
Serly melepaskan pelukannya, menatap George yang tetap menunduk sambil terisak.
"George-"
"Aku malu, Tan. Aku malu," potongnya semakin menenggelamkan kepalanya.
Serly tersenyum tipis, "benarkah? Apa kamu tidak merindukan senyumanku?" goda Serly seraya melebarkan senyumnya.
George menggeleng.
"Hm. Baiklah. Kalau begitu-"
"Tersenyumlah lebih manis untukku." George segera menoleh, memperlihatkan kedua bola matanya yang merah.
Serly terkekeh melihatnya.
"Maafkan aku! Aku benar-benar khilaf dan menyesalinya."
Serly mengangguk. "Sudah cukup kau meminta maaf padaku. Aku tidak apa-apa!" jawabnya menatap tulus pada matanya.
George menurunkan tatapannya.
"Jangan bersedih lagi. Aku sudah mengetahui semuanya."
George kembali mengangkat pandangannya.
"Terima kasih karena sudah mau berjuang untukku." Serly tersenyum seraya menangkup wajah George gemas.
"Tante-"
"Jangan tanyakan itu. Karena aku tahu kamu pasti sudah mengetahuinya," potong Serly.
George tersenyum. Hatinya benar-benar berbunga lagi. Dia sangat bahagia bisa memiliki sahabat yang begitu pedulinya.
"Sepertinya aku harus berterima kasih padanya." George menggenggam kedua belah tangan Serly yang berada di pipinya, lalu ia turunkan dan menangkup dengan tangannya.
"Itu harus, George. Dia selalu kita repotin."
__ADS_1
George tersengeh. "Hm? Kiranya… apa aku juga harus memberinya hadiah?"
Serly nampak ikut berpikir.
"Oh, iya, Tan. Bagaimana kalau kita buatkan red velvet saja? Itu sangat enak. Haddy pasti akan sangat menyukainya!"
Seketika wajah Serly berubah murung.
"Tan!" George menatapnya heran, "apa terjadi sesuatu?"
Serly mendongak sembari menggelengkan kepalanya. "Hm. Baiklah, jika itu akan membuat Haddy senang. Kita buatkan spesial untuknya."
George merungut. "Jangan spesial juga, Tan! Yang spesial hanya boleh un-"
"Katanya tadi menyesal!" sindir Serly.
George nyengir. "Ini beda, Tan. Ini bukan antara aku dan Tante!"
"Sama aja kali, George. Antara aku dan kamu… ada Haddy yang membantu kita."
George mengerucutkan bibirnya.
George segera merubah ekspresi wajahnya. Dia tersenyum dengan begitu gemas dan memeluknya erat.
"Kapan kita buat? Aku sudah sangat merindukan cake buatan Tante."
"Cake doang? Akunya nggak?" Serly menatapnya sinis.
George terkekeh dan langsung memeluknya erat. "Aku, sangat, merindukan Tante," ucapnya mengeja setiap kata yang dia ucapkan.
Serly tersenyum simpul. "Aku juga sangat merindukanmu, George!" Dia membalas pelukannya hangat.
"Dah, yuk! Kita buat cake-nya! Mumpung hari masih siang." Serly melepaskan pelukannya, lalu berdiri seraya merapikan penampilannya yang cukup kotor dan aut-autan.
Diikuti oleh George yang juga melakukan hal yang sama dengannya.
Mereka bergandengan tangan, menuju sebuah jalan besar sembari menelpon dua ojek online… yang benar-benar ojek online. Bukan Haddy lagi.
__ADS_1
Mereka menunggu di pinggir jalan, dan tak lama Ojol pesanan mereka tiba.
George meminta salah satu dari mereka.. menyerahkan sepeda motornya padanya, lalu ia membonceng Serly… dan tukang Ojol itu naik dibonceng oleh temannya.
Dua sepeda motor matic melaju, menyusuri jalan menuju ke toko milik Serly. Namun,
"Jangan kesini. Kita buat cake nya di rumah saja!" Serly menghentikan George yang hendak berbelok ke arah toko miliknya.
George mengerutkan dahinya.
"Tokonya tutup, George. Juga bahan-bahannya sudah habis. Belum nyetok lagi," jawabnya paham akan kebingungannya.
George hanya ber-oh, ria saja. Lalu kembali melajukan motor tersebut sampai ke halaman rumah Serly.
"Makasih banyak, Pak. Bayarnya sudah via aplikasi, ya!" George mengembalikan helm milik mereka, kemudian masuk ke dalam rumah Serly setelah mereka pergi.
.
.
Maafkan atas typo dan hal lainnya. Aku belum sempat revisi lagi. Kerjaan di dunia nyata sangatlah melelahkan😁.
Esok nanti... aku akan memperbaikinya
SEE YOU😘
Jangan lupa Ayank😁😁😁
Xi
Xixixi....
__ADS_1
Saranghae all😘😘