Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Sangat Mencintai


__ADS_3

"Serly marah ama gue, Dy. Dan gue bingung harus minta maafnya tuh kek gimana?" ucapnya frustasi.


Haddy tersengeh sambil menepuk pundaknya pelan. "Ape yang lakuin, Bro. Kok dia ampe marah?" tanyanya bingung.


George menghela nafas lesu, "gue refleks. Keenakan juga, sih," ucapnya jujur. Membuat Haddy tertawa cukup keras, dan langsung mendapat senggolan kuat dari George.


"Astoge. Sakit, George."


"Makanya. Kalau ketawa tuh pelan!"


Haddy mendelik. "Dimana-dimana… yang namanya ketawa itu kenceng, dodol! Nyengir baru pelan!"


George meliriknya tajam. 


"Caelah. Terus, terus? Lo bablas 'kan?" tuduhnya merasa yakin.


George menggeleng. "Gue gak kayak lo. Yang maen tancap gas gitu aja."


Haddy nyengir sambil menggaruk tengkuknya.


"Gue cuma pegang doang. Itu juga sebentar. Keburu dia sadar," ucapnya sangat jujur.


Haddy kembali tertawa, tapi kali ini segera dia tahan. "Cuma gitu? Dan Tante Bohay sampe marah?" tanyanya tidak percaya.


George memandangnya penuh kecurigaan. "Jan bilang lo suka maen lebih dari itu?" tuduhnya sengit.


Haddy menghela nafas panjang, lalu melangkah menuju kursi yang tadi.


"Sadar, oy. Kita ini masih sekolah!" ucap George mengingatkannya.


"Yaelah, George. Mangsanya juga rela. Ya, tunggu apalagi?" jawabnya sembari berbaring.

__ADS_1


"Astaga, Dy. Eling!"


Haddy terkekeh, geli mendengar ucapan sahabatnya itu. "Eling, eling. Lo juga kagak eling!"


"Weh. Gue serius, Dy. Lo ingat status kita apa."


"Maka dari itu. Gue mau menikmatinya!"


George berdecak, lalu meluruhkan tubuhnya, berbaring di atas kursi. Tatapannya kosong ke arah langit-langit rumah tersebut.


"Gue bingung, Dy. Satu sisi gue bener-bener cinta mati ama dia… dan mau banget gue perjuangin. Tapi," George menggantungkan ucapannya.


"Udeh. Gue nanti bantu sebisa gue. Asal lo beneran mau seriusin hubungan lo ama dia."


George mengangguk.


"Gue gak mau perjuangan gue bantuin kalian berdua … nantinya malah jadi sia-sia."


"Gak bakal, Dy. Gue sekarang bener-bener mencintainya. Gak main-main lagi."


George terkekeh sambil membayangkan masa lalunya yang benar-benar masa bodo.


"Eh, iya. Gue semalem dapet informasi. Kalau sekitar ada rumah kosong … kalau lo mau-"


"Gue mau, Dy. Dimana itu?" potongnya cepat.


Haddy mengedikkan bahunya tidak tahu.


"Ck. Lo dapet informasi setengah-setengah banget, sih!"


"Ye, 'kan, gue mau nanya lo dulu. Kalau lo setuju… gue tanyain lagi sama tuh Bapak-bapak."

__ADS_1


George mengangguk. "Besok pagi kita tanyain. Sekalian gue mau nyari lapak buat usaha gue."


Haddy mengangguk dengan mata yang sudah terpejam, dan siap untuk menemui mimpi indahnya yang tertunda. Namun,


Kukuruyuk….


George juga Haddy langsung mengedarkan tatapannya menatap ke arah luar rumah.


"Yaelah. Gara-gara lo, George. Gue jadi gak tidur semalaman ini!" gerutunya mendesah kesal.


George terkekeh. "Emangnya lo ngapain, sih, disono? Bukannya tidur!"


"Pak Rt lagi merindu. Gue abis di unyel-unyel."


Bwahahaha….


"Segitunya?"


"Hm. Mimpi basah tuh Pak Rt. Merinding gue dic1umin sama cowok."


Lagi-lagi George tertawa membahana, membuat seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka berdua semakin kesal.


"Bukannya nyari cara buat bujuk rayu … ini malah sibuk bercanda! Dasar Bocah!" gumamnya seraya naik kembali ke atas kasur.


Dia berbaring dan menarik selimutnya sampai menutupi kepala.


Bibirnya seketika melengkung dengan pipi yang sedikit memanas.


"George. Aku juga sangat mencintaimu," batinnya menghangat kala mengingat satu percakapan mereka tadi.


Dia menghela nafas dan meraba d4d4nya yang tadi tidak sengaja George is4p dan r3mas.

__ADS_1


"Semakin lama kita pacaran… semakin lupa juga kita akan sebuah batasan."


Serly menghembuskan nafasnya lirih. "Aku harus secepatnya bisa mengambil hati mamanya George," gumamnya bertekad kuat.


__ADS_2