Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Biarkan Aku Untuk Merawat Tante


__ADS_3

George terus memandangi wajahnya dari balik cermin sambil tersenyum bangga melihat wajah yang begitu tampan, menurutnya. Tapi,


Perlahan matanya turun, memperhatikan pakaian apa yang dikenakannya.


Seketika wajah George jadi murung. Dia menghela nafas kasar.


"Tampang udah oke … body juga udah keren. Tapi baju? Yaahhhh …."


George menghempaskan tubuhnya di atas kasur Serly. Dia mengacak rambutnya kasar, sebenarnya tidak suka sama pakaian yang tengah ia kenakan sekarang. Menurutnya itu sangat kuno. Benar-benar kuno.


Kemudian dia menghembuskan nafasnya, lalu terduduk kembali.


Senyumnya tercetak dengan ide cemerlang melintas di otaknya.


Tok…, tok.


"George. Udah belum ganti bajunya? Kita makan, yuk!" Serly menunggunya di depan pintu.


"Iya, Tan. Bentar. Aku udah selesai, kok," jawab George dari dalam, dan tak lama….


Dia keluar dengan pakaian yang berbeda.


"George?!" Mulut Serly menganga dan segera ia tutup menggunakan kedua belah tangannya.


George yang dipandang seperti itu hanya tersengeh, memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Ya ampun, George. Ngapain kamu pakai ini, sih?" Serly memutar tubuh George 360°c.


George malah tersenyum bangga. "Bagaimana, Tan? Aku cocok 'kan, pakai sweater Tante?" ucapnya sambil bergaya so' keren.


Serly menggelengkan kepalanya. "Ada-ada saja kamu, George. Ini sweater khusus cewek. Warnanya juga buat cewek. Ngapain kamu pakai? Bukankah-" ucapan Serly terhenti saat ingatannya kembali pada baju yang tadi ia berikan padanya.


"Bentar, George. Baju yang-" ucapannya kembali terhenti saat George langsung mengangkat ujung sweater tersebut, dan memperlihatkan baju yang tadi Serly pinjamkan padanya.


"Gak usah khawatir, Tan. Aku pake, kok, bajunya. Aku pinjam ini karena aku kedinginan, Tan. Masa cuma pake kaos pendek aja," ucapnya seraya keluar dari kamarnya Serly.


Serly tersenyum dan menutup pintu kamarnya.


Mereka melangkah bersama menuju dapur, ikut bergabung bersama ibunya Serly yang tengah menata masakannya.

__ADS_1


"Eh, Nak. Udah selesai?" ucap ibunya Serly berbasa-basi.


George tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Sekarang makanlah … moga ini akan meredakan sedikit rasa dingin kalian," ucapnya tersenyum ramah.


Serly juga George mengangguk kecil. Kemudian mereka menyantap semua masakan buatan ibunya Serly bersama-sama.


Tok…, tok.


Mereka semua mengalihkan tatapannya ke arah ruang tamu.


"Siapa?" tanya Serly dengan tampang heran.


George mengedikkan bahunya. 


"Biar Ibu cek dulu," ucapnya ibunya Serly seraya bangkit dari sana, dan tak lama beliau kembali bersama seorang Laki-laki dengan rambut yang basah dan sedikit acak-acakan.


"Ck."


George memutar bola matanya malas. "Ngapain, sih, lo kemari lagi?" ucapnya sinis.


"Caelah. Lo kesini cuma mau numpang makan doang?" George menatapny tidak suka.


Haddy tidak menggubris. Dia sudah asyik menikmati masakan ibunya Serly yang kelewat enak itu, membuatnya ingin nambah lagi, lagi dan lagi.


****


Setelah merasa kenyang. Semuanya kembali ke ruang tamu, tapi tidak dengan ibunya Serly yang malah masuk ke dalam kamarnya. Katanya 'beliau lelah dan butuh banyak istirahat'


Itu sebenarnya sudah biasa, namun Serly tetap khawatir padanya.


"Kalian ngobrol aja. Aku mau cek Ibu dulu."


"Aku ikut," ucap George sambil beranjak mengikuti Serly.


"Ck. Lo udah kaya Emak ama anak-" ucapan Haddy terhenti kala melihat lirikan tajam dari Serly.


"Ampun Ateu Bohay," ucapnya pelan.

__ADS_1


George terkekeh dan membuntutinya sampai ke ambang pintu.


Serly menghentikan langkahnya dan berbalik menatap George. "Kamu pulang sana. Sebentar lagi magrib. Nanti kemalaman pulang-"


Hatsyi!


"Kemalaman pulangnya, George."


Hatsyi!


Hatsyi!


Serly menggosok-gosok hidungnya yang terasa gatal dan terus bersin-bersin. "Yaelah. Nih,  idung kenapa, sih?" gerutunya.


George tersenyum merasa lucu. Kemudian ia menempelkan punggung tangannya pada kedua pipi juga dahi Serly. "Ya Allah, Tan. Tante demam," ucapnya saat merasakan suhu yang berbeda dengan dirinya.


Serly menggeleng pelan. "Ini mah biasa, George. Kamu jug-"


Hatsyi!


Dia kembali bersin, dan itu tidak sekali. Dia terus bersin-bersin sampai tubuhnya merasa sedikit lelah. Membuat George khawatir padanya.


Dia membawa Serly masuk ke dalam kamarnya, lalu ia selimuti dengan penuh perhatian.


"Maafin aku, Tan. Gara-gara aku … Tante jadi sakit seperti ini," ucapnya seraya mengelus kening Serly.


Serly tersenyum. "Pulang sana. Sebentar lagi-"


Hatsyi!


"Maghrib, George."


Hatsyi!


George menggeleng sambil menggenggam sebelah tangannya. "Aku disini aja. Jagain Tante."


Serly menggeleng. "Pulang aja. Aku tidak apa-apa, kok. Cuma demam biasa aja," ucapnya dengan tubuh menggigil, juga bersin-bersin yang belum ada akhirnya.


"Biarkan aku untuk merawat Tante. Aku tidak akan bisa tenang jika meninggalkan Tante dalam kondisi yang seperti ini." George kembali mengelus-ngelus kening Serly sayang.

__ADS_1


"Makasih, George." Serly membalas genggaman tangannya dengan senyum indah tercetak di wajahnya.


__ADS_2