
Seperti biasa, Haddy kembali Ojek cinta mereka berdua.
Dia melajukan motornya sedikit cepat. Sampai pada akhirnya mereka tiba di depan toko Serly yang masih dibuka.
Serly segera turun dan di susul oleh George juga Haddy.
"Kasih obat, Bro!" ucap Haddy dan masuk duluan ke toko Serly.
George menghela nafas dan menatap Serly yang terus menundukkan kepalanya.
"Ngapain, sih, Tante kesana? Tanpa ngabarin aku lagi?" tanya George sedikit kecewa.
Serly tidak menjawab. Dia terus menunduk sedih.
"Tan. Berjuang it's oke. Tapi, ini belum saatnya. Mamah masih memendam amarah padaku!"
Serly menitikan air matanya.
George menghela nafas dan menarik kepalanya, membawanya ke dalam pelukan.
"Maafin aku, George," ucapnya sambil terisak di dalam pelukannya.
George mengangguk. "Kita tunggu saatnya tiba, Tan. Supaya Mamah bisa menerima kita seutuhnya."
Serly mengangguk kecil. Kemudian mendongak menatap manik pacarnya dalam.
Sebelah tangan George terangkat, dan menyeka semua air mata di pipi Serly. "Maafkan semua perlakuan Mamaku, Tan," ucapnya sambil mendaratksn satu ciuman di keningnya.
Serly tersenyum dan membalas pelukannya erat.
"Aku mencintai, Tan!" ucapnya sambil menangkup wajah Serly dan kembali minciuminya.
"Aku amat sangat mencintaimu, George," balas Serly dengan bibir yang sedikit bergetar. Mungkin karena barusan menangis.
George mengeratkan pelukannya, kemudian masuk bersama-sama ke toko tersebut.
Di ruang tunggu, Serly melihat Dewi yang tengah mengobrol bersama Haddy.
"Halo, Tan. Karyawannya gue pinjam bentar, ya?" ucapnya seraya merangkul pundak Dewi tanpa sungkan.
__ADS_1
Berbeda dengan Dewi. Dia terus mendorong kecil tangan Haddy merasa sungkan.
"Ck. Diam napa, Ayank. Tante Bohay baik, kok," ucapnya sambil mengedipkan matanya ke arah Serly.
Serly mendelik, dan mengajak George ke dapur.
"Nah 'kan. Baik?" Haddy tersenyum percaya diri pada sang pacar.
Dewi memutar bola matanya. "Aku masih berada di tempat kerja, Dy. Dan aku masih banyak pekerjaan," tolaknya membuat Haddy heran.
Baru kali ini Dia melihat Dewi seperti ini.
"Kamu kenapa, sih, Yank?" tanyanya bingung dengan sikapnya.
Dewi menghembuskan nafasnya. "Aku lagi kerja, Aa. Aku tidak mau ngelunjak sama majikanku," ucapnya sedikit lebay.
Haddy terkekeh. "Okelah. Tapi, buru-buru kerjanya. Aa tunggu sini!" ucap Haddy sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya.
Dewi menarik sudut bibirnya, tersenyum paksa.
Sementara di dapur,
"Kamu maunya kue apa, George?" tanya Serly sambil mematikan pesin pengocok tersebut.
George menghela nafas dan melangkah mendekatinya. "Apa aja, Tan. Semua kue bikinan Tante enak. Dan aku suka," ucapnya sedikit manja.
Serly tersenyum sambil memasukan bahan-bahan yang selanjutnya.
"Aku mau coba, Tan!" ucap George meraih alat pengocok yang akan Serly nyalakan.
"Emangnya kamu bisa?" tanya Serly tidak percaya.
George nyengir. "Gak, sih. Tapi, Tante bisa ajarin 'kan?"
Serly menggerakkan bibirnya dan mengangguk pelan. "Kamu liatin aku dulu, ya? Nanti kamu peragakan!" titahnya sambil menekan satu tombol on.
George memperhatikannya dengan sangat seksama. "Ini harus benar-benar kecampur, George. Gak boleh ada yang menggumpal!"
"Biar enak, ya, Tan?" tanya George polos.
__ADS_1
Serly mengangguk saja, dan menyerahkan alat tersebut padanya.
"Kamu coba. Tapi hati-hati. Jangan sampai meluber isinya."
George mengangguk paham. Dia mulai mencoba untuk menyalakan mesin tersebut dan mengaduk adonan yang ada di dalam mangkuk cukup besar.
"Eh. Gimana ini, Tan? Kok cepet, sih?" George terkejut dan mengocoknya sembarangannya, sehingga membuat sebagian adonan tersebut menyiprat keluar dan mengenai apa pun yang dekat dengan benda tersebut, termasuk Serly juga George.
"Yah, George. Adon yang bener," ucap Serly sedikit menaikan nada bicaranya.
George tidak paham. Dia malah semakin mempercepat gerakan mesin tersebut, sampai sisanya habis menyiprat kemana-mana.
"Matiin, George. Matiin!"
Haddy juga yang lain yang mendengar ada sebuah keributan di dapur, langsung mengeceknya.
Bwahahhaaa….
Haddy tertawa terbahak-bahak melihat Georg juga Serly yang penuh dengan adonan terigu di sekujur tubuhnya.
"Mau maen baringsai, woi!" ejeknya membuat George kesal.
"Bantuin napa. Gue gak tahu ini matiinnya gimana?"
Serlu yang mendengar hal itu langsung mengambil alih dan mematikannya.
"Makannya … kalau tidak bisa tuh diem aja. Gosah so-soan!" Haddy terkikik dan kembali lagi ke tempatnya semula.
George menghembuskan nafasnya merasa bersalah. "Maaf, Tan. Aku malah membuat semuanya berantakan."
Serly mengehela nafas dan l mengulum bibirnya. Tidak bisa dipungkiri, George terlihat sangat menggemaskan berpenampilan berantakan seperti itu.
"Kita cuci muka dulu, yuk! Wajahmu udah kaya badut," ejeknya membuat George semakin mengerucutkan bibirnya.
"Cup…, cup. Pacarku gemesin, sih!"
George tersenyum dan membalas cubitannya. "Tante juga," ucapnya.
Serly terkekeh dan melepaskan cubitannya.
__ADS_1
Mereka bersama-sama masuk ke dalam kamar mandi, dan saling membersihkan satu sama lain.