
"George! Sini! Kita makan dulu!" Ajak Ibunya Serly dengan lembut membuat hatinya George menjadi hangat. Ia bisa merasakan sedikit perhatian dari seorang Ibu padanya.
"Ah, iya, Bu! Sebentar!" Timpal George dan langsung menyimpan benda pipih yang sedari tadi ia gunakan di atas meja.
Serly juga yang sedang menonton TV langsung mematikan siaran itu, dan ikut bergabung ke dapur.
"Ibu masak apa?" Tanya George antusias.
"Hanya ini saja!" Jawabnya sedikit sedih karena tidak bisa menyajikan makanan yang lezat-lezat buat anak orang ternama.
"Gak papa, Bu! Aku suka, Kok!" Timpalnya mengetahui kesedihan Ibunya Serly, "Ini lebih dari cukup!" Tambahnya lagi sembari duduk lesehan.
Serly hanya diam melihat gerak-gerik George yang berbinar-binar melihat makanan yang ada di hadapannya.
"Ayok!" Ajak George pada semua. Ia sudah gak sabar ingin mencicipi masakan dari tangan seorang Ibu.
"Silahkan, Nak! Silahkan!" Katanya.
George langsung membalikkan satu piring yang ada di hadapannya dan langsung mengisi penuh dengan nasi dan lauk pauk yang hanya seadanya saja.
"He, maaf, ya! Porsi makanku banyak."Katanya merasa malu.
"Gak papa, gak papa, Nak! Kalo masih mau, tinggal nambah lagi. Gak papa, kok!" Seru Ibu.
Serly tersenyum sambil menundukkan Kepalanya sedikit.
Mereka bertiga makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan.
"Alhamdulillah!" Ucap George sembari mengelus perutnya kenyang.
Ibu dan Serly membereskan bekas makan mereka terlebih dahulu.
"Biar Ibu aja yang cuci, kamu temenin, Nak George aja." Titah Ibu.
"Hm." Serly mengangguk dan melangkah mendekati George yang masih duduk berlesehan di atas lantai.
"Kenyang?" Tanya Serly sembari duduk di hadapannya.
"Banget, he." Jawabnya disertai senyuman.
"Hm, kita ke dalam lagi, yuk!" Ajak Serly seraya berdiri.
George mengangguk.
Mereka kembali keruang tamu, dan mereka duduk di kursi berdua.
"Tan! Kemana Bapak, Tante?" Tanya tiba-tiba.
"Hah." Serly belum ngeh, "Oh. Bapak ku udah gak ada." Jawabnya sembari menunduk sedih.
"Hm, maaf, Tan! Aku gak bermaksud membuat Tante sedih!" Katanya merasa bersalah.
"Gak papa." Jawabnya ceria kembali.
"Tapi aku salut sama keluarga,Tante! Sederhana namun sangat hangat." Pujinya merasa iri.
"Hm."
"Aku ingin merasakan keluarga yang seperti ini." Gumamnya lirih.
Serly mengeluskan tangannya di punggung, George.
"Sabar! Mungkin mereka khilaf!" Ujar Serly menghibur.
George menundukkan Kepalanya, "Mana ada khilaf selamanya?!"
"Belum, mungkin mereka masih banyak pekerjaan yang gak bisa di tinggal!" Timpal Serly lagi.
"Iya, Tante benar. Pekerjaan mereka gak bisa di tinggal. Sedangkan aku mereka bisa tinggalkan." Jawabnya salah mencerna.
__ADS_1
"Eh, bukan itu maksudku."
"Itu emang kebenarannya. Pekerjaan jadi prioritasnya." Katanya sedih.
Serly jadi serba salah. Maksud hati ingin menghibur, eh ini malah salah meng-artikan.
Serly hanya bisa menghiburnya dengan menyemangatinya lewat elusan tangannya.
Kringg....
Handphone yang terdapat di atas meja menyala dan berdering nyaring.
"Siapa?" Tanya Serly sambil melihat layar Hp milik George.
"Haddy!" Jawabnya dengan raut wajah sudah berubah.
George langsung mengangkatnya.
"Apa, Lo! Ganggu aja!" Ucap George langsung nge-gas, sampai Serly ikut terkejut.
"Is, apaan, sih kamu! Maen nyolot aja." Kata Serly merasa kesal sendiri.
"He, maaf, Tan!" George nyengir merasa lucu.
"Dengerin tuh, G-E-O-R-G-E !" Ucapnya dari balik Hp dengan meng-ejaan setiap hurup namanya.
"Hiya, SD, Lo!"
"Yaelah...."
"Mau ngapain, sih?"
"Gue mau wasitin kalian pacaran!"
"Wei! Gue gak perlu wasit SEMPRUL!" Katanya sedikit berteriak.
"Ya, kali aja kalian mau, Nganu!" Katanya membuat George jadi malu sendiri.
"Yaelah, George! Jangan sok polos, Lo!" Serunya.
George langsung mematikan loadspeakernya dan berlalu meninggalkan Serly sendirian.
"Masa anak Bocah udah tahu yang gituan?" Pikir Serly merasa heran dengan bahasan mereka.
Sementara George, ia berdiri di luar rumah dengan terus ngedumel dengan lawan bicaranya.
Sekian lama mereka mengobol, dan entah berapa judul yanv mereka obrolkan membuat Serly jadi kesal. Ia langsung beranjak dari kursi yang ia duduki dan langsung menghampiri George di luar.
"Lo atur aja semuanya terserah, Lo! Yang penting semuanya harus beres besok, ok!" Seru George belum menyadari akan adanya Serly di belakangnya.
"Ok, Gue siapin besok. Tapi beneran, Lu gak akan pulang?" Tanyanya dari sebrang.
"Hh, Gue dah yakin. Gue gak akan pulang sebelum benar-benar Mamih dan Papih Gue nyariin Gue. Gak cuma nanya-nanya doang tanpa mencari!" Jawabnya sudah yakin 100% dengan tekadnya.
"WOK, deh! Besok aku antar kesana apa kemana?"
"Ehem...."
Serly berdehem sengaja menyadarkan George.
George langsung berbalik, "Eh, Tante! Sejak kapan disitu, Tan?" Tanyanya gelisah.
"Hm, udah dari tadi." Jawab Serly memancing reaksi George.
"Oh. Bentar, ya, Tan!" Jawabnya santai.
Serly menganga. Bukannya terkejut atau gimana, George malah sesantai itu.
Yang tadinya Serly curiga, kini merasa percaya kembali. Kalo George gak menutupi sesuatu hal darinya.
__ADS_1
"Besok aku share-lock, Lo tinggal kirim ke situ." Titahnya pada Haddy.
"Oh, ok."
Tut...
Panggilan langsung di tutup oleh Haddy dari sana.
"Tante, nunggunya lama, ya?" Tanya George merasa bersalah.
"Gak papa, kok. Kalian ngomongin apa, sih? Serius amat!"
"Enggak. Tante juga besok akan tahu." Jawabnya santai.
Mereka masuk kembali kedalam rumah.
"Hari sudah sangat larut, mari kita tidur!" Ajak George lembut.
"Hm, ayok!" Balas Serly sambil tersenyum.
Mereka berpisah di antara dua pintu yang bersebelahan.
Sebelum masuk, Serly kembali berbalik dan meraih tangan George
"Kamu tidur di kamar ini, ya. Maaf jika tak senyaman kasur milikmu." Kata Serly.
"Gak papa. Aku bisa tidur dimanapun dan bagaimanapun." Jawabnya hangat.
Serly melepaskan Tangan George pelan-pelan.
"Good night, Baby!" Katanya dengan panggilan alay.
Serly tersenyum, "Night too, Hunny!" Balas Serly di barengi dengan nyengiran kuda.
"Moga mimpi indah!
"Sama-sama."
Mereka saling melepaskan tangan mereka dengan perlahan.
"Muahhh...." Katanya dengan bibir ia ponyongkan.
Serly jadi tersipu malu. Pipinya merona merah.
Mereka saling menyapa sebelum tidur sampai puas.
Serly langsung masuk kedalam kamar dengan deru napas yang tak beraturan, "Astaga! Kenapa sampe kayak gini!" Gumamnya sembari mengelus dada.
Serly langsung menjatuhkan badannya ke atas tempat tidur dengan posisi tengkurap, sembari membayangkan hal barusan.
"Ah, gimana besok! Aku jadi malu!" Katanya sembari menutup wajahnya dengan bantal.
Di kamar lain,
"Manis! Seperti cake yang kemarin ia bawa!" Gumamnya membayangkan hal yang sama.
George tersenyum senang. Ia mendudukan bokongnya di atas kasur yang tergelar di bawah lantai.
George menekukkan kedua lututnya dan merangkulkan tangannya melingkari kedua lututnya.
"Ku yakin dia masih baru!" Tambahnya sembari tersenyum-senyum menarik.
"Apapun akan ku perjuangkan untukmu." Tekadnya kuat.
George menjatuhkan badannya ke atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang kusam, "Aku rela tinggal disini berapa lamapun. Aku bisa merasakan hangatnya keluarga yang utuh." Gumamnya merasa senang dengan sambutan-sambutan hangat dari Ibunya Serly dan perhatian-perhatian kecil yang ia berikan.
Yang jelas, George senang bisa terus berada di samping Wanita kesayangannya.
Hayoooo
__ADS_1
Apa yang mereka pikirkan, cobaa???