Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Bisik-bisik Syahdu


__ADS_3

"Tante. Aku serius, aku tidak menyukai wanita lain selain, Tante." George terus berusaha membuat Serly supaya percaya padanya.


Serly malah diam tidak menghiraukannya.


"Tan!" George terus merayunya dengan berbagai cara juga rayuan gombal ia keluarkan. Tapi, Serly masih saja ngambek.


"Awas lo, Dy. Gue bales, lo." batin George kesal.


"Tanteku yang cantik. Jangan ngambek, dong!" ucap George dengan memohon.


Serly memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Tante!"


Serly membiarkan George terus merayu dirinya. Ia juga tahu kalau itu hanya sebuah candaan mereka berdua. Tapi, ia kesal. Kenapa mereka seolah-olah lagi menutupi sesuatu darinya.


Serly menatap kosong ke arah luar jendela sembari menikmati pemandangan yang sangat indah.


"Tante. Jangan diamkan aku seperti ini." George memeluk tubuh Serly sangat erat.


"George!" Serly mendorong kecil tangan George yang melingkar di tubuhnya, tetapi George malah semakin mengeratkan pelukannya.


"George. Malu, ah."


George langsung mendongakkan kepalanya, "Tante. Aku tau Tante marah padaku. Tapi, aku serius, Tan. Aku tidak ada niatan untuk mencari wanita lain lagi. Cukup hanya Tante yang ada di hatiku. Hati dan pikiranku sudah sangat penuh dengan dirimu, Tan!"


Serly menatap George dengan sudut matanya.


George menatapnya sedih, dan membuat Serly jadi ikut sedih melihatnya.


Serly menarik tangannya dan membalas pelukan George. "Aku tidak marah padamu, George. Aku tau itu hanya sebuah gurauan kalian saja." kata Serly sambil memeluk tubuhnya erat.


George senang sekali mendengarnya. Ia semakin mengeratkan tubuhnya pada tubuh Serly.


"Makasih, Tan."


Serly mengangguk, namun ekspresi wajah masih murung.


"Tan. Apa masih ada yang salah? Tersenyumlah!" pintanya dengan senyum indah di wajahnya.


"Apa yang kau sembunyikan dariku, George? Apa itu ada sangkut pautnya dengan hubungan kita?" kata Serly sedih.


George meregangkan pelukannya. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada telinga Serly.


"Ngapain?" tanya Serly was-was dengan sedikit menjauh.


"Tante mau tau, apa enggak?" George balik bertanya.


Serly mengangguk pelan. Kemudian ia mendekat lagi.


"Pspspspsps ..."


George berbisik untuk memberitahunya.


Serly langsung berbalik menghadap George dengan ekspresi terkejut.


"Hah! Serius?" kata Serly cukup keras.


Haddy yang merasa George membicarakannya langsung menoleh dan melotot.


"George!" serunya dan kembali fokus pada jalanan.


George tersenyum misterius. "Emang enak." ledeknya.


Serly menarik pundak Dewi supaya berbalik menatapnya.


Haddy semakin geram. Ia langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Plakkk....


Tanpa aba-aba, Haddy langsung memukul kepala George kencang.


"Brengsek, lo!" Tatapannya sangat mengerikan dengan tangan mengambang ke udara.


"Yaelah. Gitu aja, lo takut." ledek George lagi sambil memegangi tangannya yang akan memukulnya lagi.

__ADS_1


"Ini bukan soal gue, tapi kasian Ayang Endew." ucapnya lemah menatap Dewi yang menunduk.


Serly tidak jadi menanyakannya langsung pada Dewi. Dia tidak mau malah membuat Dewi semakin malu lagi.


"Wle. Gaya-gayaan lo udah kayak yang bener aja."


"Diem bego!"


"Siapa suruh lo maju duluan."


"Tuh, Tan. Si Bocah bucinnya mau. Kasih, gih." titah Haddy sambil menatapnya.


"Iya, Tan. Aku mau," timpal George menatap Serly dengan puppy eyes.


"Weee. Gentle makannya. Jangan ngebucin terus." ucap Haddy kemudian melanjutkan perjalanan pulangnya.


George menatap Serly dengan malu-malu. Serly jadi geli melihatnya.


"Gimana, Tan? Ap ...,"


"George, ah."


Serly langsung memalingkan wajahnya.


Hahaha....


Haddy tertawa sangat keras melihat drama romance gesrek mereka berdua.


"Pake drama segala." ucapnya dan menghentikan kembali mobil tersebut di pinggir jalan.


"Yuk!" ajak Haddy sambil turun dari mobil, lalu Dewi mengikutinya.


"Wei!" Haddy menggebrak kap mobil bagian atas. "Gue kerumah Dewi dulu."


"Lanjutkan!" jawab George masih berada dalam mobil.


"Asyiap!" jawabnya dan langsung pergi dengan jalan bergandengan.


Tinggallah mereka berdua. Mereka yang sama-sama sedang kasmaran.


"Tan. Aku masih kangen." ucapnya seraya memeluk tubuh Serly hangat.


Serly hanya diam. Dia ragu untuk menjawab juga membalas pelukannya.


"Seminggu itu terasa berabad-abad bagiku."


Serly tersenyum hangat.


"Apa Tante tidak rindu padaku?" tanya sambil mendongak menatap Serly yang hanya diam saja.


"Aku juga rindu sekali padamu, George. Aku rindu tingkahmu yang sangat manja seperti ini," jawab Serly seraya membalas pelukannya.


George tersenyum. "Apa ini terlalu berlebihan, ya?"


Serly menggelengkan kepalanya. "Justru itu yang membuatku terus mengingatmu."


George semakin mengeratkan pelukannya. "Aku ingin segera menikah." ucapnya dengan berharap Serly akan setuju.


"Apa kamu serius ingin segera menikahiku?" tanya Serly serius.


George mengangguk.


"Apa yang membuatmu ingin segera menikah denganku?" ucap Serly.


"Aku ingin tidur bersamamu."


Hh!


Serly heran dengan jawabannya. "Apa hanya itu? Apa mungkin kamu sudah mencoba yang itu, em, ya, yang begituan?" tanya Serly dengan ekspresi sangat aneh.


George langsung melepaskan pelukannya. "Tan. Itu hanya sebuah ucapan. Aku ini masih fulldus," jawabnya ketus.


"Tapi itu? Kamu sepertinya sudah tau yang begituan?" tanyanya.


"He. Aku sering liat," jawabnya.

__ADS_1


"Hah! Liat apaan? Kamu suka ngintipin orang yang lagi begituan?"


George menggelengkan kepalanya. Lalu ia berbisik.


"Astaga, George."


"He ..."


"Jangan lagi, ya. Itu hanya akan mencuci otakmu. Kamu masih anak-anak. Jangan liat Video yang seperti itu lagi." ucap Serly memperingatinya.


"Hm." George menunduk sedih. "Tapi aku boleh mencobanya, ya?" pinta George dengan wajah memelas.


"George!"


"Please!"


"Nggak, ah," jawab Serly sambil menyilangkan tangannya didepan perut.


"Pleaseeeee"


"George. Itu tidak boleh."


"Dikit aja, Tan."


George terus meminta sesuatu hal yang itu sangat tidak boleh.


"Sedikitpun itu tidak boleh, George. Dosa!" ucap Serly sembari mendorong pintu mobil.


Grepp....


George menarik tangan Serly sangat kuat sampai Serly terjatuh tepat diatas tubuhnya George.


"Sedikit. Saja, ya?" George kembali memintanya.


Serly meronta berusaha melepaskan diri.


Namun,


George mengeratkan tangannya pada tubuh Serly.


"Kalo nggak. Aku minta ini saja." ucapnya seraya mengelus pelan bibir Serly.


Serly diam. Ia kemudian menganggukan kepalanya. "Tapi, kau lepaskan pelukanmu dulu." pinta Serly.


George langsung menguraikan pelukannya.


Serly langsung duduk kembali.


"Yuk!" ajak George tidak meminta hal itu lagi.


Serly merungut.


"Ayo! Aku sudah sangat lapar." ucapnya sembari mengelus perutnya memutar.


"Oh. Iya, Ayo!" jawab Serly sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal.


Serly langsung keluar mengikuti George yang sudah lebih dulu keluar.


"Aneh!" gumam Serly sambil berjalan mendekati George.


"Masakin aku nasi kuning." pintanya seraya menggenggam erat tangan Serly.


Serly mengangguk dengan pikiran masih bingung.


"Lauknya? Lauknya terserah kamu aja." tambah George.


"Hm."


"Aku sudah tidak sabar ingin menikmati masakan Ibu."


"Hah! Jadi harus Ibu yang masak?" Serly benar-benar merasa aneh dengan perubahan sikap George yang tiba-tiba.


"Hmm. Aku kangen rasa masakan dari seorang Ibu," jawabnya.


Serly mengangguk paham. Sepertinya George sedang merindukan sosok orangtua yang sayang padanya.

__ADS_1


__ADS_2