Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Bibirnya Seperti Cake Spesial


__ADS_3

Hari semakin sore, dan George masih betah disana menikmati harumnya bunga semerbak menusuk ke lubang hidungnya.


Berbeda dengan Serly. Ia sudah bosan dan tidak enak duduk. 


Sekeliling taman yang luas itu sudah ia telusuri sampai puas. Namun, George masih saja belum peka akan kebosanannya.


Ia diam sambil menatap satu bunga di hadapannya. "Jika aku bosan… apa yang akan kamu lakukan?" ucapnya sambil memetik bunga tersebut secara perlahan. Takut terkena durinya.


George menoleh. "Aku pasti akan menghibur Tante… sampai Tante tidak akan merasa bosan lagi," ucapnya dengan tatapan kembali pada hamparan bunga-bunga.


"Tapi, gimana kalau aku hanya pura-pura merasa terhibur?" Serly mencabut kasar satu-persatu kelopak bunga yang tadi ia petik.


George menatapnya lama. "Kepura-puraan hanya akan menyiksa perasaan Tante," jawabnya enteng.


Ish!


Serly melempar sembarangan puntung bunga yang sudah tidak berkelopak lagi. Ia melangkah mendekati George yang biasa-biasa saja meliriknya.


"George-"


"Aku tahu. Tapi, aku masih ingin disini," jawabnya menyela ucapan Serly.


Serly cemberut dengan kedua tangan  menyilang di dada.


"Jangan ngambek. Aku hanya ingin mengenang masa-masa kebersamaanku dengan adikku," ucapnya sambil mencubit hidung Serly gemas.


Serly mendengus sembari membalik tubuhnya memunggungi George.


George tersenyum lucu. Kemudian ia merapatkan tubuhnya memeluk Serly dari belakang… dengan kepala ia sandarkan pada pundaknya. "Jangan marah. Nanti cantiknya ilang."


Serly menoleh dengan sedikit mengangkat kepalanya.


Cup.


Sebuah kecupan George daratkan di pipinya.


"Aku tidak ingin melihat gelapnya dunia tanpa senyuman dari Tante," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.


Serly bergerak berusaha membalikkan tubuhnya menghadap George.


"Diamlah. Aku ingin merasakan hangatnya dunia dengan terus memeluk Tante seperti ini."


Serly menghela nafas dan membiarkannya untuk terus memeluknya seperti ini.

__ADS_1


George tersenyum dan memejamkan matanya, menikmati angin yang berhembus menerbang aroma bunga yang khas menusuk hidungnya.


"Harum ini… harum aroma bunga kesukaan adikku," ucapnya membuat Serly takut.


"George. Jangan menakut-nakutiku," ucap Serly sambil berusaha membalikkan tubuhnya.


George tersenyum dan sedikit melonggarkan pelukannya. Sehingga membuat Serly mudah bergerak.


"Jangan takut. Tante aman bersamaku."


"Tapi, George-"


"Dia adikku. Dia gak mungkin akan menakuti Tante."


Serly mendongak menatap wajahnya dalam. "Tetap, George. Aku takut jika adikmu tiba-tiba ada di dekat kita."


"Itu bagus, dong. Jadi-"


"George!" Serly menatapnya tajam.


George terkekeh dan mencium keningnya sekilas. "Aku bercanda," ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya pada pipi George.


Serly mendelik. "Candaanmu tidak lucu, George!"


Perlahan, kedua bola mata Serly terpejam saat George mulai mendekatkan wajahnya dan dahi mereka beradu sempurna.


Sebelah tangan George terangkat dan menyentuh bibirnya lembut. Kemudian merayap ke belakang dan menarik tengkuknya pelan.


Hidung mereka beradu. Deru nafasnya saling mereka rasakan.


George semakin mendekat dan mendekatkan bibirnya sampai kedua menempel sempurna.


Perlahan ia meng3cupnya dan meng3cupnya, sampai k3cupan tersebut berubah menjadi sebuah pagut4n.


George terus memainkan bib1r bawahnya sampai Serly merasakan ada gelora yang berbeda menyerang tubuhnya.


Ia semakin mengeratkan pelukannya dengan sebelah tangan mencekal kaos yang dipakai George kuat.


George menghentikan c1umannya. Ia menatap lama wajah pemilik bib1r termanis yang pernah ia rasakan.


Serly menunduk merasa malu sendiri.


"B1bir Tante manis. Kayak cake merah yang Tante buat," ucapnya membuat Serly semakin malu.

__ADS_1


"Aku mau lagi!"


Serly terkejut mendengarnya. Ia mendongak menatapnya sekilas, dan hendak berpaling, namun George menahannya lagi.


Ia m3magut dan *3***** bib1rnya sedikit bern4fsu dari yang tadi. Membuat Serly semakin gelisah merasakannya gelora di tubuhnya.


Entah kenapa, c1uman tersebut malah membuat Serly semakin menginginkan hal lebih.


Ia mengalungkan kedua tangannya menikmati c1uman George yang semakin lihai meng3mut bib1r juga lid4hnya.


George tersenyum sedikit, dan menelusupkan sebelah tangannya ke ceruk l3her Serly, semakin memperdalam c1umannya.


Ternyata c1uman tersebut sangat menguras energinya. Serly mendorong pelan dada George, dan George langsung melepaskan c1umannya.


Ia tersenyum melihat Serly yang terengah-engah menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Kamu … buas, George," ucapnya sambil terus menarik dan menghembuskan nafas.


George menggaruk tengkuknya pelan. "Habisnya… b1bir Tante manis."


Serly menarik sudut bibirnya tipis.


"Semanis red velvet spesial bikinan Tante. Lembut… juga sangat menggoda!"


"Ish! Pandai banget merayu!"


George terkekeh. "Mau lagi!" ucapnya sambil mengedipkan matanya menggoda.


Serly mendelik. "Sudah cukup, George. Nanti nafasku habis," ucapnya ketus.


"Kan. Nanti aku kasih nafas buatan!" kilahnya.


"Ya ampun, George. Kamu masih di bawah umur!"


"Tapi aku sudah pantas, dong… kalau berada diatas kasur!"


"Astaga, George!" Serly melongo mendengarnya. Kepalanya menggeleng saat melihat George hanya musam-mesem biasa saja.


"Canda, Tante," ucapnya sambil menggaruk tengkuknya pelan.


"Canda. Tapi, beneran sudah tahu…."


"Hehe…." George nyengir sedikit malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2