
Hari demi hari telah mereka lewati, dan George belum pulang ke rumahnya sekalipun. Ia terus menginap di rumah sahabatnya---Haddy, dan hari ini…,
Ia berencana akan pulang. Karena papanya terus menelpon dirinya dan berjanji sesuatu padanya. Janji yang membuat George bahagia dan bersemangat.
Ia pulang ke rumahnya tidak akan sendirian. Ia akan membawa serta Wanita yang sangat dicintainya.
***
Beberapa cake sudah Serly siapkan untuk dia bawa kesana. Dengan harapan, mamanya George akan menerimanya.
"George."
"Ya, Tan!" Jawab George sedikit berteriak dari luar rumah Serly.
"Bisa bantu aku?"
Tanpa pikir panjang, George langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bantu apa, Tan?" George memperhatikan beberapa dus cake yang sudah dihias di atas meja.
"Tolong bawa yang itu. Dan aku bawa yang ini!" tunjuknya sambil meraih satu cake paling spesial buatannya.
George mengangguk dan mengambil sisa cake yang masih ada di atas meja.
"Bu. Kami berangkat dulu, ya?" Teriak Serly meminta izin.
Tak lama, datang seorang wanita paruh baya melangkah mendekati mereka.
"Eh. Kirain Ibu di belakang!" Ucap Serly sedikit malu.
Ibunya tersenyum. "Hati-hati!" ucapnya seraya mengelus punggung anaknya.
Serly mengangguk dan menyalami tangan ibunya. Begitupun dengan George. Ia meletakkan terlebih dahulu cake tersebut, dan menyalami tangan calon mertuanya.
"Jaga anak Ibu, ya?" pintanya pada George.
George mengangguk. "Pasti, Bu," dan mereka melangkah bersama dengan beberapa dus cake George tenteng sampai ke mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan.
Sebelum masuk, Serly menatap lama kursi yang akan didudukinya. "Semoga kali ini aku bisa sedikit meluluhkan hati calon mertuaku," gumamnya dan masuk ke dalam mobil tersebut.
George yang paham akan kegelisahannya. Menatap Serly lama.
"Tenang, Tan. Hari ini ada Papah di rumah. Mamah pasti tidak akan begitu lagi," ucapnya sembari menggenggam erat tangan Serly.
Serly menarik sedikit ujung bibirnya dan mengangguk pelan.
***
Mobil melaju membelah jalanan yang cukup ramai, dan berhenti tepat di depan sebuah gerbang yang menjulang sangat tinggi.
Seorang Satpam yang melihat kepulangan anak majikannya langsung membuka gerbang tersebut.
"Aden. Akhirnya Aden pulang," ucapnya sangat bahagia.
George tersenyum dan kembali melajukan mobilnya sampai halaman rumah.
"George!" Sebelum turun. Serly menatap pacarnya dengan sangat cemas.
__ADS_1
"Tante tenang saja. Ada aku disini," ucapnya menyemangatinya lagi.
Serly menghela nafas, kemudian turun bersama-sama mendekati sebuah pintu yang menjulang tinggi.
Tok…, tok.
"Assalamualaikum!"
Meskipun George ada sebuah tombol yang tinggal ia tekan. Tapi, ia belajar untuk lebih sopan.
Serly menatap pintu tersebut dengan jantung yang berdebar-debar. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada George.
Beberapa bayangan dimana ia dihina dan direndahkan oleh ibunya George waktu itu… terus berputar-putar di kepalanya.
George yang merasakan sedikit sakit karena cekalannya, menoleh memperhatikan wajah Serly.
"Aku janji … untuk kali ini, Tante tidak akan terlepas dari genggaman tanganku," gumamnya dengan terus memperhatikan wajah Serly.
Serly menoleh dengan wajah gelisah.
George mengangguk dengan senyum manis tercetak di wajahnya.
Kemudian ia mengetuk pintu itu untuk yang kedua kalinya.
Tak lama, terdengar suara langkah yang mendekat, membuat dada Serly semakin berpacu dua kali lipat.
Cklek.
Pintu terbuka secara perlahan, dan
Deg!
"Mah!" George melangkah dan memberikan beberapa cake yang dibawanya ke seorang Pelayan yang mengikutinya dari belakang.
Serly mendongak. Berusaha untuk tegar menatap wajahnya.
Terlihat jelas dari sorot matanya bahwa ia tidak suka melihat Serly ada di sana.
Keberanian Serly kembali menciut. Ia menunduk menatap lengan yang sudah menggenggam tangannya lagi.
Ia mendongak dan mendapati senyuman dan anggukan kecil darinya.
Sekuat tenaga, Serly berusaha mengeluarkan suaranya.
"Pa-pagi, Tante." sapanya gugup.
"Semoga Tante menyukai cake yang aku buat," ucapnya seraya memberikan cake tersebut ke hadapan calon mertuanya.
Bukannya diambil. Ibunya George malah mendelik sambil bersedekap tangan, membuat Serly lesu dan menurunkan tangannya lagi.
Namun,
"Wah. Apa ini?" Tiba-tiba seorang Pria meraih cake tersebut dan melihatnya.
Serly tersenyum. Apalagi dengan George. Ia sangat bahagia.
"Papah!" ucapnya seraya meraih tangan papanya lembut.
__ADS_1
"George. Kemana aja kamu? Papah pulang kok gak disambut!" ucapnya ketus.
George tersenyum sedikit malu-malu.
"Om." Serly menyalami tangannya dengan senyum termanis ia buat.
"Ah. Ternyata ini yang sudah membuat anakku lupa pulang?" ucapnya membuat Serly sedikit meringis takut dimarahi olehnya juga.
"Papah. Bukan Tante yang bikin aku lupa pulang!" George menatap ibunya sinis.
Hih!
Dia mendelik dan melangkah meninggalkan mereka bertiga di sana.
"Maaf, Om. Aku tidak bermaksud seperti itu," ucapnya merasa bersalah.
Papanya George tersenyum. "Mari masuk! Kalian sudah Saya tunggu-tunggu sedari tadi," ucapnya manis.
Serly menoleh pada George, dan di jawab oleh senyuman juga anggukan kecil darinya.
Dengan perasaan ragu, Serly melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan lebih dalam lagi memasuki rumah tersebut.
Di pertengahan langkahnya, ia berhenti dan merenung sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" George heran melihatnya.
"Pantaskah aku menginjakkan kakiku disini?" tanyanya lirih.
Bukan tentang ucapan ibunya George waktu itu. Bukan!
Tapi, ia sadar setelah melihat lebih dalam keadaan rumahnya George. Berpuluh-puluh ribu kali lipat berbanding terbalik dengannya.
"Maafkan mamaku, Tan!" ucapnya sedih.
Serly mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Bukan itu. Tapi, aku sadar diri, George. Bahwa aku dan kamu berbanding sangat jauh."
"Syukurlah kalau kau sadar! Jadi, Saya tidak perlu mengingatkannya lagi!" ucapnya membuat George kesal.
"Mamah!"
"Apa? Mau membangkang lagi!"
"Mah! Gak baik!" ucap suaminya ikut nimbrung kembali.
"Ish!" Ia mendengus dan kembali meninggalkan mereka bertiga.
"Maafkan semua ucapan istriku." Pinta papanya George.
Serly tersenyum dan mengangguk pelan.
Kemudian ia menyusul istrinya dan meninggalkan mereka berduaan disana.
"Maafkan mamaku."
Serly mengangguk. "Mamamu benar, George."
"Tante." George menatapnya sedih, "jangan bilang Tante akan mundur."
__ADS_1
Serly menatapnya lama. Sebelah tangannya terangkat dan menangkup pipi George lembut.