
Seketika debaran jantung Serly berdetak berkali-kali lipat. Dia gelisah juga penasaran sama apa yang akan kedua orang tua George bicarakan padanya.
"Ekhem!" Pertama-tama papanya George menarik nafas sembari membetulkan dasinya yang tidak kenapa-napa.
"Begini," ucapnya menggantung. Membuat Serly semakin gelisah menunggunya.
"Papah mau nikahin kami berdua?" tanya George dengan antusias.
Serly berdecak seraya mencubit pinggangnya sedikit.
"Aduh, duh, aduh. Sakit, Tan!" desisnya sembari meliukan tubuhnya.
Serly mendelik dan melepaskannya. "Makanya. Jangan mikirin itu mulu. Kamu mesti fokus pada sekolahmu dulu. Baru mikirin itu!" tegasnya dengan nada kesal.
Kedua orang tua George tersenyum melihatnya. Ternyata mereka terlihat begitu lucu di mata mereka berdua.
"Iya, iya, Bu Guru! Aku akan fokus sekolah!"
Serly tersenyum dan mengusap pinggang George yang tadi ia cubit… dengan kedua mata fokus kembali pada kedua orang tuanya George.
"Begini. Kami sudah mengetahui semuanya dari Haddy-"
"Bentar-bentar, Pah! Haddy?" potongnya.
Papanya mengangguk dengan ekspresi wajah sedikit heran.
"Dia ngomongin apa sama Papah? Jangan bilang-"
"George!" Serly kembali memelintir kulit pinggangnya sedikit, membuat George kembali mengaduh kesakitan.
"Tante galak!" ucapnya, seraya mengusap-ngusap pinggang yang sudah dua kali terkena cubitan mautnya.
Serly mendelik. "Makanya diem. Dengerin dulu sampe akhir!"
George menghela nafas, dan kembali fokus pada kedua orang tuanya. "Lanjut!" ucapnya singkat.
Mamah juga papanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah anaknya yang masih seperti anak kecil.
"Keknya... kita salah, deh, Mah!" ucap Papah sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Salah apa, nih? Awas, ya!" George menatapnya dengan mata menyilang.
Kedua orang tuanya tersenyum. "Sepertinya gitu, Pah!" timpal Mamah.
Ish!
George berdecak sembari menggebrigkan selimutnya. "Udah, ah. Aku mau pulang. Bosan disini terus!" keluhnya seraya bangun dan duduk di sisi bed tersebut.
"Ih. Bocah. Bentar dulu. Tungguin Dokter dulu," ucap Papah seraya memegangi bahunya.
George mendelik. "Terus, apa, sih, yang mau Papah sama Mamah omongin? Pasti…," dia menunjukkan satu jarinya ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Kalian sudah panggil Penghulu, ya!" tuduhnya, dan sontak saja langsung mendapatkan cubitan sedap dari Serly.
Dia memelintir dan menekannya sedikit kuat.
"Aduh, duh, aduh. Sakit, Tante, ih!" George mendorong tangannya sampai terlepas.
Serly mendelik. "Kamu, tuh, ya. Apa gak ada sedikitpun di otakmu tentang pelajaran sekolah?"
George merungut. "Ada, sih. Cuma bosen. Tiap hari mikirnya kurikulum mulu. Gak ada pembahasan tentang cinta pertama, gitu!" kilahnya.
Membuat Serly geleng-geleng kepala. "Kamu, ya. Ada-ada saja," ucapnya.
Kedua orang tua George terkekeh-kekeh. "Sudah, ya. Gini… Haddy udah ceritain semuanya. Tentang toko juga keinginanmu, George."
"Toko?" Serly mengerutkan dahinya mendengar itu. Berbeda dengan George. Dia malah semakin kepedean.
"Memang. Sahabat yang bisa kuandalkan!" ucapnya dengan wajah so' cool sedikit berwibawa.
Papah tersenyum dan menepuk-nepuk pundak anaknya. "Ini bukan soal kamu ngebet pengen nikah. Tapi,"
George menatapnya penasaran.
"Soal kamu ingin buka usaha coffee shop. Cafe-cafe gitu," jelasnya.
"Oo." George langsung menunduk dengan bibir sedikit mengerucut. Lalu, menoleh ke arah Serly yang ada di sampingnya.
"Terus, soal toko? Toko siapa? Tante?" tanyanya, menatap wajah sang papah penuh pertanyaan.
"Tante kenapa?" tanya George seraya melingkarkan satu tangannya di pinggang Serly.
Serly menggeleng.
"Kamu gak usah sedih, Nak. Mamah juga Papah sudah kembaliin tokomu," ucap Mama George seraya merangkul pundaknya.
Serly segera mendongak dengan kedua mata berembun.
"Sebentar! Mamah sama Papah ambil tokonya, Tante? Buat apa?" George menatap keduanya dengan emosi.
"Ish! Bukanlah, George!" Serly menyikut pinggangnya pelan.
"Aduh!" George sedikit menggeserkan tubuhnya, "terus, apa, dong? Kenapa Mamah sama Papah ngembaliin kalo gak diambil, mah!"
Serly meliriknya dengan helaan nafas panjang. Lalu ia hembuskan dengan kepala menunduk dalam.
"Toko ku udah dijual, George!" ucapnya pelan.
George mengerutkan dahinya. "Dijual? Kenapa?"
Serly kembali menatapnya cukup lama. "Ibuku punya hutang," jawabnya sedikit ragu. Karena ini menurutnya adalah privasi.
George menarik nafas dan mengelus punggungnya lembut. "Terus, kenapa Tante gak bilang sama aku? Kali aja aku bisa bantuin."
__ADS_1
Serly menundukkan kepalanya lagi. "Ini masalah keluargaku, George. Aku tidak mau malah berhutang sama banyak orang."
"Tapi-"
"Kamu gak usah khawatir, Nak. Toko mu udah kembali lagi padamu." potong Papa George menatapnya haru.
Serly mendongak dengan air mata yang menetes, dan dengan cepat George mengusapnya.
"Terima kasih banyak, Pah," ucapnya dengan ekor mata tertuju pada Bocah yang ada di sampingnya.
"Maaf. Aku malah merepotkan kalian." tambahnya sembari melirik sepasang Pasutri yang kini tengah saling rangkul mesra.
"Gapapa, Nak. Semoga itu bisa membantu kembali keuanganmu," jawabnya.
Serly tersenyum manis. "Makasih banyak, Mah, Pah. InsyaAllah aku akan mengembalikannya jika sudah ada."
"Gak perlu. Kamu pakai saja untuk keperluanmu. Papah sama Mamah ikhlas dan tulus untuk membantumu."
Serly semakin melebarkan senyumannya, dengan cepat ia langsung menghambur memeluk mereka berdua.
"Aku bingung harus bicara apa. Aku hanya bisa bilang makasih banyak pada kalian berdua. Makasih banyak, Pah, Mah. Makasih banyak!"
Kedua orang tua George mengangguk dan mengelus punggungnya lembut. "Sudah. Sekarang kita beres-beres. Hari ini George sudah bisa pulang!" ucap Papah.
Serly mengangguk dan melepaskan pelukannya. Kemudian melangkah kembali mendekati George.
"Dan buatmu, George. Warung yang ada di depan tokonya Serly… sudah Papah beli untuk kamu buka usaha. Semoga kamu nantinya bisa ngidupin Serly. Papah gak mau kamu kasih dia uang hasil minta pada orang tua. Apalagi, ngandelin dari usaha Serly. Papah gak mau!"
George menganggukkan kepalanya.
"Sudah. Sekarang kamu ganti baju dulu. Papah juga Mamah tunggu di parkiran!"
Serly juga George menganggukkan kepalanya. Lalu, menatap kepergian mereka berdua dengan perasaan haru.
"Semoga, ini awal untuk kita belajar hidup mandiri. Tidak bergantung lagi pada orang tua!" ucap George seraya memeluk tubuh Serly dari belakang, dengan dagu ia letakkan di pundaknya.
Serly meliriknya sekilas. "Itu mah kamu. Aku mah dari dulu udah mandiri!" cibirnya.
George tersenyum cengengesan.
"Udah sana. Ganti dulu bajunya. Aku tunggu disini."
"Bantuin!" rengek George dengan mode seperti bayi.
"Nggak, ah. Masa iya aku bukain semua pakaianmu."
"Terus, ini gimana, Tan? Tanganku cuman sebelah!"
Serly menghela nafas pasrah. "Ya udah. Tapi, kamunya madep belakang!"
George tersenyum penuh kegirangan. "No problem!" ucapnya sedikit percaya diri.
__ADS_1
Serly mendelik, kemudian mereka melangkah menuju kamar mandi dengan sebuah paper bag Serly tenteng bawa masuk ke dalam.