
Serly meraih sebelah tangan George yang sedikit berkeringat.
Alisnya menaut heran. Dia menatap lekat wajah George yang seperti sedang gelisah.
"Kamu baik-baik saja, George?" tanyanya sambil menangkupkan sebelah tangan di pipi George.
George menggeleng cepat. "Sudah siap?" ucapnya gugup.
Serly mengangguk dan menurunkan tangannya.
Mereka berbalik,
Prang!
Tanpa sengaja ujung dres Serly menangkup dan menarik gelas yang berada di atas meja.
Keduanya terperanjat sambil menoleh ke arah belakang.
"Ya ampun!"
George maupun Serly segera berjongkok bersama-sama. Tangannya saling menyentuh gelas yang untungnya tidak pecah ataupun retak.
Serly termangu menatap tangan George yang menyentuh ujung tangannya.
Beda halnya dengan George. Dia tersenyum menyungging dengan mata tertuju pada wajah Serly yang sedikit merona.
"George." Serly menyingkirkan tangannya, lalu meraih gelas tersebut.
"Bisa ambilkan lap, George!" titahnya saat melihat ada air yang menggenang di lantai.
__ADS_1
George mengangguk dan segera bangkit dari sana menuju dapur.
Tanpa menunggu lama, George sudah kembali dengan sebuah lap ditangannya.
"Nih, Tan," ucapnya seraya mengulurkan lap tersebut ke hadapan Serly.
Serly menerimanya dengan senyum yang merekah. Kemudian ia kembali menunduk dan menggosok-gosokkan lap tersebut pada air yang menggenang.
Entah itu karena otak George yang benar-benar sudah penuh dengan 21+, dia tidak sengaja melihat b3lahan d4d4 Serly yang sangat rapat juga ketat dan mulus.
Dua tiga kali George mengedipkan matanya, memastikan itu adalah nyata.
"Ya Tuhan, godaan apa ini? Kenapa aku harus melihatnya," batin George tanpa mau sedikitpun mengalihkan tatapannya dari b3lahan yang sangat ingin sekali dia menyentuhnya.
"George. Kamu bisa bantu aku buat angkat mejanya. Ada air sedikit di bawah meja," ucapnya sambil menyebelahkan rambutnya ke arah kiri. Sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang begitu mulus dan ditumbuhi bUulu-buUlu halus di belakangnya.
Membuat George semakin kelabakan.
George mengangguk pelan. Perlahan dia menggeserkan meja tersebut.
"Fokus, George. Jan liat itu terus," batinnya, berusaha mengalihkan tatapannya ke sembarang tempat, namun dia tidak bisa.
George terus menatap benda tersebut yang seperti melambai-lambai memanggil tangannya untuk bergerak.
"Tahan, tahan," gumamnya sambil mengeratkan r3m4san kedua tangannya.
"Apa, George? Kamu gak kuat?"
Lagi-lagi Serly seakan terus menguji pikirannya. Dia memiringkan kepalanya dan otomatis rambutnya ikut menjuntai, yang semula menutupi satu belahan tersebut, kini terlihat kembali.
__ADS_1
"Astaga. Apa aku akan sanggup menahannya?" George menelan ludahnya kasar.
"George?" Serly berdiri dan melangkah mendekatinya.
"Ah, iya, apa, Tan? Apa sudah mengepelnya?" George kikuk. Dia menatap Serly sekilas, lalu menunduk, mengecek lantai yang ternyata sudah kering.
"Kamu kenapa, sih? Dari tadi bengong mulu," ucapnya dengan sebelah tangan mengambang memegang lap yang cukup basah.
"Gak papa. Kalau gitu, yuk!" ajaknya seraya meraih tangan Serly.
"Bentar. Aku simpan ini dulu ke dapur. Sambil cuci tangan," jawabnya melepaskan pegangan tangan George.
Kemudian dia berlalu menuju dapur dan kembali dengan wajah yang ceria.
Mereka saling lempar senyum dan melangkah bersama-sama keluar dari tersebut, berjalan-jalan santai mengitari kampung sambil bersenda gurau, dan mencari rumah yang bisa disewa oleh George.
"Tan. Kalau aku sudah tinggal disini, apa aku boleh setiap hari ajak temen kesini?"
Serly menghentikan langkahnya di depan George. "Ya, tergantung. Temennya laki atau perempuan?" tanyanya sedikit sinis.
"Ya, laki lah. Aku gak punya temen perempuan!" kilahnya setengah jujur.
Serly mendelik malas. Kemudian melanjutkan langkahnya, meninggalkan George yang keheranan.
"Aku gak percaya kamu nggak punya temen perempuan, George. Dengan parasmu yang sempurna … aku tidak mempercayainya!"
George tersenyum dan segera melangkah menyusul langkahnya. "Berarti, aku ganteng dong?" ucapnya sangat percaya diri dan bangga.
Serly mendesah. Dia tidak menghiraukan tatapannya yang sudah sangat kege'eran.
__ADS_1
"Bahkan kaca pun akan minder jika melihatmu," ucap Serly seraya berhenti di depan saung Pos Ronda.
George terkekeh. "Tante memuji atau menyindir, sih? Kok, kek berbanding terbalik dari yang tadi," ucapnya sambil ikut berteduh. Sebab, sudah ada rintik-rintik hujan yang sebentar lagi mungkin akan membesar.