
Pagi-pagi sekali, Serly sudah siap untuk berangkat ke Toko. Ia sedang menunggu ke datangan, George di pinggir jalan persimpangan.
Serly melirik jam yang melingkar di Tangannya, "Jam 6, pantesan belum datang." Gumam Serly dan menjatuhkan Tangannya lagi.
Setengah jam kemudian, belum ada tanda-tanda kedatangan, George.
"Apa dia lupa?" Pikir, Serly dengan melihat Jam tangannya lagi.
Serly sudah sangat pegal dari tadi berdiri terus, ia melangkahkan Kakinya berinisiatif untuk berjalan pelan-pelan, dan berharap akan bertemu dengan, George di depan.
Sudah sangat jauh, Serly berjalan. Masih gak ada tanda dari kedatangan, George.
"Mungkin lagi sibuk sama kedua orangtuanya." Kata Serly berusaha mengobati dirinya sendiri.
Terlihat dengan jelas sebuah bangunan tempat, Serly mencari uang.
Hah....
Serly menghela napasnya berat, yang ia harapkan dari kemarin sampai sekarang, ia bisa berangkat bersama-sama dengan George.
Tapi itu hanya angannya saja. Serly merasa kecewa karena, George gak menepati janjinya.
Dengan satu langkah kedepan, Serly berhasil berdiri di depan pintu Toko, dan langsung membukanya dengan lemas.
Para pegawainya sudah menunggunya di luar teras, karena kunci Toko, Serly yang selalu bawa.
"Ibu gak apa-apa?" Tanya salah satu pegawainya yang melihat ekspresi Serly yang kurang bersemangat.
"Enggak, cuman lelah saja." Jawab Serly sedikit benar.
Serly masuk kedalam terlebih dahulu, dan langsung duduk di salah satu kursi untuk menunggu.
Serly melihat dengan jelas bekas cemilan, George kemarin.
Dugdugdugdugdug.....
Jantungnya berdetak gak karuan, Serly langsung memegang Dadanya.
"Ada apa ini?" Batin Serly cemas.
Serly mencoba untuk menenangkan kondisi Jantungnya yang terus berdetak dengan hebat.
Huh, hah.....
Serly menarik napas panjang dan membuangnya pelan. Tapi, perasaan gelisah itu masih ada.
Serly langsung bangkit dan kembali menyambar tasnya yang baru ia letakkan di atas meja.
"Ibu mau kemana?" Tanya salah seorang Pegawainya.
"Aku titip Toko dulu, kalo ada apa-apa, hubungi aja aku, ok!" Seru Serly dengan cepat.
Serly langsung keluar dari Toko dan menyepot Taxi di depan.
"Pak! Ke SMA Danuart!" Titah Serly setelah masuk kedalam Taxi.
Pak Supir itu mengangguk dan membawa Serly sampai ke SMA yang ia tuju.
Serly turun dari Taxi saat ia sudah sampai di depan Gerbang besi besar.
Terlihat ada seorang Pria yang berpakian seragam putih dan celana hitam.
Serly berjalan mendekati Gerbang tersebut, "Pak! apa, George udah masuk kelas?" Tanya Serly sopan.
Terlihat Pak satpam itu berpikir dahulu, "Sepertinya, Bapak belum melihatnya hari ini. Mobilnya juga gak ada." Jelasnya.
Deng.....
__ADS_1
Jantung Serly serasa berhenti berdetak seketika, Apa ada sesuatu denganmu, George. Batin Serly sangatlah cemas.
Bukan apa-apa, Serly karna sudah mengetahui sedikit tentang keluarganya, George.
"Apa ada murid lain yang gak sekolah juga?" Tanya Serly lagi.
Bapak satpam itu menggeleng kuat, "Gak ada, ada juga Murid dari kelas lain, Nona!"
Serly mengangguk paham, "Aku boleh meminta alamatnya?" Pinta Serly yang lupa akan identitasnya kemarin.
Pak Satpam ini menautkan kedua alisnya bingung, Bukankah dia Tantenya? kok gak tahu alamat, Den George ya? Pikir Pak Satpam membatin.
Serly yang baru sadar dengan diamnya Pak Satpam kenapa, ia langsung pamit dan berlalu dari Sekolah terkenal ini.
Serly kembali menyetop sebuah Taxi yang lewat di hadapannya.
"Kota A, Jln. Xxxxxxx." Jelas Serly saat masuk kedalam Taxi.
Bapak Taxi ini mengangguk dan melajukan Taxinya menuju alamat yang di berikan oleh, Serly.
Beberapa menit kemudian, Taxi berhenti di sebuah Rumah yang sangat besar dan tinggi berdiri tegak dengan cantiknya di pinggit Jalan raya.
Serly keluar dan langsung berjalan masuk kedalam Rumah tersebut dengan santainya.
"Ba! Diba!" Teriak Serly masing sangat jauh dengan pintu utama.
"Eh, ada Non Serly!" Kata seorang pembantu di rumah Adiba.
"Iya, Bi. Adiba ada?" Tanya Serly merasa malu karna udah berteriak-teriak.
"Ada apa, Woi!" Teriak Adiba yang sudah keluar dari rumah dengan memangku Anaknya di depan.
"Kirain gak ada di rumah."
Adiba mendelikkan bola Matanya sebal.
"Eh, bukannya di ajak masuk. Malah di tuduh yang enggak-enggak." Kilah Serly malas.
"Lo kan suka gitu, kalo dateng pasti minta duit." Lanjut Diba bercanda.
"Sonting, Lo. Se enaknya aja." Kilah Serly dengan menjitak kecil Kepala, Adiba.
"Haha... Sorry, Sorry. Yuk masuk, Yang lain juga OTW kesini!" Ajak Diba dengan jelas.
"Oh, ya. Kenapa Gue gak di kabarin. Udah lupa, Lo sama Gue." Kata Serly dengan Wajah di sedih-sedihin.
"Iye, Gue udah lupa sama, Lo. Gue gak mau punya Temen kere, dan Jomblo kayak, Lo."
"Astaga, sadis bener tuh mulut." Kata Serly sembari mengambil Anaknya Adiba membawa kedalam pangkuannya.
"Abisnya, Lo sibuk menyendiri terus."
"Bentar lagi, Ba. Gue baru proses." Jawab Serly lirih.
Adiba yang melihat raut kesedihan dari Wajah sahabatnya itu jadi merasa bersalah, "Sorry, Ser! Gue gak bermaksud begitu, Kok. Gue cuman bercanda aja." Kata Adiba merasa bersalah.
"Itu emang kebenarannya." Jawab Serly dan makin membuat, Adiba semakin merasa bersalah.
"Sorry, Ser! Gue beneran cuman bercanda ih."
"Gak papa."
"Senyum dong, udah jomblo, ngeselin lagi tuh muka. Makin menjauh tuh Jodoh." Kata Adiba sangat pedas kedengaran di Telinga, Serly.
"Gue sadar diri, kok."
"Ya elah, Ser. Gue bercanda kelles."
__ADS_1
"Gue tahu, kok."
"Dah, ah mellownya. Ngenes Gue liatnya."
Adiba terus menjahili, Serly yang sedang sangat sedih.
Serly mencoba untuk mengalihkan perasannya dengan membawa main Anaknya Adiba.
Brakkk....
Pintu rumah, Adiba terbuka lebar dengan paksa.
Terlihat dua sekawan yang masuk dengan bersama-sama, dan pintu terbuka karna mereka berebut masuk duluan.
"Astaga, Gun, Ji! kalian ini. Gimana kalo anak-anak kalian kenapa-napa." Tukas Serly dengan cemas.
"Eh, ada Lo juga, Ser?" Tanya Winji.
Serly mendelikkan Matanya sebal juga kesal.
Mereka semua pamer Anak- anak dan Wajah kebahagiannya.
Batin, Serly semakin merasa di remas-remas kuat.
"Sabar- sabar, Serly. Lo juga bentar lagi menikah." Hibur, Serly sendiri.
Anggun, dan Winji mendekati kedua sahabatnya.
"Eh, Ser! Gue tadi liat gebetan, Lo, loh!" Seru Anggun langsung.
"Siapa?" Tanya bingung, ia gak pernah mengidamkan seorang Lelaki kecuali, Bocah itu.
"Yang itu, tuh!" Kata Anggun dengan isyarat.
"Siapa?" Tanya Serly sudah greget.
"Bocah yang ik.......ut."
Ucapan Anggun terhelat saat melihat, Serly dengan cepat-cepat bangkit dari duduknya seraya memberikan Bay yang ada di pangkuannya pada, Adiba.
"Eh, eh. Ser! Lo mau kemana?" Tanya Adiba heran. Dengan cepat ia menerima Anaknya.
"Lo di mana melihatnya?" Tanya Serly antusias.
"Ada apa sih?" Tanya mereka berbarengan.
"Ih, Gue dari tadi mencarinya. Dia gak ada kabar sedikitpun, dan ingkar janji sama Gue." Jelas, Serly kesal.
"Oh."
"Cepetan, Lo dimana liatnya?"
"Sabar kali, Ser! Gak Gue embat juga."
Serly memelototkan Matanya seram.
"Iy, ngeri." Gumam, Anggun.
"Makannya."
"Ok, Gue liat dia masuk ke Cafe xxxx." Jelas Anggun santai.
Serly langsung pergi dengan tergesa-gesa menuju keluar dari rumah, Adiba.
Mereka bertiga terperangah heran dengan tingkah sahabatnya itu.
"Bucin dia." Gumam Winji dan di angguki oleh kedua Sahabatnya.
__ADS_1