
Serly dan George berhenti di sebuah bangunan megah dan besar.
"Yuk!" Ajak, George sembari menganggend Tangan, Serly posesiv.
"Kemana?" Tanya, Serly bingung.
"Kita masuk lah, Tan! Masa liat-liat dari luar aja." Jawabnya menggemaskan.
"Oh."
Mereka masuk bersama-sama kedalam sebuah Mall terbesar di kotanya.
"Kamu mau belanja?" Tanya, Serly.
George menggeleng.
"Terus, kita ngapain ke sini?" Tanyanya lagi.
"Kitakan mau jalan-jalan."
"Hah, kita hanya mau jalan-jalan aja? Di sini? Di Mall?"
George mengangguk, "Kita makan-makan, Tante! Launch bareng gitu. Biar Romantis. Hihi...." Jelasnya tersenyum, senyum.
"Hm. Ok, lah."
Mereka berjalan-jalan mengelilingi setiap Toko.
"Tante mau beli sesuatu?" Tanyanya sembari menhentikan langkah Kakinya.
"Hm, gak deh."
"Ok, lah. Kalo gitu kita main sebentar, yuk!" Ajak, George.
"Hm, boleh."
Mereka melanjutkan langkahnya ke sebuah ruangan bermain.
"Ayok, Tan!" Ajak, George pada, Serly yang malah berdiri aja gak mau ikut bermain.
"Enggak, ah. Aku nunggu aja di sini." Tolaknya.
"Ya elah, Tan! Main sebentar aja. Temenin aku sini." Pinta, George.
"Aku gak ngerti main game kayak gitu, George."
"Tinggal tekan-tekan aja, Tante!"
"Enggak ah, kamu aja. Aku jadi penonton aja."
"Hm. Ok deh. Sebentar, ya!"
"Hm..."
Serly dengan setia menunggunya yang tengah bermain dengan berbagai macam permainan.
Satu jam sudah, George bermain. Tapu, gak ada tanda-tanda untuk berhenti.
"George!" Seru, Serly kesal.
"Sebentar lagi, Tan! Aku hampir menang, nih!" Jawabnya, "Ah, belok kiri, kiri, kiri..." Racaunya dengan Badan ikut meliak-liuk.
"George! Aku mau pulang, ah!" Kata, Serly bosan.
"Ya." Jawab, George gak terlalu jelas mendengarnya dan menjawab se enaknya aja.
Serly yang mendengar hal itu, melongo heran. Dengan suasana kesal dan bosan, Serly langsung bangkit dengan amarah ia pendam.
Ia langsung meninggalkan, George yang terus menerus bermain.
"Dasar, Bocah!" Gerutu, Serly. Ia terus berjalan sampaj keluar dari Mall tersebut dengan terus nge-dumel.
Sebelum menyetop Taxi, Serly mengirumkan satu pesan terlebih dahulu.
Setelah itu, ia menghentikan sebuah Taxi yang lewat.
Serly kembali ke Toko dengan menggunakan Taxi dan membuat para Pegawai dan juga, Haddy terheran-heran.
"Mana, Bocah somplak itu?" Tanya, Haddy yang sudah ada di samping, Serly.
Serly gak mau menjawabnya. Ia langsung melenggang masuk ke dalam Toko dengan raut Wajah yang gak bersahabat.
Haddy jadi bingung ada apa dengan mereka. Dari pas berangkat mereka baik-baik saja. Gak terlihat ada pertengkaran di antara mereka, malahan kemeseraan yang mereka tunjukan.
__ADS_1
"Ah, Georgeeeee...." Teriak Haddy di luar Toko.
"Lo itu kemana, sih! Ada apa dengan kaluan?" Pikir, Haddy bertanya-tanya.
Haddy mengeluarkan sebuah Hp dari kantung celananya.
Haddy langsung menelpon, George dan memarahinya saat tahu kenapa, Serly pulang sendirian.
Setelah puas memaki-makinya, Haddy menutup panggilan tersebut kembali masuk kedalam Toko.
"Maafin dia, ya, Tante, cantikkkk!" Rayu Haddy.
"Iyyy...."
Haddy bergidik saat melihat pelototan, Serly yang besar.
"Awas, Lo, George! Bisa-bisanya, Lo enak-enakan sendiri." Gerutu, Haddy marah.
Kikkk......
Sebuah kendaraan berhenti secara cepat dan mendadak di depan Toko milik, Serly.
Haddy sudah siap untuk menghadangnya dan memarahinya.
"Dasar, Bocah somplak! Bisa-bisanya, Lo main sendiri?" Kata, Haddy dengan muka sangar.
"Awas, Lo. Ini bukan waktunya kita untuk ribut, dodol. Gue mau ngelurusin dulu hati gue." Kata, George kesal dengan sahabatnya yang terus menghalangi langkah Kakinya.
Brakkk....
George mendorong keras Tubuh, Haddy sampai terjengkang ke belakangan.
"Ck...ck..."
Haddy berdecak heran.
"Tan, Tante!" Panggilan, George tak di anggap oleh, Serly.
"Maafin aku, Tan! Aku gak tahu....."
"Mana bisa kamu tahu, kamu hanya tahu bermain aja." Potong, Serly ketus.
"Maaf!" Pintanya lirih.
Serly gak menghiraukannya, ia langsung melenggang ke belakang berbaur dengan para Pegawainya di dapur.
"Buat adonan cookies, Bu!"
"Oh."
Serly hanya sekedar basa-basi saja menghampiri mereka hanya untuk mengalihkan kekesalannya pada Pria yang baru saja menjadi pacarnya.
"Tan!" Seru, George lirih.
Dia terus mengikuti langkah, Serly keemanapun.
"Tante!" Serunya lagi.
Dengan gak tahan dengan suara yang menyedihkan itu, Serly menghentikan langkahnya dan menarik halu Tangan, George untuk ikut bersamanya.
"Apa? Kamu mau jelaskan apa lagi, George?" Kata, Serly menumpahkan kekesalannya.
"Maaf, aku mengaku aku salah." Katanya lembut membuat, Serly kembali meredam emosinya.
"George! Kita baru aja jadian. Tapi, kamu udah bikin aku kesal aja." Tutur, Serly melembutkan suaranya.
"Aku mohon, Tan! Jangan putusin aku." Katanya yang berpikiran jauh.
Serly melongo mendengarnya, "Siapa yang akan mutusin?" Tanya, Serly heran.
"Itu, barusan. Ah, makasih, Tante!" Serunya dan langsung memeluk, Serly erat.
Serly gak menolak pelukan itu, ia gak bisa memungkiri, jika ternyata dengan pelukan ini, semua amarahnya sedikit demi sedikit menghilang.
"Jangan di ulangi lagi, ya!" Kata Serly sembari membalas pelukan, George.
Mereka berpelukan cukup lama.
"Ehem...."
Suara yang keras sengaja mengejutkan mereka berdua.
Serly langsung melepaskan pelukannya kaget. Sementara, George. Ia masih enggan untuk melepasnya.
__ADS_1
"George!" Bisik, Serly merasa malu.
"Biarin, Tan! Palingan dia ngiri ngeliat kini mesra, mesraan terus." Jawab, George gak ada malu-malunya.
"Tapi, George!"
George langsung melepaskan pelukannya kasar.
"Ape sih, Lo ganggu aja, orang lagi pacaran!" Serunya cukup keras.
"Inget posisi dong, woi! Ini dimana?"
"Emangnya kenapa? Gak ngerugiin, Lo juga, kan?"
"Rugi banyak, Gue!" Timpalnya lebih ketus dari, George.
"Lah!"
"Pertama, Gue harus mengantarkan Kendaraan buat kalian."
"Perhitungan banget, Lo. Lo kan punya jatah juga."
"He, iya sih. Gue jadi bisa makan kue sepuasnya, ya, kan, Tan?" Katanya mencari perlindungan.
"Sepuasnya, sepotong!" Kilah, George.
"Ck. Emang, Lo orang yang paling pelit di dunia ini."
"Biar cepat kaya."
"Sudah, sudah! Kalian ini!" Kata, Serly melerai pembicaraan mereka.
Mereka langsung diam.
"Nah, gini kan enak. Ademmm!" Tukasnya senang.
"Kayak muka, Saya ya, Tan!" Timpal, Haddy menggombal.
Serly tersenyum dan mengangguk, membuat, George jadi cemberut.
"Jia, Dia ngambek. Ngewa, Lo. Kayak bayi aja." Ledek, Haddy.
"Syuttt...." Perintah, Serly.
"He, ok."
Serly meraih Pinggang, George mesra.
"Dia adem!" Serunya malah makin membuat, George cemberut.
"Tapi...."
Raut Wajah, George sedikit berubah ceria.
"Tapi apa?" Tanyanya antusias.
"Tapi, Lo paling burik, pelit lagi" Timpal, Haddy dan langsung ngakak.
"Haddy!" Kata, Serly menatapnya kesal.
"Baik, Tante!"
"Tapi, Kamu yang paling manis, menggemaskan, juga paling tampan." Puji, Serly berhasil membuat mood nya melayang jauh ke awan.
"Ueeekkkk.... Kalian ini, ingat usia, Woi. Yang paling penting, ingat di sini ada aku yang jomblo." Kata, Haddy semakin memelanlan suaranya sedih.
"Hahahaha... Makannya, Lo cepetan nembak Cewek!"
"Nembak gimana? Ceweknya juga gak ada."
"Buta, ya?" Tanya, Serly membuat mereka tercengang.
"Maksudnya?" Tanya, Haddy gak paham.
"lihat, di sini banyak Cewek. Apa kamu gak melihat mereka?"
"Oh, palingan udah pada punya, Tan!"
Serly menggeleng, "Semuanya single"
"Benarkah? Aaaahhhh, Aku deketin ah satu."
"Silahkan."
__ADS_1
Haddy kegirangan, dan
Serly terus bermesraan dengan George berdua.