
Serly mengikuti langkah bocah di depannya, yang entah akan kemana ia membawanya jalan.
"Sebenarnya kita ini mau kemana, sih?" tanya Serly mulai lelah mengikutinya.
"Tunggu sebentar lagi, Tan! Tante pasti akan suka dengan tempatnya," jelasnya penuh keyakinan.
"Awas aja kalo tempatnya nggak bagus," ancam Serly.
"Tenang aja," ucapnya santai.
*****
Selang beberapa menit, dia menghentikan langkahnya.
Serly yang selama perjalanan tidak fokus, menatapnya heran. "Ada apa?" tanyanya.
Bocah tersebut menghela nafas, "coba Tante lihat ke depan deh," ucapnya sambil menghirup udara sedalam-dalamnya.
"Tante jangan nunduk terus dong," tambahnya menggoda Serly sambil menyunggingkan bibirnya.
Serly mendelikan matanya. Lalu, ia melihat ke arah depan mengikuti arahan bocah tersebut.
Waw.
Serly menatap takjub tempat tersebut. "Ini, ini sungguh luar biasa. Cantik sekali. Sangat cantik sekali," ucapnya sambil tersenyum manis.
Dia menghirup udara sedalam-dalamnya, menikmati tempat tersebut.
Ia begitu terkesan melihat area sekitar yang begitu indah.
Pelataran yang seperti gunung dan ditumbuhi banyak bunga yang berwarna-warni juga pepohonan kecil di sekitarnya.
"Apa kamu yang membuat ini?" tanya Serly masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari tempat tersebut.
Dia menggeleng kuat.
Lalu Serly menoleh, memandang wajah bocah tersebut cukup serius.
"Ini tempat favorit adikku. Dia yang membuatnya," jawabnya tersenyum miris. Seperti ada yang tersirat dari tempat tersebut.
"Adik?" tanya Serly memastikan apa yang dia dengar itu adalah benar.
Bocah tersebut menganggukan kepalanya pelan. Tatapannya lurus dan kosong ke arah depan... dengan kedua tangan nyaman di dalam saku.
"Maaf jika aku salah bicara," ucap Serly tak enak hati... saat melihat wajahnya yang berubah murung dan dingin.
Dia juga hanya mengangguk saja menjawab pertanyaannya.
"Gak papa, Tan," jawabnya sembari menoleh sekilas ke arah Serly.
"Kalo gitu,... mmm ... gimana kalo kita pulang saja," usul Serly, tidak mau melihat wajahnya yang semakin muram.
Meski di dalam hatinya dia masih sangat ingin sekali di sini.
Bocah itu menoleh. Menatap Serly lama. "Loh. Kok cepet-cepet, sih!" ucapnya heran.
Membuat hati Serly menghangat.
Dia membalas tatapannya lekat, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf, Tan! Mungkin Tante tidak suka, ya, sama tempatnya?" terkanya.
Serly dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan gitu. Aku suka, kok. Suka banget malahan," jawabnya, "aku hanya tidak mau malah membuatmu semakin sedih lagi,'' tambahnya.
Bocah tersebut merungut.
Membuat Serly gemas. "Itu mukanya murung begitu!" ucapnya dengan tangan mengepal ingin mencubitnya.
"Hhhh...."
Serly menatapnya semakin bingung dengan perubahan bocah tersebut, yang dalam sekejap moodnya bisa berubah-ubah.
Serly juga pernah labil, tapi tidak seperti ini.
Mereka berdua saling diam... dengan begitu lama. Sampai pada akhirnya bocah yang berada di samping Serly kembali menatapnya lekat.
__ADS_1
"Apa aku kelihatan banget, ya, Tan, menyedihkannya?" tanyanya dengan nada hampa.
Serly mengangguk pelan. "Apa ada sesuatu yang berat tentang tempat ini?" tanya Serly memberanikan diri.
Dia menghela nafas, lalu berjalan melanjutkan langkahnya memasuki kebun bunga tersebut.
"Ini adalah salah satu kenangan dari adikku," jawabnya seraya memetik satu tangkai bunga Dahlia.
Serly yang juga kepo, berjalan mengikutinya seraya mendengarkan dengan seksama semua keluh kesahnya.
"Duduk!" ajaknya dengan menepuk sebuah kursi besi yang ada di tengah taman bunga tersebut.
Serly mengangguk, dan mereka duduk berduaan di kursi tersebut, dengan berbagai jenis bunga menghias di sekeliling mereka.
"Terus ... sekarang dimana adikmu?" tanya Serly yang belum tahu asal usulnya.
Dia menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaannya.
"Dia udah tenang di sisi-Nya," jawabnya dengan raut wajah murung.
"Maaf! Aku tidak bermaksud begitu," katanya merasa tak enak hati.
Dia tersenyum manis ke arah Serly. Wajahnya yang polos terlihat tak bersemangat saat ini.
"Kami saudara kembar ... dan aku adalah kakaknya-"
Serly menatapnya sendu. Dia yakin pelupuk mata bocah tersebut sudah tersedia banyak air mata yang siap untuk meluncur, dan benar.
Dia langsung menundukkan kepalanya sedih, seperti tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Tak lama, terlihat bahunya bergetar.
Yang Serly pikir dia tengah menangis.
Ia menghela nafas dan bergeser sedikit mendekatkan badannya ke bocah tersebut, dan ia mengelus-ngelus pelan punggungnya.
"Sabar!" ucap Serly tidak mengerti soal menghibur orang, apalagi seperti ini.
Ini untuk pertama kalinya buat Serly melihat Laki-laki menangis.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini mungkin udah takdir dari yang Maha Kuasa," ucapnya berusaha untuk menghibur.
"Aku gak tahu ini takdir atau apa? Yang jelas, Adikku pergi karena kelalaianku, Tan,'' ucapnya lirih, ''dia pergi di saat di rumah hanya ada kami berdua," tambahnya yang membuat Serly semakin kasihan dan bingung harus bagaimana menanggapinya.
"Dia sedari kecil mempunyai kelainan," ucapnya tanpa menjelaskan penyakit apa yang diderita oleh adiknya.
Serly hanya diam sambil mendengarkan.
"Saat itu ...."
\_\_\_\_\_\_ Flash back \_\_\_\_\_\_
Dua bocah berumur 10 tahun --- Laki-laki dan perempuan sedang bersama-sama di ruang televisi.
Mereka tengah mengerjakan tugas sekolah bersama-sama sambil menonton sebuah serial kartun di TV.
Di rumah tersebut hanya ada mereka berdua.
Kedua orang tuanya masih berada di kantor. Mereka selalu sibuk dengan mencari uang, uang dan uang.
Sampai-sampai mereka jarang bercengkrama dengan kedua anak-anaknya tersebut, dan hanya dibulan-bulan tertentu juga tanggal-tanggal tertentu saja mereka ada di rumah.
Pagi-pagi mereka baru bisa melihat kedua orang tuanya, itu juga hanya di meja makan saja.
Semua keperluan kedua bocah tersebut mereka serahkan kepada seorang Babysitter nya sedari kecil.
Kedua orang tua bocah-bocah tersebut tidak begitu memperdulikan mereka berdua. Yang no satu ada dipikiran mereka adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.
***
Di jam-jam berikutnya, sang adik mengeluh sakit di area dadanya... dengan keringat halus dan dingin keluar dari setiap pori-pori wajahnya.
Bocah Laki-laki yang belum terlalu paham akan apa maksudnya, malah menggoda sang adik yang terus mengaduh kesakitan.
"Kamu punya pacar, ya? Itu pasti kamu baru ditolak. Makannya dadamu sakit, Dek!" godanya sambil menoleh sebentar. Lalu, fokus lagi ke layar televisi yang tengah menayangkan serial kartun kesukaanya.
__ADS_1
"Kak. Aku beneran ... dadaku sakit sekali," aduhnya dengan wajah memucat.
"Orang yang kamu sukai lagi mikirin kamu kali?" ucapnya tanpa menoleh padanya.
"Kakak," panggilnya dengan suara tertahan.
"Apa, sih, Dek! Jangan ganggu, ih!" jawabnya sembari menyenggol sebuah tangan yang memegangi bahunya.
"Kak! Da-da-ku se-sak, Kak!" ucapnya terbata-bata.
Membuat bocah Laki-laki yang sedari tadi terus menggodanya tersadar saat ia mendengarnya mengaduh sesak.
Dia baru ingat kalo adiknya itu mempunyai sebuah penyakit yang cukup parah.
Dengan cepat dia menoleh, melihat adiknya yang sudah bersandar lemas pada kursi yang ada di belakang tubuhnya.
Kepalanya terkulai ke atas kursi dengan napas yang tersengal-sengal dan wajah pucat di penuhi banyak keringat dingin.
"Dek. Dek." Dia menepuk-nepuk pipinya, yang sedikitpun tidak bereaksi untuk menjawabnya lagi, dan dia berinisiatif untuk memangku tubuhnya saja.
Dia mengarahkan sebelah tangannya, berusaha untuk memangkunya yang sangat susah, karena badannya yang cukup lebih berisi darinya.
"Bi! Bibi!" Dia berteriak-teriak kencang mencari bantuan.
Tida ada sahutan sama sekali. Seorang pun tidak ada yang menjawab teriakannya.
Dia menghela napas sembari terus berusaha berjalan, meski lambat ke arah pintu utama, yang sialnya ternyata pintu tersebut sangat sulit sekali untuk dia buka.
Bocah laki-laki tersebut menurunkan terlebih dahulu adiknya di atas lantai yang dingin, dan ia segera meraih pegangan pintu seraya membukanya.
"Sabar, ya, Dek! Kamu tahan sebentar, ya! Kakak akan membawamu ke rumah sakit sekarang," ucapnya dengan sangat cemas, cemas sekali.
Ditepi jalan, dia menghentikan sebuah mobil yang lewat.
"Kenapa, Dek?" tanyanya heran.
"Tolong adikku, Pak! Bawa kami ke rumah sakit sekarang," pintanya sedikit memohon.
"Ibumu kemana? Bapamu?" tanyanya malah menanyakan kedua orang tuanya.
"Mereka masih bekerja, Pak." jawabnya dengan sang adik terus berada digendongannya.
Tangannya yang sudah tidak kuat lagi untuk menahan bobot tubuh adiknya, sedikit melemas.
"Sini, Dek. Biar Bapak yang bawa," ucapnya sembari mengambil anak yang berada digendongannya.
Mereka berangkat ke rumah sakit bersama bapak-bapak yang tak lain adalah tetangga mereka sendiri.
*****
Setibanya di rumah sakit, mereka langsung membawanya ke UGD, dan harus mendengar sebuah kabar yang tidak ingin sekali dan takut untuk didengar oleh bocah Laki-laki tersebut.
Dia menangis histeris saat mendapat kabar kalau separuh jiwanya sudah pergi diambil oleh-Nya lagi.
Dia terus menangis tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Seperti ada rasa yang kuat... menghilang dari hatinya.
Bocah tersebut segera berlari, saat sebuah jasad yang itu adalah adiknya yang sudah ditutupi kain putih akan dibawa ke ruang jenazah.
Sembari memeluk tubuhnya, dia terus meraung-raung tidak memperdulikan tatapan semua orang terhadapnya.
Secara berulang kali juga dia meminta maaf padanya, karena tadi malah terus menggodanya tanpa menghiraukan rasa sakit yang adiknya rasakan.
Mamah juga Papah datang setelah sekian jam adiknya tiada.
Mereka menangis seperti bagaimana orang tua yang kehilangan anak kesayangannya.
Mereka sesekali menatapnya sendu, dan memeluk keduanya dengan tangis yang benar-benar sedih.
Dia pikir, orang tuanya akan menyalahkannya karena lalai menjaga adiknya, tapi apa yang aku dengar?
Mereka malah bilang "Mungkin ini semua sudah takdir dari-Nya, kita harus bisa mengikhlaskannya, Sayang!"
Untuk saat itu, dia mengangguk patuh sama perkataan kedua orang tuanya, karena ia memang belum terlalu paham, dan, ya, mungkin karena dia masih kecil.
****
__ADS_1
Selang beberapa jam, kami membawa kembali jasad bocah tersebut ke rumah... dan mengurus semuanya sampai tuntas --- sampai 7 hari dan seterusnya hingga selesai.