
Matanya langsung membola kala apa yang ia curigai benar adanya.
"Astaga." George menatap tajam kearah dalam, lalu Serly ikut mendekatkan wajahnya pada kaca mobil.
"Eh, Tan. Gimana kalo kita jalan-jalan, dulu. Disini anginnya enak, loh!" kata George berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Iiiiihhhhh. Aku mau liat, ada apa didalam?" ucap Serly menolak.
"Didalam gak ada apa-apa, Tan," jawab George berbohong.
"Ah, masa? Tadi kamu kayak orang yang terkejut, gitu?"
"Ah. Iya, Kah?"
George bingung harus bagaimana mengalihkan perhatiannya.
"Emangnya ada apa, sih didalam?" tanya Serly sambil mendekatkan lagi wajahnya. Namun, George kembali menariknya.
"Aku terkejut, karena Haddy gak ada. Kita cari dulu, yuk!" ajaknya dengan gaya yang meyakinkan.
"Hah! Gak ada? Bukannya dia tadi udah duluan, ya?" tanya Serly dengan tampang bingung.
"Sepertinya dia jalan-jalan dulu, deh. Kita cari dulu, yuk!" ajak George dengan memaksanya secara halus.
Serly jadi makin kebingungan. "Okedeh."
Hah!
George akhirnya bisa bernafas dengan lega.
"Awas, lo, Dy. Lo ngelangkahi gue yang udah lebih dulu pacaran." batin George menggerutu.
George membawa Serly berputar-putar di kampung sini dengan tidak tau arah tujuan. Sesekali George bertanya supaya tidak terlalu kelihatan bohongnya.
"Maaf. Aku tidak melihatnya, Jang!"
Untung semuanya tidak ada yang melihat Haddy pergi kemana.
"George! Aku udah cape, daritadi muter-muter aja. Aku aus." ucapnya sembari duduk di bale rumah orang.
"Kita ke mobil, aja, yuk!" ajak Serly seraya bangkit kembali.
George berpikir sebentar mengukur, apa mereka udah selesai atau belum.
"Em. Yuk! Semoga aja mereka udah ada di mobil."
Serly mengangguk. Ia kemudian berjalan lebih dulu dari George karna sudah tidak tahan mau minum.
George melangkahkan kakinya dengan bimbang. Ia takut Serly akan memergoki mereka berdua.
"Ih. Kok di kunci, sih?" gerutu Serly sambil terus menarik pegangan pintu mobil.
"George! Gimana ini bukanya? Kok di kunci, sih?" tanyanya dengan suara yang cukup keras.
George yang masih cukup jauh langsung berlari mendekatinya.
"Apa? Kenapa?"
Serly menunjuk pintu yang ia tarik tidak bisa kebuka.
"Oh."
George hanya ber-oh saja.
"Oh? Oh doang? Terus gimana kita ngambil minumnya?" Serly benar-benar sudah kehausan.
"Em, gimana kalo kita beli aja. Mungkin saja di jalan depan ada warung pinggiran." usul George.
__ADS_1
Serly mengangguk setuju.
"Yuk!"
Serly meraih tangan George yang terulur kehadapannya.
Cklekk...
Baru saja Serly mau melangkahkan kakinya. Pintu mobil sudah terbuka. Serly langsung menoleh dan menatap heran pada pintu yang terbuka dengan sendirinya.
Namun,
"Astaga. Dewi! Ternyata kalian udah ada disini?" kata Serly seraya masuk kedalam mobil.
George menghela nafas lega. Kemudian ia ikut masuk kedalam dengan tatapan membunuh pada Haddy sahabatnya.
Serly tidak memperhatikan penampilan mereka. Yang ia ingat, ia sudah sangat kehausan dan ingin segera minum.
George yang mengerti hal itu, langsung meraih botol yang ada di depan, lalu ia berikan pada kekasihnya.
Serly langsung menegak setengah air minum tersebut.
"Hah. Lega." ucapnya sambil bersandar pada belakang kursi.
"Eh, sebentar. Sejak kapan kalian disini?" tanyanya bingung.
"Sejak, em, sejak, sejak kalian pergi," jawab Dewi keceplosan.
Haddy langsung mencubit paha Dewi cukup kuat sampai Dewi meringis sakit.
Haddy mengedipkan matanya sebelah.
"Ada apa, sih? Kenapa kalian seperti sedang menutupi sesuatu dariku?" tanya Serly mulai curiga.
"Nggak. Kita gak menutupi apa-apa, kok. Aku bicara jujur. Kami sudah ada disini dari tadi, ya, kan, Dew?" ucap Haddy berkilah.
"Astaga! Aku sama George mencari kalian sampai beberapa putaran di kampung ini." ucapnya.
"Hm. Gak papa," jawab Serly dan menoleh pada George yang juga sedang bersandar.
Satu tangan Serly terangkat untuk menghapus keringat yang akan menetes pada baju yang sedang George kenakan.
Bola mata Haddy langsung memutar sebal melihat kemesraan mereka sangat, sangat mesra sekali.
Romatis!
"Makasih." ucap George dan langsung memegang tangan Serly, lalu menciumnya.
Haddy langsung melajukan mobil itu keluar dari pelataran kampung.
"Kita mau kemana dulu ini?" tanya Haddy dengan tatapan terus lurus pada jalanan yang mulai masuk pada jalan besar.
"Kerumah dia dulu. Aku kangen masakannya," jawab George dengan terus mencium tangan Serly.
"Bisakah kalian sekali saja tidak bermesraan didepanku? Aku lagi nyetir, ini?" ucapnya dengan satu tangan meraih tangan Dewi.
"Lo udah lebih maju dari gue," ucap George meledeknya.
"Hahaha...."
Haddy tertawa merasa menang karena sudah melangkahinya.
"Gercep, George! Jangan pake drama romantis-romantisan segala."
"Hallah. Coba lo bilang begitu pada si Dewi. Pasti dia juga ingin di perlakukan sangat manis."
Haddy langsung menatap Dewi. "Iya, seperti Ayang?" tanyanya lebay.
__ADS_1
Dewi hanya diam tidak mau menjawab, karena malu.
"Jangan malu-malu, Dew! Gue tau kamu juga ingin, kan, seperti kita?" kata George sambil memeluk Serly sangat mesra.
Dewi langsung menundukkan kepalanya malu.
"Liat, tuh, Dy. Itu tandanya cewek lo juga mau di perhatiin, di sayangin, juga di manja-manjain. Jangan hanya lo aja yang manja padanya. Dia juga mau, ya, kan, Tan?"
Serly terkikik mendengar penjelasan darinya.
"Seperti kamu yang tidak manja aja, sama aku." timpal Serly.
Bwahahahaha....
"Tuh, dengerin pacar, lo. Makannya, jangan suka simpulin apapun sendirian. Kan gitu jadinya, lo malu sendiri, kan? Hahahaha....?"
Haddy terus menertawakan George.
"Ih. Biarin. Yang penting gue romantis, manis, juga ngangenin, kan, ya?"
Serly mengangguk. Iya membenarkan semua perkataan pacarnya.
"Iya. Kamu memang paling best buatku," jawab Serly sambil membalas pelukan George.
"Terus, terus aja kalian bermesraan di hadapan gue. Kalian liat aja, siapa yang bakal lebih dulu menikah. Lo, apa GUE." ucapnya menantang.
George tidak menghiraukannya. Mereka terus saling peluk mesra menghabiskan rasa rindu yang lama tidak bertemu.
"George! Apa betul selama ini Haddy meminta makanan padaku itu buatmu?" tanya Serly sambil mendongakkan kepalanya menatap manik mata yang teduh.
George mengangguk. "Aku tidak mau mekan jika bukan darimu," jawabnya.
"Dasar lebay!" ledeka Haddy.
"Sirik aja, lo!"
Serly tersenyum melihat debatan mereka.
"Kenapa begitu? Aku tuh khawatir tau?"
"Tante takut aku kenapa-napa, ya? Tenang aja, Tan. Aku itu kuat."
"Wleee.... kuat darimana, dari hongkong?"
"Haddy! Bisakan kau tidak ngerecoki kita berdua?" tanya George sengit.
"Siapa suruh kalian mesra-mesraan begitu."
"Siapa suruh lo ngelangkahi gue."
"Ngelangkahi apaan, sih?" tanya Serly ikut nimbrung bahasan mereka.
"Itu, si Had,"
"Nggak, Tan. Dia gak mau kalah merebutkan teman sekelas kami." ucapnya memanasi Serly.
Serly langsung menatap George menyelidik.
"Haddy!"
"Rasain, lo!"
George menendang kuat kursi yang Haddy duduki dari arah belakang.
"George!"
George menatap manik mata Serly dalam.
__ADS_1
"Tan. Itu hanya akal-akalan Haddy supaya kamu cemburu."
Serly diam.