
Di rumah sakit, George yang baru dipindahkan ke ruang inap, terbaring lemah di atas sebuah kasur persegi panjang dengan selang infus tertancap di tangannya.
Matanya masih terpejam dengan detak jantung yang beraturan.
Seorang wanita yang sedang duduk di kursi dekat kasur tersebut, menggenggam sebelah tangannya erat... dengan air mata yang tidak henti-hentinya menetes.
"Maafin Mamah, Sayang. Maafin Mamah," ucapnya lirih. Dia mengecup sekilas punggung tangan sang anak dengan penuh penyesalan.
Tak lama,
Perlahan George membuka matanya, sampai terlihat lensa matanya yang indah.
Tatapannya mengedar ke sekeliling ruangan tersebut, dan yang ada dipikirannya adalah ia sedang berada di alam lain.
Seketika perasaan menjadi cemas. Matanya ia kedip-kedipkan secara berulang, namun ruangan tersebut tetap putih.
Dia menghela napas, dan tersadar bahwa hidungnya mencium sesuatu.
Yah. Bau obat-obatan yang begitu pekat tercium oleh hidungnya.
George menunduk, merasakan ada seseorang yang tengah menggenggam tangannya.
"Ma-mah!" ucapnya pelan, hampir tak terdengar.
Seorang wanita yang tengah menunduk di samping tubuhnya, mempertajam pendengarannya.
"Aku dimana, Mah?" tanyanya memastikan, bahwa ia belum mati.
Sang Mamah yang kali ini mendengar jelas suaranya, segera mendongak.
"Alhamdulillah, Sayang. Kamu sudah sadar, Nak!" ucapnya sangat bahagia. Dia menatap wajah pucatnya dengan senyum yang merekah.
Tangannya yang masih beliau genggam, dicium secara berulang dan mengelus kepalanya lembut.
"Sebentar, ya. Mamah panggil Dokter dulu," ucapnya seraya bangkit.
Namun,
Cklek!
Tatapannya keduanya beralih pada pintu ruangan yang terbuka.
"Papah," gumam George, menatap Pria yang tengah berjalan mendekatinya dengan seorang Dokter juga Suster mengikutinya dari belakang.
"Alhamdulillah, Sayang. Kamu sudah siuman," ucapnya berdiri di samping George dengan tangan nyaman di dalam saku.
"Sebentar, ya. Biar aku periksa terlebih dahulu," ucap Dokter dan Suster siap untuk mencatatnya.
__ADS_1
Papa George mengangguk dan memberinya jalan.
Mereka berdua memperhatikan sembari mendengarkan semua ucapan Dokter pada putranya.
"Alhamdulillah. Semuanya sudah membaik. Aden hanya butuh istirahat … dan jangan lupa dimakan obatnya, ya!" ucapnya.
George mengangguk samar.
Setelah itu, Dokter tersebut pun pamit dengan seorang Suster terus mengikutinya.
"Sayang!" Mamanya menatap sendu sang anak.
George yang sudah ingat sama semua kejadiannya, menitikan air mata seraya memalingkan wajahnya.
"Maafin, Mamah," ucapnya sembari duduk dan menggenggam tangannya lagi.
George tidak menggubris. Hatinya benar-benar sakit.
"Mamah sadar sekarang. Mamah minta maaf. Mamah akan melakukan dan menuruti semua kemauanmu," ucapnya benar-benar tulus.
George menyeka air matanya terlebih dahulu, "semuanya sudah terlambat. Tante tidak mungkin mau kembali lagi padaku," gumamnya lirih.
"Sayang," sang papah duduk dan mengelus kepalanya lembut, "kamu tenang saja, ya! Haddy tengah menjem-"
Brak!
"Dy?" ucap Tante juga omnya bersamaan.
Haddy tersenyum sekilas, lalu mengusap-ngusap belakang kepalanya pelan. Dia bingung harus ceritainnya dari mana, dan George ternyata sudah bangun.
"Eh, Sobat gue udah siuman, ya!" ucapnya mengalihkan suasana galaunya.
George menatapnya dengan mata yang sembab, dan Haddy langsung mendekati omnya. Lalu, membisikkan sesuatu pada telinganya.
"Begitu, Om," ucapnya di akhir.
Papa George menatapnya intens. Dia juga bingung harus bagaimana menyampaikan berita ini pada anaknya.
"Ada apa? Kenapa kalian bisik-bisik?" tanya George menatap mereka berdua curiga.
Haddy menoleh dengan senyum dipaksakan. "Nggak. Gue cuma bilang kalau lo udah kaya orang china," ucapnya berbohong.
George mendelik. "Aku tahu. Tinggalkan aku sendiri disini," ucapnya dingin.
Membuat semuanya menjadi iba.
Haddy menghela napas panjang. "Sorry, George. Gue, gue bukannya mau nutupi ini dari lo-"
__ADS_1
"Gak perlu dijelaskan. Gue udah ikhlas," ucapnya ketus. Lalu menarik selimut yang ada di dadanya sampai menutupi kepala, berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Om. Gimana ini?" tanyanya gelisah.
"Memangnya ada apa?" tanya tantenya.
Mereka berdua menatapnya cukup lama, lalu mengajaknya untuk keluar.
Tanpa mereka sadari, George yang penasaran sama apa yang akan mereka sembunyikan darinya… melangkah mengikuti mereka dan menguping di balik pintu.
"Gini, Tante. Malam ini… Tante Bohay dilamar dan akan langsung dinikahkan besok paginya."
Mama George terkejut.
"Terus?"
"Itu dia, Tan, yang bikin kita bingung dan diam. Aku tidak mau membuat George semakin terluka."
Ketiganya terdiam tanpa kata, sampai Haddy kembali bicara.
"Aku dan Dewi sudah rencanain sesuatu. Dan dia udah disana sekarang," ucapnya percaya diri, bahwa rencananya itu akan berjalan sukses.
"Sebentar, Dewi? Siapa dia?"
Haddy nyengir. "Kenalan aku, Tan," jawabnya gagah.
Mama George tersenyum sekilas.
"Aku dan Dewi akan ngegagalin acara tersebut. Dan aku kesini… hanya ingin memberitahu itu."
Keduanya mengangguk pelan seraya mengusap bahu Haddy lembut.
"Makasih atas pengertian kamu pada anak kami. Semoga kamu dan dia mendapatkan akhir yang bahagia."
Haddy tersenyum seraya mengangguk pelan.
George yang mendengarkan semuanya, meluruh lemas bersimpuh di atas lantai.
"Semuanya benar-benar berakhir. Perjuangan juga rasaku tidak ada artinya lagi. Semuanya hancur! Hancur!"
Prang!
George mencopot paksa jarum yang tertancap di tangannya, lalu menepis kuat tiang infusan sampai terjatuh dan menyebabkan kebisingan dari dalam.
Ketiga orang yang ada di luar bergegas masuk dan panik saat melihat George tengah menangis pilu.
__ADS_1