
Serly masuk ke dalam kamar Adiba yang ternyata disana sudah ada Anggun yang tengah merias diri di depan cermin.
"Gue pikir lo belum dateng, Gun?" Serly melangkah mendekati Anggun dan berdiri di sampingnya.
"Ape mata lo buta sekarang, hah?" Anggun memutar kursi tersebut, menatap Serly yang tengah bersandar pada meja rias.
"Kate lo, Gun!"
Anggun mendelik. "Lagian… lo gak liat mobil gue udah ada di depan?" Dia menatap Serly sinis.
"Iyakah?"
"Cih. Dasar!"
Adiba melangkah mendekati mereka berdua, dengan sebuah gaun di tangannya.
"Wih. Berapa jeti lo beli itu?" Mata Serly berkilauan melihat gaun tersebut sangat indah.
"Lima," jawab Adiba santai.
"Wah, wah. Lima jeti cuma buat gaun doang? Senang banget idup lo, Ba!"
Adiba terkekeh mendengarnya. "Harus dong, Ser. Moga lo cepetan nyusul, ya! Biar lo gak sibuk nyari duit mulu."
Serly menunduk sedih mendengar hal itu.
"Lo, sih, Ba!" Anggun menyenggol Adiba kuat.
Adiba menggaruk tengkuknya pelan. "Sorry, Ser. Gue-"
"Gapapa, Ba. Gue cuma sedih aja. Kenapa hidup gue sulit sekali."
"Lo yang sabar, Ser." Anggun mengelus bahunya lembut.
Serly mengangguk kecil. "Oh, iya, Ba. Happy anniversary, ya. Gue cuma bisa-" Serly menggantungkan ucapannya. Saat sadar kalau paper bag berisi cake buatannya tidak dipegang olehnya.
"Apa, Ser?" Anggun menatapnya heran.
"Cake nya lupa, Ba. Dibawa sama George!" Serly menepuk jidatnya pelan.
"Oo. Gapapa, Ser. Acaranya juga belum dimulai."
Serly mengangguk.
Kemudian mereka bersiap-siap… dengan Winji yang juga ikut nimbrung kesana bersama sang putri cantiknya.
Setelah selesai, mereka berempat turun bersama-sama, karena acaranya juga sudah dimulai.
Bak seorang bidadari yang turun dari kahyangan… mereka turun dengan begitu anggun dan cantik-cantik. Terutama Serly yang masih gres and fresh.
Dia begitu mencolok mengapit Adiba sebagai ratu malam ini.
Mereka terus berjalan sampai ke sebuah panggung persegi yang sudah dirancang indah di ruang tamu.
"Sebentar, ya, Ba!" ucap Serly setelah sampai. Dia meminta izin untuk mencari George guna mengambil cake yang sangat dibutuhkan sekarang juga.
"Ya ampun, George. Kamu dimana, sih?" gerutunya sambil mencari-cari di setiap ruangan rumah Adiba.
"George." Serly mengepalkan tangannya kesal.
Dia kembali menghampiri Adiba, dan menanyakan George pada suaminya.
__ADS_1
"Tadi saya tinggal dia ruang prasmanan. Katanya dia lapar!" jawab Zio jujur.
Haish!
Serly menghentakkan kakinya pelan. "Sorry, ya, Ba," ucapnya sangat malu.
"Fine, Ser." Adiba menepuk pundaknya.
Serly tersenyum dan kembali mencari George ke ruang tersebut, dan ternyata benar.
Dia tengah duduk santai sambil menikmati sepotong cake di atas piring kecil.
"George!" panggilnya berhasil membuat George terperanjat.
"Eh, iya, Tan." Dia menjawab sambil menggeser piring tersebut, dan menyembunyikannya di balik tubuhnya.
"Apa itu, George?" tanya Serly menatapnya lekat.
George tidak menjawab. Dia hanya menggaruk-garuk tengkuknya pelan.
"George?" Serly melipat kedua tangannya di dada, menatap George lembut.
"Maaf," ucapnya sambil menunduk sedih.
Serly mengerutkan dahinya.
"Ini!" George memperlihatkan potongan cake tersebut ke hadapan Serly.
"Astaga, George!" Serly menghempaskan tangannya kasar, "kamu makan cake nya?"
George menampilkan gigi-giginya yang rapi.
"Tapi cake ini menggodaku, Tan. Dia melambai-lambai minta dimakan!" kilahnya.
"Ya Tuhan!" Serly menatapnya sinis. Kemudian menunduk sedih, bingung harus bagaimana membicarakannya sama Adiba.
"Aku makannya gak banyak, kok, Tan. Sedikit, nih!" Dia memperlihatkan cake tersebut ke hadapan Serly.
"Serah 'lah, George. Aku pusing!" ucapnya seraya beranjak dari sana.
"Ya Allah, Tan. Tunggu!" George mengejarnya dengan paper bag terus ia bawa.
"Tan! Tunggu!" George berdiri di hadapannya, menghadang langkah Serly yang tidak menghiraukannya.
"Tunggu. Aku tidak sengaja, kok, memakannya."
Serly mendelik.
"Aku serius, Tan. Aku tidak sengaja."
Serly menghembuskan nafasnya kasar. "Bagaimana ada orang yang makan dengan tidak sengaja?" Dia menatapnya marah, "sudahlah… aku mau pulang. Aku malu sama mereka semua!" tegasnya seraya berlalu dari sana.
George menghembuskan nafasnya, dan kembali mengejar Serly yang sudah masuk ke ruang tamu, dimana semua orang berkumpul disana.
"Maafkan aku," ucapnya seraya meraih tangan Serly lembut.
"Lepasin, George. Aku mau pul-"
"Aku akan bertanggung jawab!" potongnya seraya membawa Serly ke arah panggung.
Disana, George meletakkan paper bag tersebut di atas meja bundar.
__ADS_1
"Om. Maaf. Cake nya udah aku makan," bisiknya pada Zio.
"Lah?" Zio mengerutkan dahinya tidak percaya.
George tersenyum menimpalinya. Kemudian membuka paper bag tersebut, mengarahkan bagian yang sudah dia makan ke arahnya.
"Kok-" Adiba menggantungkan ucapannya, menatap Serly aneh.
"Sorry." Serly menundukkan kepalanya merasa malu.
"Ini salahku, Tan. Jangan marahin pacar aku, ya!" George menatap Adiba tulus.
"Gapapa, George. Nanti juga dimakan!" Zio merangkul pundaknya lembut.
"Iya. Gapapa, kok. Ini masih bisa kami gunakan." timpal Adiba tersenyum lucu.
Sementara Serly, mati-matian dia menahan malu, ditatap aneh oleh ketiga sahabatnya, yang sepertinya sedang menertawakannya.
"Ya sudah. Mari kita mulai acaranya. George… kamu bisa bergeser sedikit. Aku ingin memeluk istriku!" ucap Zio dengan begitu lantangnya.
George terkekeh, kemudian bergeser, memepet ke arah Serly.
Mereka menikmati berjalannya acara dengan kekonyolan yang George perbuat.
***
Setengah jam berlalu,
"George. Aku mau pulang!" bisik Serly sambil melirik sekeliling. Dimana semua orang tengah menikmati alunan musik yang begitu slow.
George berbalik menatap Serly serius.
"Ayo, George."
"Hhhh… tapi acaranya belum selesai, Tan."
Serly tidak menggubris. Dia mulai risih pada beberapa Ak1-ak1 yang terus menggodanya… tanpa sepengetahuan George.
"George. Ayolah!" ajaknya memaksa.
"Hm. Baiklah!" George menghembuskan nafasnya, kemudian meraih pinggang Serly lembut, "tapi kita dansa dulu!" ajaknya sembari melangkah santai, membawa Serly ke kerumunan orang banyak.
"George. Aku tidak bisa!" bisik Serly tersipu malu.
"Yaelah, Tan. Tinggal gerak-gerakin kaki doang. Maju mundur, maju mundur cantik. Gitu!"
Serly mendelik sambil menyembunyikan kepalanya di dada George pada saat mereka sudah berada di lingkungan pasangan yang tengah berdansa.
.
.
[Maafkan typo dan kesalahan lainnya]
Mohon dukung terus, ya!
Like
Komentarnya saya tunggu.
Makasih💜💜💜
__ADS_1