Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Memberinya Kehangatan


__ADS_3

Dan benar saja. Air hujan berubah deras juga sangat lebat. Membuat keduanya segera merapat, menghindar dari air hujan yang malah meliuk tertiup angin ke arah mereka.


"Ahs!" Serly terkejut saat ada beberapa tetes air hujan yang berjatuhan mengenai pundaknya.


Dia mendongak, dan ternyata itu berasal dari atapnya yang bocor.


George yang juga ikut menatap atap pos tersebut, tersenyum tipis. Kemudian merangkul bahu Serly, membawanya untuk bergeser.


"Gimana ini, George? Ujannya malah semakin deras?" Serly terus memandangi rintikan hujan yang seperti enggan untuk mereda.


"Kita tunggu aja, Tan. Moga ini tidak lama," jawabnya dengan rangkulan yang sudah meluruh ke pinggang Serly sedikit mengerat.


Serly mengangguk dan membalas pelukannya.


***


Hampir setengah jam lamanya mereka disana, hujan masih saja belum reda, dan malah semakin bertambah deras.


Serly mendesis merasakan hawa dinginnya air hujan yang seperti menusuk sampai ketulang-tulangnya. 


Kedua tangan yang sedari tadi berada di pinggang George, sudah menangkup di kedua sisi bahunya --- dia gosok-gosokan pelan mencari sensasi hangat yang disalurkan oleh kedua belah tangannya.


George menoleh seraya melepaskan rangkulannya. "Sini. Biar aku bantu," ucapnya seraya meraih kedua tangan Serly, lalu ia tangkupkan dan tiup di kedua sela belahan tangannya.


Kemudian George menuntunnya ke pipi, leher juga bahu Serly yang terbuka.


"Masih dingin?" George menatapnya lekat.


Serly mengangguk.

__ADS_1


Terlihat jelas dia amat sangat kedinginan. Selain kedua tangannya yang sangat dingin, bibirnya juga sedikit pucat dengan wajah menggigil.


George kemudian menarik kepalanya, mendekap di balik dadanya.


Serly tersenyum dan melipat kedua tangannya, terhimpit di tengah-tengah tubuh mereka berdua.


Sesekali George mencium pucuk kepala Serly yang sedikit basah akibat terkena irisan air hujan yang tertiup angin.


Serly mendongak, "George. Gimana kalau kita pulang saja?" tanyanya cemas, sebab hari sudah cukup gelap, ditambah cuaca yang seperti ini.


George menggeleng. "Kita tunggu sebentar lagi," jawabnya sembari mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya.


Serly merungut pasrah. Dia kembali menempelkan kepalanya pada dada George.


"Tan."


"Tante dingin banget, kan?" tanyanya seraya meraih dagu Serly lembut.


Serly mendelik paham sama kem3sum4n pacarnya. Tidak ada satu kesempatan yang akan dia lewatkan.


Sebelah tangan George melingkar di pinggang Serly, dan mendekatkan kepalanya sampai dahi mereka berdua beradu.


"George. Jangan macam-macam. Ini ditempat umum." Serly berusaha memalingkan wajahnya, namun tidak sedikitpun George biarkan.


Dia terus berusaha mencium kedua benda kenyal berwarna pink sedikit pucat itu, bermaksud ingin menghangatkannya.


"George!" Serly menangkupkan kedua telapak tangannya di depan mulut.


George menghela nafas, lalu menyingkirkan kedua belah tangannya pelan. Manik matanya terlihat sangat teduh menatap kedua bola Serly yang sayu.

__ADS_1


Perlahan, dia mendorong tubuh Serly sampai bersandar pada tiang pos dengan kedua tangan George cekal dan lipat di belakang tubuhnya.


"George." Serly menatapnya sambil berusaha melepaskan cekalannya.


George tidak menggubris. Dia malah semakin mendekatkan wajahnya, sampai dahi juga hidung mereka menempel sempurna, dan deru nafas keduanya bersatu.


Glek!


Serly menelan ludahnya kasar. Tidak bisa dipungkiri, kalau dia terhanyut meski hanya dengan melihatnya saja.


Kedua bola matanya meluruh menatap kedua bibir ranum milik George.


Seketika itu juga, debaran jantungnya kian menyepat bersamaan dengan kedua benda kenyal itu menempel di bibirnya dan mem4gutnya secara perlahan penuh penekanan juga penghayatan.


Hawa dingin yang sedari tadi masuk ke dalam semua pori-porinya, kini terasa hangat dengan saling menikmati dan membalas c1uman tersebut.


George menuntun kedua tangan Serly untuk mengalung di pundaknya.


C1uman yang semakin panas, mampu membuat kedua lupa. Lupa akan batasan juga dimana mereka berada.


Di tambah lagi dengan rintikan hujan yang seperti berirama menyemangati mereka berdua yang saling menginginkan satu sama lain.


George menarik tubuh Serly, mendorongnya sampai dia terduduk dan tertidur di dalam pos tersebut.


Serly masih belum sadar. Dia membiarkan George untuk terus menikmati bibirnya, memberi dia kehangatan dalam cuaca yang pas.


Entah kapan dan bagaimana George melakukannya, satu lengan baju Serly sudah terlepas, dan berhasil memperlihatkan cUp br4 hitam miliknya.


Serly menguatkan is4pan lid4hnya pada saat ada sebuah tangan yang mulai nakal menaiki satu bukit k3mb4r miliknya.

__ADS_1


__ADS_2