
George melajukan mobilnya sampai ke sebuah gang yang biasa ia kunjungi. Di sana ia berhenti dan memarkirkan mobilnya sembarangan.
Brakkk….
Sebuah pintu mobil ditutup sangat kencang, sehingga mengejutkan dua orang yang tengah bersantai di sebuah warung pinggir jalan, dan itu ternyata Haddy dan Dewi.
"George!" Haddy memperjelas penglihatannya, "ah iya. Itu, George!" gumamnya seraya berdiri.
"Kemana?" tanya Dewi seraya meraih tangannya lembut.
"Bentar, Ayang. Aku mau samperin George dulu," ucapnya lebih lembut darinya.
"George?"
Haddy mengangguk. Lalu, ia menunjuk seseorang yang tengah melangkahkan kakinya begitu terburu-buru.
"Eits!" Haddy segera menghadangnya, "lo mau kemana, George?" tanyanya seraya melebarkan keduanya.
"Ish! Minggir, lo! Bukannya bantuin. Lo malah asyik pacaran!" ucapnya seraya menepis kuat tangan Haddy yang menghalanginya.
"Hei. Gue sedari tadi bantuin lo."
"Bantuin apaan? Gue telpon aja lo gak angkat!" ucapnya sengit.
"What? Gak diangkat? Serius, lo?" tanyanya tidak percaya.
George mendelik. Ia menatap Dewi sekilas. "Kalau gak percaya … lo liat aja … tuh gue panggil lo berapa ratus kali," ucapnya malas.
"Bentar-bentar, George. Tadi gue kasih handphone gue ke Tante Bohay itu. Gue pikir dia angkat telepon dari lo?" ucapnya bingung sendiri.
"Tante Bohay? Serly maksudnya?"
Haddy mengangguk.
Tanpa berpikir dan bertanya lagi, George langsung melangkahkan kakinya menuju rumah Serly.
Sesampainya disana, ia mengetuk pintu dan kemudian masuk setelah ibunya Serly membukakan pintu untuknya.
"Ser! Ada tamu, nih!" ucap ibunya memberitahukan kedatangan George.
"Baik, Bu. Sebentar!" jawabnya seraya membuka pintu kamar sembari mengikat rambutnya. Namun,
Deg!
Detak jantungnya serasa berhenti. Rasa sakit yang belum kunjung hilang itu kini teringat kembali.
Ia mematung diambang pintu sambil terus menatap George dengan perasaan kecewa dan sedih.
"Tante-" George langsung berdiri dan mendekati Serly yang enggan untuk melanjutkan langkahnya.
"Kalau begitu … Ibu kebelakang dulu, ya?" ucapnya dan melenggang pergi.
Tinggallah mereka berdua yang saling diam tanpa kata sedikitpun. Sampai pada akhirnya Serly menitikan air matanya kesedihannya, dan itu membuat hati George sangat terluka.
"Maafkan aku, Tante!" ucapnya ikut menitikan air matanya juga.
Serly tidak menjawab. Ia malah menundukan kepalanya semakin dalam.
George meraih kedua belah tangan Serly lembut. "Maafkan atas semua perlakuan Mamah ku, Tan?" ucapnya tulus.
Serly mendongak dengan beberapa tetesan air matanya masih meluncur.
__ADS_1
"Maaf." George langsung menarik kepala Serly lembut, lalu mendekapnya hangat. Kemudian duduk bersama-sama di kursi yang tadi George tempati.
"George." Serly mendongak menatap wajahnya dalam.
"Jika ini hanya akan membuat Tante terluka… Aku tidak apa-apa jika Tante ingin mengakhiri hubungan ini," ucapnya sambil menundukan kepalanya sedih.
Serly terdiam selama beberapa detik. "Apakah kamu sudah menyerah, George?" tanyanya lirih.
"Aku tidak sanggup jika harus setiap saat melihat air mata ini mengalir," ucapnya seraya menghapus air mata Serly menggunakan jempol tangannya.
Serly melepaskan pelukannya. Ia menatap manik mata yang selama ini berhasil mencuri perhatian.
"Maaf!" George kembali mengatakan kata itu lagi.
"Mungkin karena masih awalan, George. Jadi, aku masih belum terbiasa dengan ini."
"Tetapi hatiku sakit, Tan. Aku tidak akan bisa melihat air matanya ini terus mengalir. Apalagi gara-gara aku dan Mamaku."
"George."
"Jika ini adalah jalan satu-satunya yang akan membuat Tante bahagia … Aku hanya bisa mendukungnya saja."
"Dan itu akan membuatku semakin sedih." ucapnya seraya menempelkan sebelah tangannya di pipi George. Tatapannya penuh ketulusan padanya.
"Aku akan terus memperjuangkan cinta kita, George."
George terharu. Air matanya yang terbendung kini meluncur membasahi pipinya yang putih.
"Kita berjuang sama-sama." ucapnya sangat yakin.
George mengangguk. "Makasih banyak, Tan. Makasih banyak karena masih mau berjuang bersamaku."
Serly mengangguk. "Aku yakin … sekeras apapun hati seseorang … pasti akan kalah oleh kesabaran."
Serly tersenyum. Mereka saling menggenggam tangan saling menguatkan.
******
Keesokan harinya… George terbangun dengan mata yang sembab. Begitu juga dengan Serly.
Mereka tertawa saat melihat wajah mereka masing-masing.
"Aku malu, George," ucapnya seraya menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
George terkekeh. "Gak papa, Tan. Itu malah unik bagiku," jawabnya seraya menyingkirkan tangan Serly dari wajahnya.
Serly menunduk. Ia malu untuk menatap George yang malah memujanya. "Aku mau, mau, mau keluar dulu, George. Ada sesuatu yang harus aku beli." ucapnya seraya melepaskan tangan George yang memegang erat.
George mengangguk sambil terkekeh geli. Ia membiarkan Serly dari hadapannya.
"Nak!" Ibunya Serly datang dengan secangkir teh hangat di tangannya.
"Iya, Bu." George menoleh.
"Serly kemana?" tanyanya sambil meletakan gelas tersebut.
"Oh. Tante keluar, Bu. Katanya ada yang harus dibeli," jawabnya jujur.
Ibunya mengangguk. Ia mempersilahkan George untuk menikmati teh buatannya. Kemudian ia pamit kembali.
George berdiri, dan meraih teh tersebut, lalu ia bawa keluar rumah.
__ADS_1
"Lah?" George meletakkan teh tersebut di atas meja terlebih dahulu. Kemudian ia melangkah mendekati sebuah motor yang masih ada disana.
"Haddy gak balik," gumamnya seraya menyentuh motor tersebut.
"Hai, Bro!"
George langsung menoleh kala mendengar suara sahabatnya. "Lo gak balik?" tanyanya bingung.
"Gak!" jawabnya santai sembari duduk di atas motornya.
George memperhatikannya lekat. Ia melihat ada banyak tanda merah di lehernya.
"Apa, George?" Haddy bingung melihat ekspresinya.
"Lo abis ronda?" tanyanya sinis.
Haddy menautkan kedua alisnya. "Ronda? Ronda apaan?" jawabnya belum ngeh.
"Itu. Lo sampe di gigit gitu sama nyamuk," sindirnya.
"Nyamuk?" Terlihat Haddy berpikir, dan tak lama ia nyengir sedikit malu-malu.
"Punya pacar kek alat hisap!" sindir George lagi.
"Bilang aja lo mau?" ucapnya membalikkan fakta.
George menatapnya sinis. "Gue masih waras! Gak kayak lo! Edan!"
Haddy malah mengejeknya. Ia turun dan ikut duduk bersamanya di teras rumah. "Kalo Tante Bohay itu mau? Apa lo gak bakal tertarik?" tanyanya sembari memperhatikan seorang Wanita yang melangkah ke arah mereka berdua.
"Tentu!" jawab George nanggung.
"Tentu apa?"
"Tentu gue mau. Hahaha…." Mereka tertawa sampai menimbulkan kecurigaan Serly.
"Kalian lagi bahas apa, sih?" tanyanya sambil menatap lekat leher Haddy yang merah-merah.
"Lagi bahas sapi diperah," jawab Haddy mengada-ngada.
"Sapi?"
"Hooh. Sapi. Susu sapi yang diperah." jelasnya.
Serly mengangguk. "By the way. Si Dewi ganas juga, ya?" sindirnya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Bwahahaha….
George tertawa mendengar ucapan pacarnya. "Noh. Ganas katanya."
"Biarin. Daripada lo?"
"Gue masih eling. Masih ingat batasan, Bro!"
"Halah. Mangsa di depan … lo pasti sikat juga."
"Kok tau?"
"Karena lo ama gue 11 12. Lo 11 mukanya … gue 12 gantengnya."
"Anj*r. Lo penyok. Gue keren."
__ADS_1
"Lo buntet. Gue panjang," timpal Haddy dan langsung tertawa terbahak-bahak. Seakan George telah melupakan kepedihan cintanya.