Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Hampir, Saja!


__ADS_3

"Ngapain, sih, lo kesini lagi?!" George menatap sahabatnya sinis.


Haddy mendelik. "Haelah. Pelit amat, sih, lo!" ucapnya seraya melangkah masuk begitu juga.


"Wei!" George menarik kaosnya sampai Haddy sedikit limbung dan memundurkan langkahnya lagi.


"Ape lagi, George? Gue ngantuk, nih! Huaaaaaa." Haddy mangap memperagakan orang menguap.


"Salam dulu napa? Maen masuk gitu aja. Gada sopan santunnya banget, sih, lo!"


Haddy memutarkan bola matanya malas.


"Buruan!" Tegas George meminta untuk mengulangi langkahnya lagi dari luar.


"Yaelah, George. Ini rumah bukan punya lo. Lagian, ya… gue udah biasa keluar masuk kayak gini. Kayak yang baru kenal aja, lo ama gue!" ucapnya seraya keluar lagi dari rumah tersebut.


"Oleh karena itu. Lo harus belajar. Karena gue bakal tinggal disini selamanya!"


What?


Haddy sedikit mendekatkan wajahnya dengan ekspresi terkejut.


"Biasa aja kaleee… mukanya. Jangan ke ondel-ondel gitu!"


"Anj*. Tapi, lo serius mau tinggal disini? Gak mau balik?"


George mengangguk. "Kenape? Lo gak mau punya sahabat kismin kayak gue sekarang? Yaudah… pergi sana!" usirnya seraya menutup pintu tersebut.


"Woi, lah. Sensian amat, sih! Gue gak bilang apa-apa juga. Nanya doang!"


George menghela nafas dan mempersilahkannya untuk masuk.


"Cih. Ini mah sama aja kek tadi gue nyelonong masuk."


George terkekeh. "Seenggaknya lo masih mau nurut ama gue."


"Caelah!" 


Mereka duduk bersama di atas kursi yang sama. Dengan pemikiran yang berbeda.


"Gue akan berusaha, Dy. Gue mau buktiin ama Bokap Nyokap gue. Terutama Nyokap. Kalau gue bisa hidup tanpa ada campur tangan dari mereka."


Haddy menoleh dengan ekspresi yang bukan George harapkan.


"Ternyata enak, ya, George?"


George mendengus sambil memutarkan kedua bola matanya. 

__ADS_1


Sedari tadi ia ngomong serius, ini malah ditimpali dengan curahan hatinya! Oh my god. Haddy malah ngajak gelut dengannya.


"Lo sebenarnya terkubur dimana, sih, Dy? Lama-lama lo gue lempar, hah, dari sini!" ucapnya ngegas.


Haddy terkekeh. "Seenggaknya lo masih diberi kenikmatan dalam situasi kek gini."


"Woi! Itu lo. Bukan gue!" George menoyor kepalanya cukup kuat.


"Hahaha… lo juga sama 'kan?" deliknya dengan senyum bangga diri.


George berdecak kesal. Bukannya ngasih solusi, ini malah ngawur kemana-mana.


"Dah, ah. Gue mau tidur. Udah malem." ucapnya sambil beranjak dari kursi tersebut.


"Ya, sama." Haddy berdiri dan mengikutinya untuk berbaring. 


Disana, mereka saling tarik-menarik bantal juga selimut yang hanya satu dan itu pemberian Serly tadi.


"Punya gue!" ucap George sambil menarik kembali dua benda tersebut. 


"Terus gue?" Haddy menariknya lagi.


George mendengus sambil menariknya kasar.


"Haelah. Bagi-bagi napa, George!"


"Gak! Ini pemberian pacar gue!" jawabnya ketus.


"Gak, Haddy. Kalau mau… noh, minta ama si Dewi. Dewi Perang … Dewi Durga dan Dewi-dewi lainnya."


"Ca-elah!" Haddy menatapnya tajam. "Dasar pelit!" ucapnya seraya membalikkan tubuhnya ngambek.


George sedikit merasa iba padanya. Ia menghela nafas dan memberikan bantal juga selimut tersebut dengan suka rela. 


Haddy berbalik menatapnya sendu.


"Cih. Lama-lama gue ulek juga tuh muka!" ucapnya seraya bangkit dari tidurnya.


Haddy mengerutkan dahinya. Ia melihat gelagat yang mencurigakan dari sahabatnya. "Mau kemana, lo?" tanyanya saat melihat George berdiri dan pergi dari sana, mendekati sebuah pintu yang ia tahu kalau itu adalah pintu kamarnya si Tante Bohay.


George nyengir sambil mengelus tengkuknya. Kemudian ia mengisyaratkan untuk diam dengan menempelkan satu jarinya di bibir.


"Dih. Pantesan lo ngasih ini ama gue. Ternyata ada orang dibalik selimut!"


George tertawa pelan. Kemudian berbalik menatap pintu itu lagi. Perlahan, ia mendorong pintu kamar tersebut.


"Ck. Lama, George! Masuk aja napa! Jangan ngendap-ngendap kek orang mau maling aja!" Haddy greget melihat sahabatnya yang lamban untuk masuk.

__ADS_1


"Sssttt…." George berbalik menatapnya tajam.


Haddy memutarkan bola matanya malas. Kemudian berbalik menghadap arah lain, dan pura-pura tidur.


Cklek.


Haddy menoleh saat mendengar pintu tersebut sudah tertutup kembali. "Ngambil ubi di kebon orang lo!" cibirnya sedikit terkekeh.


Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan sahabatnya itu. "George… George," gumamnya, dan memejamkan mata, benar-benar mau tidur kali ini.


Dan George? Ia melangkahkan kakinya sangat pelan. Pelan sekali. Sampai tidak ada bunyi sedikitpun dari suara langkahnya.


Ia mendekati sebuah kasur yang hanya cukup untuk berdua … dengan seorang Wanita cantik yang tengah tertidur pulas di atasnya.


Perlahan dia duduk di pinggirnya, dan menatap wajah Serly yang sangat tenang.


"Tante Cantik. Tidurnya pulas banget, sih!" ucapnya sambil membelai wajahnya lembut.


Nghhhh….


Serly menepis tangan George yang berada di pipinya merasa terganggu.


Glek.


George menelan ludahnya kasar. Ia segera menjauhkan tangannya dengan wajah cemas, takut Serly bangun dan melihatnya.


Tapi,


Hhhh….


Ia tersenyum lega saat melihat Serly ternyata malah mengubah posisi tidurnya,  memunggungi dirinya dengan mata masih terpejam.


"Ampir… aja. Gue pikir bakal bangun tadi," gumamnya sambil menaik turunkan tangannya di depan dada.


Sebelum berbaring, George menetralkan terlebih dahulu degup jantungnya yang berdebar dua kali lipat dari biasanya. Entah karena barusan, takut, atau karena hal lain.


Yang jelas, ia sangat senang saat sudah berbaring dan bisa memeluk tubuh Serly tanpa ada perlawanan sedikitpun. Meski itu hanya dari arah belakang. Tapi, itu sudah sangat membuatnya senang.


"Wangi." George mencium aroma tubuh Serly dalam-dalam.


Hhhh….


Ia semakin mengeratkan pelukannya, dengan kepala menyusup ke ceruk lehernya.


"Anget," gumamnya tersenyum manja.


Serly yang merasakan ada pergerakan aneh di belakang tubuhnya, juga terasa berat di bagian perutnya, serta angin yang berhembus di lehernya, langsung berbalik dengan kedua mata sudah terbuka lebar.

__ADS_1


"George?!"


____ Jangan lupa dukungannya😁😁🙏 ____


__ADS_2