Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Sandaran Dari Haddy


__ADS_3

Haddy turun dari motornya dan langsung melangkah mendekati Sherly yang tengah kebingungan.


"Mau ngapain kamu, Dy?" Sherly refleks memundurkan langkahnya sedikit takut melihat wajah Haddy yang sedikit serius menatapnya.


"Istighfar, Dy. Istighfar!" Ia mendorong dada Haddy cukup kuat.


"Aku aduin sama George, nih!" ucapnya seraya mengeluarkan ponselnya.


Haddy tersenyum. "BTW … rumahnya Ayang Ndew dimana? Mau ngapel, nih!" bisiknya.


Sontak itu membuat Sherly terkekeh. "Apel?" tanyanya seraya menghela nafas lega.


Haddy mendelik. "Bukan! Mau gondol rumahnya."


Wajah Sherly langsung datar. "Rumahnya sudah kelewatan. Tapi, bukannya kamu sudah tau, ya?"


Haddy menggeleng.


"Terus, kalau kamu anter suka sampe mana?"


Haddy menunduk. "Gang depan!" jawabnya lesu.


"Oo. Mau aku anter sampai rumahnya?" tawar Sherly.


Kepala Haddy otomatis mengangguk kuat. "Mau dong. Tapi," tak lama ia menunduk lesu.


"Kenapa?"


"Ortunya galak, gak?"


Sherly tersenyum. "Galak banget. Segalak…," bibir Sherly langsung berhenti berucap.


Terlihat dua manik matanya berembun kembali.


"Udahlah, Tan. Jan dimasukin ke ati omongan orangtua yang kek gitu mah. Sing penting kalian berjuang bersama. Jan menyerah!" Haddy merangkul pundak Sherly hangat.


Sherly mendongak. Ia menatap wajah tulus pacar sahabatnya itu. "Makasih, Dy. Makasih karena kau orang yang tepat yang berada diantara kami berdua," ucapnya seraya menyandarkan kepalanya pada dada Haddy.


Haddy tersenyum. Ia mengangkat sebelah tangannya ragu, dan ia turunkan pada rambut pacar sahabatnya itu. "Kalian pantas mendapatkan restunya… semampu yang aku bisa … aku akan membantu kalian berdua," ucapnya seraya mengelus rambut Sherly lembut.


"Makasih, Dy."


"Hm."


Sekian lama Haddy memberikan dadanya untuk bersandar, sampai akhirnya sebuah telepon masuk, dan membuat keduanya tersadar.


"Maaf." Sherly menunduk malu.

__ADS_1


"Slow wae, Tan. Kita gak ngapa-ngapain, kok," ucapnya seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.


Seulas senyum Haddy lempar pada Serly, kemudian ia berikan ponselnya pada tangannya. "Ini … bicaralah baik-baik. Jangan tunjukan kesedihan Tante. Aku tidak mau melihat sahabatku jadi kepikiran, dan sedih berlarut-larut," ucapnya memberi Sherly pepatah terlebih dahulu.


Sherly mengangguk.


"Karena itu hanya akan merepotkanku saja," tambahnya sinis.


Sherly tersenyum dan membenarkan perkataan sahabat pacarnya itu.


"Silahkan menikmati bucin-bucinannya. Aku jalan-jalan sebentar," ucapnya pamit.


"Makasih banyak, Dy."


"You're welcome."


Serly menatap punggung Haddy semakin lama semakin menjauh.


Sebuah ponsel yang sedari tadi terus bergetar, ia tatap penuh kecewa dan sakit hati. "Sanggupkah aku mendengar suaramu, George?" ucapnya dengan air mata meluncur bebas.


"Aku tidak akan mungkin bisa bicara denganmu," tambahnya sambil terus membiarkan panggilan itu putus, kemudian nyambung lagi.


Tak lama mati kembali, dan sebuah notif pesan masuk, namun enggan untuk Serly membukanya.


"Maafkan aku, George," ucapnya malah sengaja mematikan daya ponsel milik sahabatnya itu.


Sekian lama ia berada disana, sampai ibunya memanggil dirinya untuk masuk.


"Ya, Bu." Serly segera menghapus air matanya kasar, kemudian masuk dengan senyum yang terpaksa.


Sementara di tempat lain,


"Haddy … kenapa lo malah mematikan ponselnya?" George membantingkan ponselnya sembarangan. Sehingga membuat seorang wanita yang baru masuk ke dalam kamar tersebut terperanjat kaget.


"George!" bentaknya dengan wajah sangar.


George yang melihat dan mendengar itu mendengus kesal.


"Apa-apaan kamu, hah?!"


George tidak menggubrisnya. Ia malah berjalan menghindari ibunya.


"Apa ini rasa berterima kasihmu pada, Mamah?"


George mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik menatap mamanya dengan mata memerah dan sembab.


"Kenapa, Mah? Apa Mamah menyesal telah membesarkanku?!"

__ADS_1


Sontak itu membuat mamanya semakin naik darah. Ia mendekat dan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi anaknya.


"Ahhh…." George memegangi pipinya yang perih.


Sementara mamanya ia menatap sebuah tangan yang telah menyakiti anak semata wayangnya itu. "Ge-george…," ucapnya sedikit bergetar.


"Puas, Mah! Puas! Puas karena bukan hanya hati aku yang Mamah sakiti?!" George menarik sedikit ujung bibirnya, "terima kasih karena sudah mengajarkanku menjadi Pria kasar!" ucapnya seraya meraih jaket yang tergeletak di atas kasur, juga ponsel yang tadi ia lempar sembarangan.


Kemudian ia melangkah meninggalkan mamanya yang mematung tanpa mengeluarkan suaranya lagi.


"George. Mau kemana kamu?" tanya papanya yang berpapasan dengan dirinya di ruang tamu.


George hanya menoleh, dan melanjutkan langkahnya lagi.


"George?!" teriak papanya.


"George!"


"Ah … ini pasti tidak jauh dengan wanita itu," gumamnya seraya naik ke lantai atas ke kamar anaknya.


Di ambang pintu, ia berhenti, menatap seorang Wanita yang sedang duduk di sisi ranjang milik anaknya.


"Apalagi yang kamu lakukan padanya, Mah?" tanya papanya George seraya melangkah mendekati istrinya.


"Anak itu, Wanita itu sudah meracuni pikiran anak kita, Pah. Wanita itu telah membuat anak kita berubah!" Tetap saja ia menyalahkan Serly, dan itu membuat suaminya heran.


Ia duduk di sampingnya seraya merangkul pundak istrinya sayang. "Mah. Papah mau tanya. Kenapa Mamah sangat tidak menyukai wanita itu?" ucapnya sangat lembut.


Mamanya George langsung menatapnya sinis.


"Papah hanya bertanya," kilahnya.


"Karena dia tidak selevel sama kita, Pah. Kasta dia dan kita itu berbeda sangat jauh."


"Bukanlah kita juga dulu seperti itu?"


Sontak pertanyaan itu membuat istrinya langsung terdiam tidak bisa berkata-kata lagi.


"Mah. Harta gampang untuk dicari. Tetapi cinta," ia menggenggam tangan istrinya lembut.


"Nggak, Pah. Aku tidak setuju jika George berpacaran dengannya?!"


"Mah."


"Stop, Pah. Stop belain wanita rendahan itu!"


"Astagfirullah, Mah. Jaga ucapanmu itu!" Namun ucapannya tidak mendapatkan respon apa-apa lagi.

__ADS_1


"Ya Allah. Sadarkanlah istriku!" gumamnya seraya menatap kepergian istrinya.


__ADS_2