
"Haddy," gumam semua orang menatapnya heran.
"Jangan kasar-kasar, Tan. Ingat! Dia anak orang. Pegimana kalau dia lapor Polisi dengan tuduhan kekerasan?" Haddy melangkah dan mendekati mereka semua dengan tenangnya.
Ck.
Mamanya George mendelik malas mendengarnya. "Memangnya dia siapa? Cuma rakyat jelata yang minta belas kasihan dari orang macam kita!"
Papanya George juga Haddy menahan amarah mendengarnya.
"Terus, apa bedanya dengan Mamah yang menyanjung tinggi harta kekayaan … tapi melupakan asal mula dari mana berasal?" ucapan suaminya berhasil menohok hati istrinya.
"Sudah cukup Papah merendahkanku di depan Wanita tidak tahu diri ini!" tunjuknya, namun malah pada Haddy yang melindungi tubuh Serly di balik tubuhnya. Membuat dia berdecak kesal.
"Apa yang sudah dia berikan pada kalian, hah? Sampai-sampai kalian begitu menghargainya?" Sorot matanya tajam ke arah Serly.
Serly menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan tersebut.
"Sini kamu! Sini!" Mamanya George menarik tangan Serly kasar.
"Tan. Ayolah. Pakai otaknya. Dia bukan embe yang harus ditarik-tarik." Haddy melangkah berusaha menghalanginya.
"Diam kau! Jangan ikut campur urusanku!" Tangannya mengibas dan berhasil mengenai wajah Haddy.
"Mah. Cukup. Mamah sudah keterlaluan!" teriak suaminya sangat marah.
Mamanya George tidak menggubris. Dia terus menarik tangan Serly kuat, menyeretnya menuju pintu.
Serly yang diperlakukan seperti itu hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.
"George. Lo kemana dulu, sih. Nih macan udah ngamuk!" gumam Haddy cemas, dan melangkahkan kakinya menyusul mereka semua.
Tepat di ambang pintu, mamanya George kembali mengeluarkan makiannya pada Serly.
__ADS_1
"Gara-gara kamu! Suamiku jadi marah dan tidak menghargaiku lagi!" ucapnya tidak menggubris rintihan juga tangisan Serly yang kesakitan.
"Dasar wanita tidak tahu diri! J4l4ng! Rakyat jelata! Kau tidak pantas berada disini! Pergi!" ucapnya dan mendorong tubuh Serly kuat.
Brukkk!
Papa juga Haddy terkejut melihatnya. Termasuk beberapa orang yang juga kepo sama makian majikannya.
Mereka menganga tidak percaya. Namun,
Tak lama, Haddy menghela nafas sambil tersenyum tipis saat melihat Serly ternyata jatuh di dada sahabatnya. Begitupun dengan Papah.
George menatap Serly sedih. Lalu, menatap wanita yang sudah mendorong pacarnya dengan sorot mata yang berbeda.
Deru nafasnya naik turun, serta kedua belah tangannya mengepal kuat.
"Mamah-" ucapannya terhenti kala Serly meraih tangannya yang sudah siap untuk melayangkan pukulan padanya.
Kedipan mata darinya membuat George luluh.
"Dia ibumu, George. Kamu tidak boleh seperti itu," ucap Serly lirih.
George menghela nafas dan menurunkan tangannya. Dia menggenggam tangan Serly erat. Lalu, membawanya keluar dari rumah tersebut.
Papah melihat kepergian anaknya dengan hati yang hancur. Gara-gara harta, istrinya jadi pongah dan melupakan jati dirinya sendiri.
"Om." Haddy yang berada di sampingnya, mengelus bahu omnya lembut.
"Om gak usah khawatir. George masih labil. Dia baru merasakan sayang di sayangi. Maklumi saja," ucapnya memberi pengertian.
"Hm. Om titip George padamu. Kalau ada apa-apa… kamu kabari Om aja!" ucapnya seraya menepuk pundak Haddy pelan.
"Gak usah. Biarin saja anak itu sengsara!" ucap istrinya.
__ADS_1
"Mah-"
"Udah, Om. Jan dilayani. Nanti keenakan!"
"Ck." Papa George tersenyum.
"Kalau begono … saya pamit, Om. Jan lupa kirim baju-bajunya George. Dia gak ganti baju dari kemarin."
"Hm."
Kemudian Haddy melangkah menghadap tantenya. Yang tidak bisa dipungkiri kalau dia masih cantik, meski usianya sudah cukup tua.
Mereka saling tatap cukup lama. Dengan mamanya George menatapnya seakan seorang musuh.
"Tan." ucap Haddy menatap sedikit senyum, "Tante lupa yang namanya jatuh cinta, ya?" tanyanya sedikit sinis.
Mamanya George mendelik dengan bersedekap tangan.
"Om. Ajarin istrinya jatuh cinta dong. Biar tahu bagaimana perasaan anaknya saat ini!"
Papanya George tersengeh.
"Kalau begitu. Saya pamit, Tan. Mohon jangan banyak-banyak nonton sinetron ku menangis, ya. Nanti banjir!"
Setelah mengatakan hal itu, Haddy tertawa dan berlalu dari sana.
Mamah yang merasa diceramahi juga tidak dianggap lagi olehnya, mengepalkan tangannya tidak suka.
"Ini semua gara-gara kamu, Pah!" ucapnya sambil menghentakan kaki, lalu masuk ke dalam dengan tampang marah.
Papah hanya bisa menghela nafas sambil berharap istrinya akan berubah suatu saat nanti. Jujur! Dia juga suka pada calon menantunya.
Selain sabar, dia juga cantik dan rajin. Maka tidak salah George mencintainya. Dia akan mendukung apa pun keputusan anaknya.
__ADS_1