
Haddy menghentikan laju motornya di halaman rumah George.
Mereka tergesa-gesa turun dan masuk ke dalam rumah tersebut dengan perasaan cemas.
"Pokoknya … lo kudu tahan napsu lo! Gue gak mau ini semakin runyam!" Sedari tadi Haddy terus mewanti-wantinya… namun itu malah semakin membuat George stres. Pikirannya sudah kalut dengan berbagai banyak hal.
"Saya mohon, Nyonya! Saya mohon! Saya tahu saya disini saya 'lah sumber dari semuanya. Tapi saya mohon. Jangan sangkut pautkan ini dengan anak saya."
Mendengar hal itu, George segera menghentikan langkahnya. Berbalik menatap sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang tamu.
Dia melangkah,
"Saya mohon… dan saya minta maaf. Saya yang salah. Saya minta maaf!"
George menatap kedua wanita yang salah satunya tengah memohon-mohon sambil bersimpuh dan memegangi kaki mamanya.
"Ada apa ini?" Seorang Pria berkemeja biru navy berdiri di belakang tubuh George, dan berhasil mengejutkannya.
"Ish. Pah. Bisa permisi dulu, gak?" ucapnya, menatap Papa tajam.
Beliau tidak menggubris. Tatapan fokus pada sang istri yang hanya diam tanpa menghiraukan permintaan maaf dari wanita yang ada dibawahnya, dan….
Tanpa mereka ketahui bahwa Serly tadi mengikuti Haddy juga pacarnya. Telah tiba disana dengan jasa sebuah ojek yang mengantarnya.
Dia turun dan langsung membayarnya. Lalu bergegas masuk dengan perasaan tak menentu.
Hhhh ….
Diambang pintu, dia menarik napasnya dalam-dalam. Saat beberapa memori perjuangannya berputar begitu saja di hadapannya.
Serly menunduk sembari menguatkan hatinya. Kemudian masuk dan menyusuri satu ruangan yang cukup sepi.
__ADS_1
Dia terus melangkah, sampai….
Serly mengerutkan dahinya. Menatap beberapa punggung yang begitu ia kenal, dan sangat ia kenal.
Serly tersenyum seraya mendekatinya. Namun,
"Ibu!" Ekor matanya tidak sengaja melihat sosok ibunya.
Dia segera menerobos dan berjongkok di samping ibunya yang tengah memohon di kedua kaki mamanya George.
"Apa yang Ibu lakukan?" tanyanya sedikit tegas. Kemudian menatap semua orang yang ada disana.
Ada rasa kecewa dalam dirinya saat melihat bocah yang dia sayangi selama ini hanya diam menonton.
George yang masih belum tahu ini ada apa dan apa maksud dari kedatangan ibunya Serly, termangu menatap sang pacar yang juga datang secara tiba-tiba.
Serly kembali menatap ibunya. "Apa yang Ibu lakukan? Kenapa Ibu sampai bersimpuh seperti ini?" Dia meraih tangan ibunya, menggenggamnya lembut.
Serly mendongak.
"Saya mohon, Nyonya. Restuilah mereka-"
"Saya bilang tidak, ya, tidak!"
Serly memejamkan matanya. Sakit mendengar ibunya dibentak.
"Bu. Ayo, pulang. Ibu jangan lakukan ini. Ini urusan aku, Bu!" Ia memegangi kedua bahu ibunya supaya berhenti memohon.
"Maafkan saya, Bu. Aku janji. Aku akan menebus semuanya!" ucap Ibu tanpa menggubris ucapan anaknya.
Mamanya George menghela napas, lalu berbalik dan beranjak dari sana. Namun,
__ADS_1
"Saya mohon, Nyonya! Saya mohon!" Ibu kembali meraih kakinya, sehingga ia berhenti.
"Saya mohon. Saya akan menebus semua kesalahan saya padamu."
"Dengan cara apa? Dengan cara apa, hah?" Mama George menarik napas dengan tangan mengepal. Kemudian menarik kakinya kasar.
Dia menatap kedua wanita yang bersimpuh di bawahnya.
"Apa kau bisa membangunkannya? Apa kau bisa mengembalikan dia seutuhnya padaku?"
Air matanya seketika meluncur. Begitupun dengan ibunya Serly. Mereka sama-sama menangisi orang yang sama.
"Kamu pikir aku akan luluh dengan kamu berbuat seperti ini padaku?" Mama George menatapnya tajam, lalu menggeleng kecil.
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi!" Dia beralih pada wanita yang ada disampingnya.
"Kau! Dan anakmu sama-sama perusak! Perebut semua kebahagianku! Segalanya! Termasuk dia dan putraku!"
"Stop!" George mengangkat sebelah tangannya semakin bingung dengan apa yang sebenarnya mereka bicarakan, yang membuat mamanya semakin murka.
Dia melangkah. Menatap dalam wanita yang juga mungkin mempunyai pikiran yang sama dengannya.
"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Perusak? Perebut? Apa maksudnya? Dan dia? Dia itu siapa?" George menatap keduanya bingung.
"Apa kamu ingat, Nak! Saat aku bertanya siapa bapakmu?" Seorang wanita cantik yang baru masuk ke dalam rumah tersebut melangkah mendekati anaknya.
"Ish! Mama kok bisa disini?" Haddy menyalami tangan mamanya lembut.
"Shut!" titahnya.
Haddy mendelik malas, dan menatap mamanya lagi yang terus melangkah mendekati Serly.
__ADS_1
"Kamu ingat?" tanyanya lembut.