
George terus mengecupi lehernya, dengan sesekali ia s3s4p, meninggalkan beberapa tanda kepemilikan disana.
"George. Sudah. Aku tidak tahan!" ucapnya dengan lenguhan tertahan.
George tidak menggubris. Dia malah terus memainkan lehernya… dengan kedua tangan yang sudah m3n3lusup ke balik bajunya.
Mengusap-ngusap dua buk1t yang begitu halus dan padat, dengan pucuk yang sangat mungil.
Serly semakin tidak bisa menahan gelora aneh yang menyerang tubuhnya, yang seperti menginginkan sesuatu yang lebih dari itu.
Dia m3r3m4s-r3m4s rambut George kasar dengan kedua bibir mengatup rapat.
George tersenyum, dan melepaskan c1umannya. Dia menatap wajah sang pacar dalam.
Serly terdiam dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
Keduanya saling tatap,
"George-"
"Tan. Ini sudah terlanjur. Dan Tante juga menikmatinya." George membelai pipi Serly lembut.
"Ta-tapi,"
"Hanya satu kali. Dan aku tidak akan memintanya lagi."
Serly terdiam. Perasaan takut berkecamuk di dalam pikirannya.
"Aku janji. Aku akan bertanggung jawab!"
Serly menghela nafas. "Nggak, George. Aku takut-"
"Takut apa, Tan?" potongnya.
Serly menunduk dan menurunkan kembali bajunya, menutupi dua bukit yang tadi George mainkan.
Kemudian ia menjauhkan tubuhnya, duduk di salah satu kursi yang ada disana.
"Hubungan kita masih belum direstui, George. Aku tidak mau hal itu terjadi … dan kau meninggalkan aku."
George bangun, lalu mendekatinya, bersimpuh sambil memandangi wajah Serly dalam.
"Sedikitpun aku tidak akan meninggalkan Tante!" ucapnya seraya menggenggam kedua tangan Serly.
Serly menggeleng. "Itu sebelum kamu mendapatkan aku, George. Aku tidak tahu setelah aku menyerahkan semuanya."
George menunduk sedih. "Tante tidak percaya padaku?"
Serly hanya diam.
"Baiklah. Jika itu yang Tante inginkan. Aku tidak akan memaksanya." George melepaskan genggaman tangannya, lalu beranjak dari sana, mengambil semua pakaian yang sudah dibawa tadi dari rumahnya Haddy.
Serly mengerutkan dahinya, menatap George yang sepertinya akan pergi dari sana.
"George!"
"Jangan pikirkan aku lagi."
Satu kata yang sangat menusuk pada hati Serly.
"Terima kasih atas pelajaran juga kasih sayang Tante padaku!" George berdiri sedikit menyamping di hadapan Serly.
"A-apa maksudmu, George?" Serly memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Aku mencintai Tante… sangat mencintai Tante. Makasih atas semuanya."
Seketika air mata yang sudah membendung di pelupuknya, meluruh membasahi kedua pipinya.
"Aku minta maaf karena sudah lancang dan mencuri harta yang bukan milikku." George berbalik dengan paper bag ia tenteng.
Kemudian melangkah mendekati sebuah pintu yang masih terkunci.
Krek.
Ia membukanya,
"Jangan mencari dan menemuiku lagi. Lupakan semua yang sudah terjadi diantara kita." George berdiri diambang pintu, melirik Serly sekilas, lalu keluar dari sana.
Mengayunkan kedua kakinya menuju jalanan besar.
__ADS_1
**
Sepeninggalan George. Serly menundukkan kepalanya sangat dalam. Kedua belah tangannya mengepal kuat.
Air matanya terus mengalir begitu deras menyusuri setiap lekuk pipinya.
"George. Kau tega padaku… kau tega!" Serly memukul-mukulkan tangannya pada paha yang sedikit terbuka.
"George!" Tubuh Serly melemas.. meluruh ke atas karpet dengan tangis yang tersedu-sedu.
"Buat apa kau datang dan mencintaiku, hah? Jika akhirnya kau akan pergi meninggalkanku!"
Serly menarik kedua lututnya, lalu ia peluk dengan begitu erat dengan kepala ia tenggelamkan diantara kedua lututnya.
Serly menghabiskan malam ini dengan tangisan yang begitu pilu.
****
Di tempat lain….
George yang sudah sampai di rumah Haddy, langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah kamar… dimana Haddy tengah tertidur pulas.
Ia menghempaskan tubuhnya di sisi kasur di dekat sahabatnya itu.
"Dy!" ucapnya lirih.
Haddy tidak mendengar. Kedua matanya terpejam begitu rapat.
"Haddy!" George menoleh sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan. Namun, tidak sedikitpun membuat Haddy sadar dan bangun.
"Ish!" Pada akhirnya George kesal, dan langsung menarik sebuah bantal yang ada di bawah kepalanya, kemudian ia timpukkan ke wajahnya.
"Aaa… tolong! Tolong!" jeritnya dengan kedua tangan menepuk-nepuk sisi kasurnya.
George mendelik. "Bangun Onta!" dengusnya kesal.
Haddy terdiam sembari memperjelas pendengarannya.
Setelah sadar, ia mendesah seraya menyingkirkan bantal tersebut dari wajahnya.
"George?" Dahinya mengkerut, menatap George dengan mata yang masih meremang.
George menunduk sedih.
Sesekali ia juga mengucek-ngucek matanya yang belum sepenuhnya jelas.
"Nyokap datang kesana?" terkanya sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.
George mendesah dengan raut wajah sedih. "Gue… gue sama Serly putus, Dy! Kita sudah putus!" jawabnya pilu.
What?
Haddy mengerutkan dahinya, tidak percaya sama apa yang barusan ia dengar. "Apa maksud lo?" Ia bergeser dan duduk disamping George.
George menunduk sedih.
"Yaudah. Kita tidur saja. Mungkin lo lagi ngigo!" Haddy kembali berbalik hendak tidur lagi, namun….
"Bantu gue, Dy! Gue gak mau putus sama Serly!"
"Ish." Haddy kembali dan menatapnya lama, "derita lo. Makanya jangan bucin-bucin kalau pacaran!" cibirnya.
George menoleh dengan sorot mata yang tajam.
"Udeh. Tidur sono! Gue ngantuk. Besok aja lo curhatnya!"
"Haddy!" George menatapnya dengan menampilkan puppy eyes.
"Caelah. Gue benci tatapan itu!" Kemudian ia turun dan melangkah menuju balkon kamarnya.
George tersenyum bahagia, lalu mengikutinya.
"Cerita! Kenapa lo bisa putus ama si Tante Bohay!"
George merungut mendengar panggilannya.
"Buru! Atau gue beneran tidur lagi," tegasnya.
George menghela nafas, lalu menceritakan semua kejadian dari awal… sampai ia mengakhiri hubungannya dengan Serly.
__ADS_1
Haddy berbalik, menatap George dengan senyuman yang lucu.
"Lo sadar gak, sih?" tanyanya setelah George selesai menceritakannya.
"Gue sadar. Tapi, gue kesel, Dy!"
"Itulah elo. Yang hanya memikirkan keinginan lo saja… tanpa mau memahami keinginannya!"
George terdiam.
"Coba lo bersabar sedikit saja… jarang lho ada cewek yang bener-bener mempertahankan kehormatannya!"
George kembali menghela nafasnya. Kemudian berbalik menatap Haddy lama. "Jadi, gue kudu gimana sekarang, Dy? Gue mau kembali lagi ama dia… tapi gue malu."
"Cih. Sejak kapan lo mikirin malu?"
George mendelik.
"Udeh. Terima aja derita lo!" ucapnya sambil terkekeh merasa lucu dengan kelakuan sahabatnya ini.
George hanya diam sambil menikmati angin malam yang berhembus masuk ke dalam bajunya.
"Makanya… kalau lo beneran cinta ama dia, jaga baik-baik. Jangan karena lo nafs*... dan saling mencintai… lo bisa seenaknya mainin sosor!"
George mencebik.
"Udah. Kita tidur aja dulu… besok gue bantu perbaiki hubungan lo!"
"Gue malu!"
"Haish! Lo cinta gak, sih? Kalau nggak… biar gue sikat!"
"Ish!" George langsung menatapnya tajam.
"Haha. Santai aja, George. Gue doyan, kok. Palagi dia masih gres. Xixi…." Haddy segera berbalik dan lari ke dalam kamarnya lagi.
"Teman si4lan!" George menggelengkan kepalanya pelan. Lalu menatap langit yang begitu gelap… tanpa ada satu bintang pun yang menghiasinya.
"Aku menyesal, Tan!" batinnya sangat sedih.
.
.
.
Note:
Maaf kemarin update🙏. Maaf juga typo, puebi dan lainnya. Semoga kalian menikmatinya.
Mohon dukungannya, semua! LIKE and COMMENT-nya saya tunggu.
Makasih🤗
.
.
Add fbku >>> Rhaniie
IG >>> rhanie_r
.
.
Si Galau
Si Sedih
Si Ayank🤭🤭🤭✌
Si othornya????? 🤔🤔🤔🤔
__ADS_1
Othornya mana😆