
Setelah merasa rapi dan tidak kurang tidak lebih, Serly langsung meminta George untuk membawanya.
"Ini kita kirim ke mana, Tan?" tanya George seraya membawa box tersebut ke mobilnya.
Serly tersenyum dan mengeluarkan sebuah kartu nama milik si pemesan. "Kita ke alamat itu. Kamu tahu 'kan?" tanyanya.
George mengangguk. "Tahu, dong," ucapnya, kemudian masuk ke dalam mobil kesayangannya itu bersama sang tunangan. Lalu, pergi dari sana menuju sebuah alamat yang tertera dengan jelas.
.
.
Selang beberapa menit, akhirnya mereka sampai di alamat tersebut.
Serly segera turun dari mobil tunangannya itu, dan diikuti oleh George yang membawa semua cake pesanannya.
"Eh, Neng Serly. Yuk, masuk, masuk," ajak seorang wanita yang baru saja keluar dari rumahnya.
Serly tersenyum, lalu mengikutinya bersama sang tunangan ke dalam rumah tersebut.
Dan tanpa membuang waktu yang banyak, mereka segera pamit setelah bincangan ringan di antara mereka bertiga selesai.
Kedua kembali masuk ke dalam mobil, dan pergi dari sana menuju sebuah tempat yang cukup populer untuk beromantis-romantisan.
Serly menarik napas, lalu bersandar pada pundak George yang kokoh.
"Gak nyangka… akhirnya kita begini juga, George." Dia menatap kosong pada jalanan kota yang cukup ramai.
George menoleh, lalu tersenyum hangat padanya. "Semua usaha, pasti bakal mendapatkan hasil yang memuaskan, Tan."
Serly mengangguk. "Ahhh, rasanya aku ingin berteriak, George. Aku ingin memberitahu semua orang kalau aku orang yang paling bahagia di muka bumi ini."
George terkekeh, dan terkesiap saat melihat tunangannya melepaskan sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya.
"Eh, Tan. Ngapain?" tanyanya terkejut.
Serly tidak menggubris. Dia segera menekan sebuah tombol yang akan membuka atap mobil tersebut.
"Tan!"
"Biarkan aku berteriak, George. Aku ingin meluapkannya."
__ADS_1
George terkekeh seraya geleng-geleng kepala. "Oke, tapi hati-hati, ya. Jangan sampai Tante jatuh."
Serly mengangguk, dan mulai berdiri dari duduknya. Dia membentangkan kedua tangannya dengan sebuah jaket ikut ia bentangkan.
"AAAAAAAAAAAA… BAHAGIAAAA. AKU SANGAT BAHAGIA! AKU BENAR-BENAR SANGAT BAHAGIA," teriaknya, berhasil mencuri perhatian semua orang yang ada di jalan tersebut.
George tersenyum sembari memperlambat laju mobilnya.
"YEAH… AKU SANGAT BAHAGIA AKHIRNYA BISA MENAKLUKANMU JUGA."
"TERIMA KASIH... JALANNYA SANGATLAH PERFECT. PALING BEST DARI SEMUA SCENARIO YANG ADA. THANK YOU! THANK YOU, THANK YOU."
George hanya tersenyum-senyum mendengarnya. Dia merasa unik melihat tingkah tunangannya yang seperti itu.
Serly menarik napas, lalu menoleh sekilas pada Bocah SMA yang tengah menyetir dengan seragam abu putih masih melekat di tubuhnya.
George tersenyum.
"I love you, George," ucapnya pelan.
George menyunggingkan sebelah bibirnya.
"I love you, Tante."
"BOCAH! SARANGHAE!" teriaknya dengan kedua tangan membentang.
George terkekeh, lalu meraih p1nggUlnya supaya duduk kembali.
"Kenapa?" tanya Serly sedikit cemberut.
George menggeleng, lalu menepikan mobilnya sembarangan.
"Loh?"
George menarik napas, lalu menekan sebuah tombol yang akan menutup kembali atap mobilnya. Dan seketika itu juga,
Bersamaan dengan atap mobil tertutup, kedua b1b1r mereka saling menaut. M3m4gut dengan penuh arti, memperdalamnya dengan sebuah lUm4tan, dan berakhir dengan saling menginginkan.
George mendorong tubuh Serly sedikit lembut, sampai si empunya berhasil berbaring dan keduanya bisa saling menikmati momen yang penuh cinta.
Serly melenguh saat dengan sengaja George mengh1sap satu titik sensitif dari lehernya.
__ADS_1
"Georgehhhhhh…." lenguhnya dengan kedua tangan m3r3mas-r3mas belakang kepala Bocah itu.
George tersenyum seraya m3n3lusupkan satu tangannya ke balik pakaian yang Serly kenakan, dan berhasil meraih satu bul4t4n p4d4t milik tunangannya.
"George, ahhhh."
"Aku akan menyicilnya, Tan," bisik George sembari menyingkapkan pakaian wanita itu sampai d4d4.
Serly terkesiap, dan seketika tersadar sama apa yang akan bocah itu lakukan padanya. Tapi,
"Unghh, George." Dia m3l3nguh saat Bocah itu telah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Mmhhhhh, Georgehhh. Nghhh, berenti, George." Serly meliukan tubuhnya yang terasa geli-geli nikmat menggelinjang.
George tersenyum sembari terus m3ng3muti satu persatu dari dua pucuk pink soft milik tunangannya itu.
"George, stop. Aku gak tahan," desis Serly saat merasakan ada sesuatu yang mendorong tubuhnya dari dalam.
"Keluarkan, Sayang." George mendongak dengan tangan yang perlahan merayap ke area paling bawah dari titik sensitifnya.
"George. Nghhh, stop, George. Aku tidak tidak mengerti," desahnya.
George terkekeh, lalu duduk dan menarik kedua tangan Serly supaya duduk juga. Kemudian ia menuntunnya untuk duduk di atas pangkuannya.
"George,"
"Sudah cepat. Ini kalau dibiarin, bisa berabe, Tan," ucapnya, menuntun Serly untuk duduk di atas pangkuannya.
Serly mendelik dengan rona merah muda di kedua pipinya.
"Kalau Tante gak tahan, keluarin aja. Gak usah ditahan," ucapnya sembari membuka semua kancing kemeja yang wanita itu kenakan.
Serly hanya diam. Ia benar-benar tidak paham sama apa yang harus ia keluarkan itu.
Ia hanya diam sembari melihat bocah yang m3n3l4njang1 setengah dari tubuhnya.
"George. Udah aja, ya. Nanti ada yang liat gimana?"
George tidak menggubris. Ia benar-benar sudah sangat tergoda dengan dua bulatan sempurna yang selama ini ingin ia nikmati.
"Akhirnya, ini buah mede diserahkan sepenuhnya juga," batinnya, mengelus-ngelus buah tersebut dengan mata berbinar.
__ADS_1
"George."
"Aku ingin segera menikahimu, Tan," ucapnya, dan langsung menunduk, mendekatkan seluruh wajahnya pada b3l4h4n d4d4 milik wanitanya.