
Serly turun tepat di sebuah market langganannya.
Ia memesan beberapa bahan yang sudah berkurang di toko kuenya.
Setelah selesai. Ia pulang bersama seorang pegawai dari sana.
"Makasih, Pak." Serly turun di depan toko miliknya.
Para pegawainya datang, dan membantu membawakan semua belanjaan Serly.
"Kalian sudah selesai membuat Cake, nya?" tanya Serly seraya ikut menjinjing barang bawaannya.
"Sudah." jawab mereka kompak.
Serly mengangguk. "Kalian beresin aja tatatan Cake-nya yang rapi, ya? Aku mau bikin Cake spesial dulu," ucapnya sangat bersemangat.
"Spesial buat Bocah itu?" tanya Dewi sambil menyenggol bahunya pelan.
Serly menatapnya sinis. Ia kemudian melangkah ke arah belakang … tempatnya bekerja.
Ia menyiapkan satu persatu alat juga bahan untuk ia gunakan.
Tepung terigu, fermipan, baking powder, telur, mentega, dan lain-lain.
Ia memasukkan satu persatu bahan-bahannya ke dalam mangkuk mixer.
"Cantik!"
Serly tidak menghiraukannya. Ia terus membuat adonan yang hampir jadi.
"Tante cantiiikkkkk."
Serly pura-pura tidak mendengar.
"Tante, ihhhhh." George berdiri di sampingnya dengan tingkah seperti anak kecil.
Serly meliriknya sekilas.
"Tan?"
"Hm."
"Tanteku sayangku cantikku honey ku bunny ku sweety kuuuuuuu. Lihat aku, dong." ucapnya kesal.
Serly menyunggingkan bibirnya. "Apa, George," ucapnya seraya mematikan mesin mixernya.
"Tante tuh, kok, gitu, sih?"
Serly membuka pembungkus tangannya, lalu ….
"Ada apa, Honeyku cintaku babyku sweetyku?"
George tersenyum tipis.
"Apa?" Serly memasukkan adonan tersebut ke dalam loyang.
"Barengan, ya, kerumahnya," ucapnya dengan raut wajah sedikit gelisah.
Serly menoleh sekilas. Kemudian ia meletakkan adonan tersebut ke dalam oven.
"Emangnya kamu udah beres sekolahnya?" tanya Serly heran.
George mengangguk.
"Hm … kalo gitu, … oke!" jawabnya sambil mengangguk sekali.
George bersandar pada meja yang ada disana, "Tante barusan bikin kue apa, sih? " ucapnya seraya menarik tangan Serly.
__ADS_1
"Ada, deh," jawabnya merahasiakan.
"Gak mau ngasih tahu?" ucapnya sambil memeluk tubuh Serly lembut.
"Hm …," belum juga Serly mengasih tahu nama cake tersebut.
"George! Cepat, dong!" teriak seseorang dari arah depan.
Serly menatapnya dalam, "Kamu ngajak temen?"
"He …," George malah nyengir.
"Yaampun, George. Kenapa gak ngasih tahu, sih?"
George memeluk tubuh Serly semakin erat. "Aku lupa, Tan. Kalau liat wajah Tante tuh … aku suka lupa segalanya."
"Heuhhh." Serly mendorong tubuhnya pelan.
"Sebentar lagi, Tan." pintanya.
"George. Kasian temen-temen kamu, tuh. Masa, mereka gak di jamu apa-apa?"
"Hm."
George meluruhkan tangannya.
"Nanti juga ada saatnya, George," ucap Serly sambil mengelus kedua pipinya.
George menatap manik mata Serly dalam. "Biar aku aja yang jamu mereka," ucapnya lembut.
"Aku juga mau liat, George. Seperti apa teman kamu itu," ucapnya seraya ikut melangkah.
"Awas! Jangan tebar pesona, Tan!"
Serly menggelengkan kepalanya.
"Waw. George! Siapa dia George?!" ucap salah satu temannya seraya melangkah mendekatinya.
"Eits. Jangan sentuh-sentuh." George menutupi tubuh Serly oleh tubuhnya
"Yaelah. Kenalan doang, George," ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Serly.
"Woi! Dia pacarnya si bucin!"
Mereka semua yang ada disana, menatap ke arah suara itu berasal.
"Serius, Dy?!" tanya salah satu teman yang berada di sampingnya.
Haddy mengangguk.
"Wah-wah. Gue pikir dia masih single," ucapnya seraya kembali lagi ke kursinya tadi.
George menatapnya kesal.
"Wei! George! … masa kita gak di kasih makanan."
"Boro-boro makanan. Minum Pun nggak ada."
Mereka saling timpal menimpali.
"Maaf, ya?" ucap Serly merasa malu.
Ia kemudian melangkah mengambil beberapa cake, lalu ia suguhkan ke hadapan mereka.
"Hai cantik," ucap salah seorang temannya George.
Serly tersenyum tipis.
__ADS_1
"Jangan senyum-senyum." ucap George seraya menarik tangannya kasar.
"Ya Allah, George."
"Lo kasar amat jadi laki." ledek mereka.
George mendelik.
"Tan. Tante di dapur aja. Nanti cake-nya gosong." ucap George lembut.
Serly cekikikan. "Bisa aja ngusirnya."
"Bukan gitu, Tan?"
"Iya. Yaudah … aku ke dapur lagi," ucapnya seraya melangkah menjauhi mereka.
"George. Lo ketemu dimana, sih?" tanya salah satu dari mereka.
"Disini." jawabnya enteng.
"Dia itu pura-pura ke toilet. Padahal munafik." ucap Haddy.
Pletak ….
"Sembarang aja lo kalau ngomong." ucap George sambil menjitak kepalanya.
"Sakit, onta!"
George menatapnya sinis.
"Lo pikir aja. Di mulut lo bilang mau numpang ke toliet. Tapi, hati lo?"
"Yaelah. George … cara lo bisa gue tiru."
"Jangan, tard. Nanti lo bucin kayak dia."
"Bisa nggak, sih, lo diam aja. Urus tuh si Dewi?!" titahnya sudah mulai panas.
"Ntar malam gue urus," jawabnya santai.
Teman-temannya menatap Haddy tidak percaya.
"Apa? Itu benar, 'kan?"
Ck … ck … ck ….
"Gue gak kayak dia. Mulut dan hati gue selaras sama ucapan gue."
"Hallah. Ngemeng aja di gedein," ucapnya sengit.
"Lo, tuh. Aku mah nggak, ya, kan, Ayang Ndew," ucapnya manis saat melihat Dewi melangkah melewati mereka.
Mereka semua mengikuti langkah Dewi sampai benar-benar pergi.
"Itu pacar lo, Dy?"
Haddy mengangguk.
"Wih. Kalian dapet jodoh di toko ini."
"Nyari sono. Disini banyak lho cewek cewek manisnya," ucap Haddy.
"Serius?!" Mereka semua antusias.
Haddy mengangguk.
Mereka langsung mengedarkan tatapannya ke arah para pegawai Serly yang tengah sibuk menata cake di etalase.
__ADS_1