Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Menikmati Hujan


__ADS_3

Jeder!


Kilatan petir menyambar, mengejutkan kedua insan yang tengah menikmati panas dinginnya peraduan yang hampir melebihi batas.


George juga Serly langsung saling melepaskan p4gutannya. Mereka terduduk sambil memegangi dadanya yang bergemuruh dua kali lebih cepat dari sebelumnya.


"Astagfirullah." Serly menghembuskan nafas sedikit lega.


"George. Gimana ini? Sepertinya hujannya tidak akan reda, deh." ucapnya sembari membenarkan lengan bajunya yang turun.


George terdiam dengan perasaan kecewa. Sedikit lagi dia bisa merasakan padatnya bukit tersebut. Tapi,


Dia menunduk sedih.


"Kita pulang aja, yuk!" Serly tidak menghiraukan ekspresi George. Dia keluar dan berdiri di depan pos dengan perasaan canggung.


George menghela nafas dan mengikutinya keluar.


Keduanya berdiri sedikit memberi jarak.


George menggaruk tengkuknya, bingung. Dia menatap rintiknya hujan yang sama sekali belum mereda.


"Tante serius mau nerobos aja?" tanyanya sambil mengarahkan sebelah tangan ke cucuran air hujan, "ini gede, lho, Tan." ucapnya dan membasuhkan air tersebut ke wajahnya.


Serly menggigit sedikit ujung bibirnya. Kedua tangannya melipat di dada, "mau bagaimana lagi, George. Ini sudah sangat sore. Ibu mungkin lagi mengkhawatirkan kita," ucapnya sudah normal lagi.


Setelah merasa segar, George berbalik memperhatikan raut wajah Serly yang sedari tadi enggan untuk menatapnya.


"Kalo gitu, kita lari, yuk!" ajaknya seraya meraih sebelah tangan Serly, dan menariknya sampai keluar dari tempat tersebut.


Serly yang belum bersiap-siap, menjerit sambil menepuk-nepuk punggung tangan George.


George terkekeh sambil menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap Serly yang sudah basah kuyup akibat kelakuannya.


"Ternyata asyik juga, ya, Tan, ujan-ujanan." George mendongak dengan mata terpejam. Menikmati pijatan-pijatan kecil dari air hujan.


Serly tersengeh sambil menggelengkan kepalanya. "Yuk, ah. Kita pulang. Sebelum ke maghriban," ucapnya seraya melangkah lebih dulu.

__ADS_1


George menggeleng. Dia menarik pergelangan tangan Serly lembut.


"George!"


"Temani aku menikmati kebebasan, Tan!" ucapnya seraya menggenggam kedua belah tangan Serly lembut.


"Astaga, George. Tingkahmu seperti anak-anak saja!" Serly mengalihkan pembicaraan. Sebelah tangannya ia tarik dan membasuh wajahnya.


"Biarin saja, Tan. Aku belum pernah merasakan hal ini," ucapnya sambil berputar menikmati air hujan. Dia tidak menghiraukan apa pun pandangan Serly padanya.


Yang jelas, dia amat sangat bahagia, bisa merasakan kebebasan seperti orang lain pada umumnya.


Serly tersenyum sambil bersedekap tangan. "Aku mau pulang. Kalau kamu masih ingin disin-"


Jeder!


Serly terperanjat dan langsung berlari kecil, memeluk tubuh George yang tercetak di balik bajunya yang basah.


George tertawa merasa lucu melihat ekspresi pacarnya yang ketakutan.


"George. Pulang, yuk. Aku takut!" Serly semakin mengeratkan pelukannya.


"George!" Serly kesal, dia merasa dipermainkan olehnya.


"Oke, oke. Kita pulang." 


Mereka melangkah bersama dengan Serly terus memeluknya erat.


"Tan. Aku seksi gak?" ucapnya sambil melepaskan pelukan Serly, dan berdiri di hadapannya.


Serly mendelik. Tubuhnya sudah sangat menggigil. Tapi bocah ini masih saja mengoceh semakin bertingkah.


Ĺĺ


"Seksi gak, Tan?" George kembali menyamakan langkahnya.


Serly berdecak tidak ingin menggubrisnya.

__ADS_1


"Ayolah, Tan. Tante cuma tinggal jawab … aku seksi apa nggak?"


Serly menghela nafas pasrah. Dia menghentikan langkahnya dan berhenti tepat di depan tubuh George.


"Buat apa, sih, kamu nanya seksi apa nggak, George?" Serly berbicara dengan bibir yang bergetar kedinginan.


"Ya, biar Tante gak liat Cowok lain selain aku."


"Ya Tuhan." Serly rasanya ingin memaki. Namun, melihat wajahnya yang masih unyu-unyu, rasanya tidak sanggup.


Serly menghembuskan nafas, kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya lagi. "Aku gak mandang fisik, George. Cukup cintai aku dengan sepenuh hatimu."


Mendengar hal itu, George langsung berhambur memeluknya. Mengangkat juga memutar tubuhnya. "Jangan berpaling dariku, Tan." ucapnya dan menc1um bibir Serly yang sudah sedikit membiru.


Serly tersenyum sedikit kesusahan. "Aku, aku dingin banget, George. Buruan pulang, yuk!" ajaknya gemetaran.


George mengangguk. Lalu, mengarahkan punggungnya ke hadapan Serly.


"A-apa, George?"


"Naik, Tan. Aku gendong sampe rumah," ucapnya sangat bersemangat.


Serly mengangguk dan segera menempelkan dadanya ke punggung George.


"Siap?"


Serly mengangguk dengan kedua tangan sudah memeluk erat tubuh George.


"One … two … three. Gooo!" George berlari menerobos air hujan dengan Serly berada di gendongannya.


Sesekali mereka tertawa saat dengan sengaja George menginjak genangan air yang sangat banyak, dan menciprat ke tubuh mereka berdua.


"Ck. Liat Ayank. Mereka bisa membuat apa pun menjadi bermakna." Haddy menatap George yang tengah berlari, dengan sesekali berputar menikmati air hujan.


Dewi mendelik malas. "Kek bocah!" cibirnya.


Haddy menghela nafas kasar. Di dalam hatinya, dia sangat iri melihat hubungan sahabatnya yang sangat romantis.

__ADS_1


"Kapan aku bisa menemukan kebahagiaan seperti mereka," batinnya benar-benar ingin.


__ADS_2