
Serly mematung sambil memejamkan matanya. Ia terkejut saat George tiba-tiba menarik tangannya dan menyandarkannya di balik pintu.
"George. Apaan, sih!" ucapnya setelah membuka mata. Ia menatap wajah yang seinci lagi pasti akan menempel dengan wajahnya.
Cup.
Serly terkesiap. Ia celingukan, salah tingkah, takut ketahuan sama ibunya.
"Ibu sudah tidur, Tan!" Ucap George sambil meraih dagu Serly lembut.
Serly menghembuskan nafasnya. Ia tahu kalau George sedang berusaha mengalihkan perhatiannya.
"George. Aku harus lihat mereka. Aku tidak-" ucapnya terhenti kala George malah menc1um dan m3m4gut bibirnya.
"George." Serly mendorong dadanya pelan. Ia menatap wajah yang seakan tengah menutupi sesuatu darinya.
"Aku tidak akan membiarkan mereka berbuat mesum disini," ucapnya sambil menyingkirkan tangan George yang menumpu pada tembok, menghalanginya.
George menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian ia mengikuti langkah Serly menuju ruang tamu.
"Kemana mereka, George?" Tanya Serly heran tidak mendapati siapapun di ruangan tersebut.
George mendongak sambil celingukan. "Mungkin mereka sudah pulang, Tan!" Ia tersenyum lega dan mensejajarkan tubuhnya dengan Serly.
Serly melirik George dengan kedua tangan melipat di dada. "George?"
George menoleh sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Apa yang mereka lakukan, George?"
George menggeleng.
"Jawab, George. Aku tidak mau mereka menyesal akhirnya."
George menghembuskan nafasnya panjang. Kemudian ia duduk dengan melipat kedua tangannya di belakang kepala. "Mereka tidak melakukan apa-apa, Tan. Mereka cuma c1uman biasa. Sama kek kita tadi."
Serly mendelik tidak percaya. "Jangan bohong, George!" ucapnya seraya mendaratkan b0kongnya di samping George.
George menoleh sambil tersenyum. "Palingan lebih dikit doang, Tan. Aku tahu Haddy tidak seburuk itu… dia pasti tahu sama batasannya."
Serly menggerakkan bibirnya sedikit khawatir.
"Tante tenang aja. Jika itu benar-benar terjadi… Haddy pasti akan bertanggung jawab, kok."
Serly menghembuskan nafasnya, dan menatap George sedikit lebih lama. "Bukan soal itu. Aku takut-"
"Tan. Orang tua Haddy tidak sekejam mamaku. Mereka baik." George menyela ucapannya, tahu kerisauan hati pacarnya.
Serly menatapnya lekat.
"Hanya mamaku yang lupa kalau dia manusia." George bicara dengan ekspresi kesal terlihat jelas di wajahnya.
"George. Gak boleh bilang seperti itu. Dia mamamu. Yang seharusnya kamu berbakti padanya."
George tidak menggubris. Ia terlihat bungkam dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Tak lama, ia menghembuskan nafasnya dan menatap Serly dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Tan. Tolong carikan rumah yang bisa aku tingalin disini," pintanya membuat Serly heran.
"Ngapain, George! Jangan aneh-aneh, ah," ucapnya sambil tersenyum lucu.
George menggeleng. "Aku serius, Tan. Aku ingin belajar untuk mandiri… dan mencari uang sendiri."
Serly menatap wajahnya lekat, mencari keseriusan dalam ucapannya.
"Aku tidak ingin terus bergantung pada keluargaku."
Serly menarik sudut bibirnya. "Apa kamu yakin ingin merubah kemewahanmu menjadi orang biasa? Apa kamu bakal kuat hidup seperti kami disini?"
George tampak merenung, tapi tak lama ia mengangguk yakin.
"George. Hidup mandiri itu tidak semudah sama apa yang kamu pikirkan. Banyak yang harus kamu perjuangkan. Salah satunya mencari uang."
George mengangguk paham. "Aku tahu. Maka dari itu, aku ingin mencobanya sedari dini… supaya nanti setelah kita menikah… aku bisa menafkahi Tante lahir batin."
Serly terharu mendengarnya. "Tapi, kamu yakin ingin mengeluarkan keringat mencari uang recehan?"
George tersenyum. "Jangan hanya Tante yang berjuang… aku juga ingin membuktikan pada Mamah. Bahwa cinta kita kuat. Kita tidak akan bisa dipisahkan. Meski dengan harta dan jabatan sebagai imbalannya."
Kedua bola mata Serly berembun. "Makasih George karena sudah mencintaiku setulus ini," ucapnya sambil berhambur pada pelukannya.
George tersenyum dan membalas pelukannya. "Sekarang kita tidur… besok pagi aku harus sekolah," ucapnya sedikit menjauhkan tubuh Serly darinya.
Serly mengangguk.
Cup.
"Good nigt, Tante. Have a nice dream!" ucapnya dengan senyum manis.
George terkekeh. "Gak c1um juga, Tan?" tanyanya sambil mendekatkan wajah.
"Nih c1um!" Serly menempelkan telapak tangannya seraya berdiri, dan berlalu dari hadapan George yang tersenyum-senyum.
"Bocah! Saranghae!" gumamnya mengulang perkataan Serly.
.
.
Ia membaringkan tubuhnya di atas sebuah karpet yang sudah tersedia disana.
Pandangannya lurus ke arah sebuah TV yang ada di ruangan itu juga. "Apa pun… aku akan berusaha untuk mencobanya," gumamnya dengan kedua tangan melipat di bawah kepalanya.
Tatapan George beralih pada seseorang yang keluar lagi dari dalam kamar.
"Kenapa, Tan. Mau tidur bareng, ya?" George menyipitkan sebelah matanya menggoda Serly yang keluar dengan sebuah bantal juga selimut di dalam pelukannya.
Serly tidak menggubris. Ia mendekat dan menaruh bantal tersebut di bawah kepala George. Kemudian menyelimutinya sampai ke dada.
"Dih. Kirain Tante mau tidur bareng aku," ucapnya sambil berbalik menatap wajah cantiknya Serly.
"George. Pikiranmu!" Ucap Serly sambil menjentik jidatnya.
"Itu pinter, Tan!"
__ADS_1
"Ish!" Serly mendesah seraya berdiri, namun George malah menarik tangannya dan membuat ia terhempas ke atas tubuhnya.
"George!" Serly memekik pelan, kemudian memukul dadanya manja.
George tersenyum sambil memeluknya erat. "Kapan kita bisa seperti ini, ya, Tan!" Ia memejamkan matanya menikmati hangatnya tubuh Serly.
"George. Udah, ah. Tidur! Besok kamu harus sekolah… aku juga harus ke toko." Serly mendorong-dorong dada George pelan.
George menghela nafas dan melepaskan pelukannya. "Tapi c1um dulu, ya?" pintanya sedikit manja.
"George!"
"Ayolah, Tan. Dikit… doang," ucapnya memanjangkan kata 'dikit'.
Serly menghembuskan nafas kasar. Kemudian mendekatkan wajahnya.
George yang melihat itu langsung mengambil ancang-ancang untuk melanjutkannya. Namun,
"Aku tahu kamu pasti akan curang, George!" Serly berdiri dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
George menatapnya kecewa. "Gagal!" gumamnya lesu.
Serly terkikit di dalam kabar senang lantaran bisa mengerjai pacarnya yang pintarnya dalam bidang lain. Bukan dalam semua mata pelajaran di sekolah.
"George, George," gumamnya sambil berbaring dan menarik ujung selimutnya sampai menutupi dadanya.
Keduanya terlelap dengan ekspresi yang berbeda. George kecewa, dan Serly sebaliknya.
*****
Tepat pukul 10 malam,
Tok…, tok…, tok….
George mengerjap-ngerjapkan matanya sambil melirik sebuah pintu yang tidak jauh dari sana.
Terlihat ada sebuah bayangan seseorang dari luar sana, dan George bergegas mengeceknya. Takut itu seseorang yang akan menjarah semua harta yang dimiliki keluarga Serly. Namun,
Pikiran buruknya terhempas saat melihat sebuah senyum mengerikan dari luar sana.
George langsung membuka pintu tersebut dengan kedua tangan berkacak pinggang menatap orang tersebut.
.
.
.
.
KOMEN juga LIKE-nya, ya?
supaya aku semangat nulisnya
___ Terima kasih ___
Typo? OMG… i'm so' sorry🤭🤭. Ntar aku koreksi, ya?😁😁
__ADS_1
Makasih atas krisarnya😘😘