Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Part Rindu


__ADS_3

💜💜💜💜 Versi George 💜💜💜💜


Ternyata … rindu atas dasar kesalahan, atas dasar kesakitan juga keinginan yang tidak tercapai… lebih berat daripada rindu yang hanya terpisahkan oleh waktu.


Senyum yang tulusnya… tawa cerianya… yang selalu ku nikmati setiap dari dari bibirnya. Hilang sudah oleh keputusan yang membuatku menyesal.


Sekarang aku disini. Sendiri, menatap hamparan bunga yang terlihat layu… menguncupkan semua kelopaknya ikut mengiringi hatiku.


Deru napas yang lelah… beradu padan dengan napasku yang pelan.


Tanteeeeeeeee ….


Aishiteru!


❣❣❣❣❣


George meluruhkan tubuhkan tubuhnya. Menekukkan kedua lututnya di atas tanah yang gersang.


Semiliwir wangi bunga yang beterbangan tertiup angin, berhembus menusuk ke kedua lubang hidungnya.


"Tante. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu!" 


George menunduk. Meremaskan kedua tangannya pada tangan yang gempur.


"Tantee… aku rindu. Aku rindu!" ulangnya dengan isak pilu begitu menyedihkan.


Membuat seseorang yang baru tiba di sana ikut menangis.


"Aku menyesal, Tan. Aku menyesal!" George menepuk-nepuk tanah tersebut dengan begitu kuat, "aku menyesal karena aku sudah mengambil keputusan yang salah. Aku menyesal."


George meluruh. Terduduk di atas tanah dengan kedua lutut ia peluk erat. Kepalanya ia tenggelamkan di antara kedua lututnya.


Tangisnya pecah, meratapi hidupnya yang begitu sulit untuk mendapatkan kasih sayang dan cinta.


Seseorang yang sudah berdiri di belakang tubuhnya, meluruh… menekankan kedua lututnya pada tanah. Merengkuh dan memeluk tubuhnya erat.


Mencium aroma tubuhnya yang setiap hari sangat ia rindukan.


"Aku tahu. Aku tahu kamu tidak benar meninggalkanku. Aku tahu… aku tahu kau melakukan ini demi kebaikan kita. Kebaikan hubungan kita." Dia terisak sambil menghirup aroma parfumnya yang sedikitpun tidak pernah ia lupakan.


George mengerjap. Menatap kedua tangan yang melingkar di perutnya.


Jam tangan, cincin putih juga jari kukunya yang panjang nan lancip. Membuatnya bahagia.


Dia segera mendongak, membalikkan tubuhnya menatap seseorang yang memeluknya erat.


"Tan-tante," ucapnya terbata.


Serly menarik sedikit ujung bibirnya paksa, dengan air mata yang terus mengalir deras.


"Tanteeee!" George langsung merentangkan tangannya, memeluk tubuh nan padatnya begitu erat.

__ADS_1


Mencium aroma segar yang dari rambutnya yang basah.


"Apa aku mimpi, Tan? Apa aku lagi mimpi?" gumamnya sembari menyeka air mata.


Serly menggeleng, dan George langsung melepaskan pelukannya. Menatap wajah Serly dalam. Menikmati setiap inci yang begitu ia rindukan.


"Aku kangen, Tan!" ucapnya kembali memeluk Serly erat.


"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi." George kembali menatapnya, mencium keningnya cukup lama.


Serly hanya diam. Memperhatikan wajah yang sudah membuatnya terluka.


"Tan!" George menatap heran.


Serly mengerjap dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.


"Ya!"


"Apa Tante gak kangen sama aku?" tanyanya kembali sedih.


Serly menghela napas, menundukkan kepalanya dalam.


"Gue pulang duluan! Kalian bicarakan ini baik-baik. Gue mumet, capek juga kudu ngurusin klean bedua!" Haddy mendekat dengan kedua tangan nyaman di dalam saku.


George menoleh, menatapnya heran.


"Jangan tanya! Lo memang pasienku paling rese!" ucapnya dan berlalu dari sana. Meninggalkan mereka berdua untuk saling bicara.


"Maaf!" ucapnya tulus.


Serly mendongak dengan senyum yang merekah.


"Aku menyesal, Tan. Aku sangat menyesal karena udah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang… akan apa dan seperti apa aku kedepannya tanpa Tante,"


George berbalik. Menatap bunga-bunga yang sedikit segar.


"Aku egois. Aku juga gegabah. Aku pikir … aku tidak akan berbicara seperti itu dan sebegitu mudahnya mengatakan hal itu. Aku benar-benar menyesal, Tan. Aku benar-benar menyesal!"


George menundukkan kepalanya, terisak. Menyesali semua perbuatannya.


"Seharusnya aku tahu … seharusnya aku bisa menghargai itu. Dan seharusnya aku paham! Tahu! Apa dan harus sampai tahap mana aku berbuat!"


"Maafkan aku, Tan! Maafkan aku!" George menangis. Benar-benar menangis.


Dia terus menunduk tanpa mau sedikitpun mengangkat kepalanya.


Serly tersenyum seraya bergerak merapatkan tubuhnya pada George. Mengusap serta memeluknya hangat. Menyalurkan kerinduan atas seminggu ini terpisah oleh luka kepedihan.


"Maafkan aku, Tan!" ucapnya dengan suara bergetar.


Serly mengangguk sembari ikut menangis.

__ADS_1


Mereka sama-sama larut dalam suasana rindu yang telah bertemu.


💜💜💜💜 Versi Serly 💜💜💜💜


Sakit. Pedih. Nyerinya bak ditusuk-tusuk oleh seribu belati.


Terdiam. Mengenang semuanya hal yang telah terjadi, sebelum kuncup bunga itu mekar, menyebarkan putik sari cinta dan kerinduan.


Menangis. 


Hanya itu yang bisa dilakukan. 


Mencicil rasa sakit yang dipikir akan hilang, 


Namun nyatanya malah kian menumpuk,


Membentuk sebuah rindu yang hanya dapat diobati oleh bertemu.


Rindu yang tak bisa digantikan oleh orang lain,


Rindu yang tak bisa dialihkan pada apapun.


Rindu dalam lara 


Cinta dalam duka


Sayang dalam dari hati yang terluka


Yang kini…


Bertemu dalam satu


Meluruskan keadaan


Menguatkan keyakinan


Membentuk keeratan


"AKU. TANPA RINDU TIDAK MUNGKIN MENYATU."


"AKU. TANPA RINDU TIDAK MUNGKIN BERTEMU."


"AKU. TANPA RINDU TIDAK! MUNGKIN BISA MENATAP, MEMELUK JUGA MENCIUMNYA LAGI."


"RINDU! AKU BERTERIMA KASIH BANYAK PADAMU. DAN BUATMU BOCAH!"


"AKU MENCINTAIMU. AKU! SANGAT! MENCINTAIMU!"


"BOCAHHHHHHH… SARANGHAEEEE…."


❣❣❣❣❣❣

__ADS_1


Setelah bersedih… mari kita uwu-uwuan🤭🤭✌✌


__ADS_2