Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Paksaan


__ADS_3

"Silahkan!"


Serly menaruh masakan yang sudah matang kehadapan ibunya juga George.


"Em. Wangi." George mengibas-ngibaskan tangannya ke arah hidung mencium bau harum dari masakan yang Serly buat.


"Ini apa namanya?" ucap George sambil mengocek-ngocek mangkuk yang berisi olahan sederhana ala-ala Serly.


"Itu namanya, emmmm, apa, ya? He, aku gak tau itu apa namanya," jawab Serly seraya meletakkan piring yang sudah di isi nasi kehadapan George.


"Sudah. Kamu makan aja. Itu enak, kok." tambah Serly.


"Bukan soal enak, gak enaknya, Tan. Aku cuma mau tau namanya. Kali aja aku mau pesen, gak bingung kalo gak tau namanya." ucap George sembari menyedokkan masakan tersebut.


"Gampang, kamu tinggal bilang ciri-cirinya saja."


George mengangguk saja karena ia sudah mulai menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Gimana? Enak, kan?" tanya Serly meminta pendapat.


George hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.


"Sudah. Jangan bicara terus. Kamu juga segera makan." titah ibunya.


Serly mengangguk pelan.


*


*


Setelah acara makan siang kesorean itu. Kini George sedang bersantai di teras luar rumahnya Serly.


"Pulanglah! Aku tidak mau kamu dan ibumu semakin jauh. Kamu itu harus nurut dan dengar apa katanya." ucap Serly seraya duduk disamping George.


George menoleh sekilas, lalu pandangannya lurus lagi kedepan.


"George!"


"Tan. Aku gak mau. Mamah pasti bakalan nyuruh aku buat jauhi kamu lagi. Aku gak mau, Tan!" jawabnya lirih.


"George. Surga ada di telapak kaki Ibu."


"Aku tau. Aku tau itu. Tapi, aku gak mau jika hanya dijadikan sebagai pajangan saja, Tan. Aku juga manusia, Tan. Aku ingin disayangi, juga dicintai. Bukan hanya di liat, jika ada seseorang yang ia tidak sukai menyentuhnya. Aku sakit, Tan." ucapnya menatap Serly dengan mata sayu.


"Kadang, aku berpikir. Aku ingin menyusul adikku saja."


"George!" Serly meninggikan suaranya.


"Mungkin! Jika suatu hari Mamah masih saja seperti itu. Aku pasti akan melakukannya."


"George!"


"Sudahlah. Aku sudah enek mengingat hal ini. Berbelas tahun aku bertahan demi mendapatkan perhatian dari orangtuaku. Tapi masih saja sama. Aku sudah putus asa." George berdiri dengan mencoba untuk tegar dan tegas sebagaimana seorang pria dewasa.


"George!"


"Mungkin aku hanya untuk di lahirkan saja. Tidak untuk di rawat, dan diperhatikan." ucapnya dengan raut wajah sedih namun tertahan.


"George!" Serly langsung berdiri dengan mata yang berembun.


"Have fun. Aku pulang dulu, ya? Jaga diru baik-baik." ucapnya seraya mengacak gemas rambut Serly.


Terlihat sangat jelas di matanya yang berembun bahwa dia sangatlah terluka.


*


George langsung melangkahkan kakinya, tapi ....

__ADS_1


Greppp....


Serly langsung memeluk tubuh George erat. "Jangan pergi." ucapnya.


George menghentikan langkahnya seraya menunduk sedih.


"Aku harus pulang, Tan." ucapnya lirih.


"Aku tidak mau jauh darimu."


"Tan!"


"Aku mencintai juga menyayangimu, George! Jangan pergi meninggalkanku."


"Katanya tadi nyuruh aku pulang?" ucap George seraya membalikkan tubuhnya menatap Serly yang terus memeluknya erat.


Serly merungut, ngambek.


"Jangan ngambek, dong. Aku makin ingin melihat bibirmu yang ikal itu," ucapnya merayu.


Serly semakin memonyongkan bibirnya.


"Dih. Nantangin?" ucapnya gemas.


Serly mengalihkan tatapannya. Tapi,


"Emm …." George langsung meraih dagunya seraya mencium bibir Serly lama.


Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya.


George langsung melepaskan ciumannya. Ia dengan cepat menghapus air matanya. "Jangan menangis! Aku akan memperjuangkan cinta kita, sampai kita benar-benar akan mendapatkan restunya," ucapnya menghibur hatinya juga Serly.


"Aku takut, George! Aku takut," ucapnya lirih.


George memeluknya erat. "Gak usah takut, Tan. Tidak akan pernah ada seorangpun yang bisa memisahkan kita," ucapnya.


"Mungkinkah kita akan bertemu lagi?"


George langsung mendorong paksa tubuh Serly. "Tante!"


Serly menunduk menyembunyikan air matanya yang terjatuh. "Aku takut kau tidak bisa keluar lagi dari rumah," ucapnya lirih.


George memahami itu. Ia menarik dagu Serly supaya mendongak.


"Jangan menangis lagi. Aku akan setiap hari datang kesini," jawabnya dengan terus mengusap air matanya.


Serly menatapnya dalam. "Janji?"


George mengangguk.


Serly mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan George.


"Janji!" ucapnya lembut seraya menautkan jari kelingkingnya.


"Aku sayang kamu, George!"


George sangat senang mendengarnya. Entah keberapa kalinya ia mendengar kata itu dari mulut wanita tercintanya.


"George!" Serly menunggu jawaban darinya.


"Apa?" jawabnya menggoda Serly.


Serly menghentakkan kakinya kesal.


"Haha …." George malah tertawa melihat tingkahnya yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Yaudah." Serly langsung membalikkan tubuhnya bermaksud akan kembali lagi ke dalam rumah.

__ADS_1


"Saranghae!"


Serly langsung membalikkan tubuhnya menatap George dengan mulut menganga.


"George!" Serly tidak percaya dengan kelakuannya.


Malu juga senang Serly mendengarnya.


"Kenapa?" George menoleh ke arah sekitarnya dengan santai.


Serly kembali mendekatinya. "Gak usah teriak-teriak," ucapnya sedikit berbisik. Ia malu karena diliatin cukup banyak orang-orang, dan orang-orang tersebut adalah tetangganya sendiri.


"Biarin, Tan. Biar semua orang tahu bahwa Tante adalah milikku," jawabnya santai.


"Astaga!" Serly tersenyum canggung ke arah mereka yang masih stay menatap mereka berdua.


"Sudah sana! Pulang!" usirnya.


"Ngusir, nih, jadinya?"


"George!"


"Oke, oke, SAYANG," ucapnya lagi-lagi menaikan volume suaranya di kata 'SAYANG'.


Serly merasakan wajahnya semakin memanas. Sudah ia pastikan bahwa sekarang pipinya sudah seperti tomat matang.


"Bye, Tante!" ucapnya tanpa merasa malu juga bersalah atas kelakuannya.


"Hm."


George langsung pergi sambil memainkan ponselnya.


"George. Kau ini!" dengan langkah sedikit canggung. Serly melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Huh, hah." Serly mengatur nafasnya dalam-dalam.


Ting ….


Sebuah notif masuk ke dalam ponselnya.


Serly langsung meraih ponsel yang ada di atas meja, dan langsung membukanya.


"Ya Allah." Serly musam mesem membaca isi dari pesan yang masuk tersebut.


"George!" Serly langsung mendudukan dirinya bersantai di atas kursi yang sudah sangat kusam.


"Sedih plus bahagia telah aku rasakan saat ini," gumamnya seraya berbaring dengan kaki menekuk.


Di tempat lain,


"Cepetan Haddy! Lo lama amat, sih?" George merutuki sahabatnya yang lama sekali untuk menjemput dirinya.


" ….. "


"OTW, OTW. Maju kagak. Buang dulu tuh pacar lo!"


" …. "


"Awas aja. Kalo dalam 10 menit lo masih kagak nongol juga. Gue pites tuh otong lo!" ancamnya membuat Haddy bergidik.


Tut ….


George langsung mematikan panggilannya.


"Heran! Udah majunya ninggalin gue, pake mau lagi, lagi. Awas aja lo!" George terus merutuki sahabatnya.


Ia melangkahkan kembali langkah kakinya sambil menunggu kedatangan sahabatnya.

__ADS_1


"Bagaimana aku menghadapi ibuku?" gumamnya sambil menendang nendangkan kakinya sembarangan.


__ADS_2