Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Melepas Rindu


__ADS_3

Pukul 6 lebih, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang, dan George menghubungi sahabatnya untuk menjemput mereka berdua.


Sekian lama menunggu, akhirnya Haddy datang dengan wajah ketus.


Ia menghampiri George juga Serly yang tengah saling peluk mesra.


"Lain kali… lo bisa 'kan, kalo pesan Taxi online? Atau Ojek online? Gak harus gue mulu…," ucapnya penuh kekesalan.


George mendelik. "I'm so' sorry, Brother. Hanya lo sandaran gue saat ini," ucapnya seraya naik duluan pada motor milik sahabatnya itu. Kemudian disusul Serly yang duduk menyamping sambil memeluk pinggang George mesra, dan semakin membuat Haddy kesal melihatnya.


"Ish! Lama-lama… Tante Bohay gue sikat juga, hah!" ucapnya sambil menancap gas setengah sadar.


Serly memekik dan semakin mengeratkan pelukannya akibat terkejut juga takut terjatuh.


Sementara George, ia terkekeh merasa bahagia. "Thank, Kawan! Lo tau aja sama apa yang gue mau," ucapnya menepuk pundak Haddy cukup kuat.


Haddy mendelik, menatapnya sinis. "Liat aja, George! Gue akan pamer dua kali lipat dari ini," ucapnya sambil terus melajukan motornya menyusuri jalanan yang sudah sangat gelap, dan hanya diterangi oleh lampu motornya saja.


George terkekeh. "Silahkan, Kawan. Silahkan," ucapnya dengan tangan menggenggam erat kedua tangan Serly yang terus memeluknya.


Cih!


Haddy yang terus merasakan kemesraan mereka semakin terbakar keinginan. Ia menggerutu di dalam hatinya sambil terus melajukan motornya sampai ke halam rumah Serly.


Serly turun dan di susul oleh George, kemudian Haddy yang membuat George heran.


"Ngapain lo ikut-ikutan turun, hah? Sono pulang. Anak Mami harus bobo ganteng," ucapnya mengusir sahabatnya.


Haddy mendelik. "Seenggaknya lo harus bayar, George."


"Haelah… lo tau kan gue sekarang jungkir balik?" ucapnya seperti tidak punya beban sedikitpun.


"Iye. Tapi, bisa 'kan dengan menjamu gue? Pelit amat, sih, lo!" Haddy mendengus seraya melangkahkan kakinya duluan masuk ke dalam rumah milik Serly.


"Woi! Gue yang tamunya! Lo berandalan berkarung goni!" Ucap George sedikit berteriak.


Serly terkekeh mendengar candaan pacarnya. "Sudah. Ayo, masuk. Aku tahu di dalam ada Dewi," ucapnya seraya mengelus bahu George lembut.


"Dewi?"

__ADS_1


Serly mengangguk.


"Ah, busyet… tuh anak beneran mau pamer sama kita?" George menyingsingkan lengan bajunya, kemudian melangkah masuk dengan begitu semangat.


Serly yang berada di belangkangnya menggelengkan kepalanya merasa terhibur oleh tingkah dua anak remaja tersebut.


***


Di dalam,


"Dari mana saja kamu, Nak! Ibu cemas dari tadi mikirin kamu," ucap ibunya Serly langsung menyidangnya.


Serly tersenyum. "Maafin Serly, Bu. Serly habis nemenin George bentar."


Ia melangkah ke dapur mengikuti Ibunya, dan mengambil beberapa gelas untuk mereka bertiga yang berada di ruang tamu.


"Sebaiknya kamu jangan dekat lagi sama dia, Nak. Ibu gak mau nanti kalian tersakiti!"


Serly menghela nafasnya. Ia menatap manik ibunya sekilas, kemudian menunduk lesu. Ia tahu, bahwa ibunya sudah mengetahui pokok permasalahan cinta yang terjadi diantara Serly juga George.


"Ibu. Apa pun… aku akan siap. Aku tidak akan menyerah," ucapnya sangat yakin.


Serly menarik ujung bibirnya sedikit. "Ibu tenang aja. Aku yakin… bumi akan terus berputar… dan sekeras apa pun sebuah batu, pasti akan pecah jika kita berani berjuang!"


Ibunya tersenyum dan mengelus bahunya pelan. "Ibu hanya bisa mendoakan kalian."


"Makasih, Bu." Serly memeluk tubuh ibunya hangat.


Tanpa mereka sadari, George menyaksikan dan mendengar semua percakapan mereka.


Dia bersandar di ambang pintu dengan air mata yang hampir menetes.


"George!" Serly terkejut saat berbalik sudah melihat George berada disana.


George memalingkan wajahnya sebentar, dan tersenyum sambil melangkah mendekatinya.


Ia meraih nampan yang sedang Serly pegang. "Biar aku saja," ucapnya lembut.


Serly tersenyum dan memberikan nampan tersebut.

__ADS_1


"Bu. Maaf selalu ngerepotin," ucapnya menunduk sopan pada ibunya Serly.


Ibunya Serly tersenyum. "Kalian jangan terlalu larut, ya, tidurnya. Ibu istirahat duluan."


George mengangguk dan menatap kepergiannya sampai hilang di balik pintu kamar.


"Kamu dengar semuanya?" Serly menatap George lekat.


George menghembuskan nafasnya sambil menaruh nampan tersebut di atas meja. "Maaf," ucapnya menunduk sedih.


Serly mendekat dan menggenggam kedua tangannya. "Disini tidak ada yang salah. Jadi, jangan minta maaf dan merasa bersalah seperti ini."


"Tapi, aku telah mengorbankan perasaan Tante."


Serly menggeleng. "Bukan mengorbankan. Itu bukti bahwa aku benar-benar serius padamu."


George terharu mendengarnya. "Makasih, Tan. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Apa pun.. akan aku lakukan supaya mendapat restu mamaku," ucapnya seraya memeluk tubuh Serly erat.


Serly tersenyum dan membalas pelukannya. "Sudah. Kita ada tamu. Dan sepantasnya kita menjamu mereka."


George mendelik sambil melepaskan pelukannya. "Kita gak usah kesana, Tan. Gerah!" ucapnya seraya duduk lesehan diatas tikar.


"Gerah? Maksudnya?" Serly sedikit menggaruk belakang telinganya.


"Mereka lagi pamer kemesraan."


"Hah?!"


"Hm. Seperti itu."


Serly semakin tidak paham apa maksudnya. "Kalau bicara yang jelas, George," ucapnya kesal.


George menghela nafas dan menatap Serly serius. "Mereka lagi melepas rindu, Tante. Lagi anu," jelasnya.


What?!


Tanpa pikir panjang Serly langsung melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Pikirannya kalut. Ia tidak akan membiarkan hal yang tidak senonoh terjadi di rumahnya.


"Tan!" George langsung bangkit dan mengejarnya.

__ADS_1


Jleb!


__ADS_2