperlihatkan pesonanya yang berwibawa.
George terkekeh. "Banyak gaya, lo!"
Haddy mendelik. "Daripada banyak bucin!" ledeknya membalikkan kenyataan.
George mendelik.
"Sudah. Kalian ini. Bisa gak, sih, sehari… saja gak buat bising di kelas? Lama-lama Bapak capek liat kalian yang selalu saling ejek seperti itu."
__ADS_1
George juga Haddy hanya diam mendengarkan.
Pak Guru menghela nafasnya. Lalu, membereskan semua buku-buku yang dia bawa tadi.
"Pelajaran hari ini Bapak akhiri sampai disini. Jangan lupa, besok kumpulkan semua tugas yang Bapak kasih barusan."
"Baik, Pak!" Jawab semua muridnya.
"Oke. Kalau begitu .. take care, ... Assalamualaikum!"
"Kumsalam!"
****
Jam pelajaran berganti, dan semua Murid mengikutinya dengan fokus. Termasuk George. Kecuali Haddy yang terlihat sangat bosan mengikuti semua mata pelajarannya, dan itu sebabnya adalah dia tidak bisa bertingkah seperti biasa. Karena George mendadak jadi Alien yang menyanjung kebucinan.
💙💙💙💙💙
Di tempat lain,
Serly tengah mengemas satu kota cake berwarna-warni ke dalam satu box coklat berhiaskan pita merah di atasnya.
"Nona serius mau kesana lagi?" Tanya Dewi yang sudah tahu bagaimana sikap dan kelakuan calon mertuanya Serly.
"Berusaha, Dew. Aku akan terus mencobanya sampai dapat." Jawab Serly sambil memasukkan kotak tersebut ke dalam sebuah paper bag cukup besar.
Dewi menghela nafas. "Semoga beliau perlahan luluh sama kekuatan dan kesabaran hati Nona."
Serly mengangguk. "Kalau begitu. Aku titip bentar tokonya. Jika ada yang pesan … kamu catat aja di buku pesanan."
Dewi mengangguk. "Hati-hati, Nona." Dia mengantarnya sampai keluar dari Toko.
"Kenapa harus ada rintangan di dalam hubungan mereka? Tapi, aku salut sama mereka berdua. Yang masih bisa bertahan walau badai menghadangnya."
Dewi lalu masuk, dan mulai melayani beberapa orang yang sedang memesan juga membeli cake disana.
*****
Serly terus melangkahkan kakinya sampai ke tepi jalan besar. Dia awalnya hendak meminta jasa Taxi Online, namun melihat isi di dalam dompetnya membuat dia meringis, dan mengurungkan niatnya untuk menaiki kendaraan tersebut.
Pada akhirnya, menyetop sebuah angkot yang tengah melaju ke arah yang akan dia tuju.
Tapi,
__ADS_1
"Ser!" Seseorang memanggil namanya.
Serly berbalik menatap siapa orang yang memanggilnya.