
Pukul dua dini hari, Serly terbangun dari tidurnya. Dia merasakan ada sesuatu yang berat di atas perutnya, dan ternyata itu adalah George yang tengah memeluknya erat.
Serly tersenyum sembari membalikkan tubuhnya menghadap George.
Sebelah tangannya terangkat, meraba pipi George yang sangat halus dan lembut, seperti milik Bayi. Membuat Serly iri, dan ingin memiliki pipi seperti itu juga.
Tanpa sadar, ia mencubit pipinya cukup kuat, dan membuat George meringis sambil mencekal tangannya.
"Tante," gumamnya sambil tersenyum samar.
Serly tersengeh merasa malu. "Maaf, George. Aku tidak sengaja," ucapnya pelan.
George mengangguk seraya menuntun tangan Serly untuk melingkar di pinggangnya, lalu merapatkan tubuhnya sampai dua bukit besar nan indah itu bersentuhan dan terhimpit oleh dadanya.
George tersenyum senang, dia bisa merasakan padatnya guUndukan tersebut, meski hanya seperti itu.
"Ini jam berapa?" tanya George dengan mata sudah terpejam kembali.
Serly menoleh ke arah dimana jamnya berada. "Masih malam. Kamu istirahat saja," jawabnya tanpa memberitahukan pukul berapa sekarang.
George mengangguk dan menelusupkan kepalanya di antara dua bukit tersebut, membuat Serly gelisah dan juga risih merasakan nya.
Dia perlahan mendorong kepala George supaya menjauh, dan menatapnya lama.
__ADS_1
George menghela nafas paham. Kemudian mengecup keningnya sekilas. "I'm sorry," ucapnya sambil tersenyum manis.
Serly mengangguk pelan. Lalu,
George menempelkan punggung tangannya, saat ingat kalau tadi sebelum tidur, Serly tengah demam, dan kini ia akan mengeceknya.
"Alhamdulillah," ucapnya saat merasakan suhu tubuh Serly yang sudah seperti dirinya.
Serly tersenyum dengan kedua tangan menangkup di wajahnya. "Makasih sudah merawatku, George," ucapnya tulus, dan mengecup bibirnya sekilas. Tapi, berhasil membuat George ketagihan.
Dia menelusupkan sebelah tangannya ke balik ceruk leher Serly, lalu menariknya lembut.
Serly yang mendapatkan perlakuan seperti itu, sudah biasa.
George mendekatkan wajahnya semakin dekat, dan semakin dekat. Sampai hidung mereka menempel dan deru nafasnya bersatu.
Kedua b1b1rnya perlahan mem0ny0ng dan menempel pada kedua b1b1r ranum milik Serly.
George mulai m3nc1ium, dan m3m4gutnya secara perlahan, sampai Serly benar-benar terbuai hanya dengan permainan b1b1rnya.
Keduanya menikmati pagi dengan c1iuman yang semakin panas.
George menarik tengkuk Serly kuat, memperdalam ci1umannya. Sampai membuat Serly melambung dalam kenikmatan.
__ADS_1
George terus m3lum4t bibirnya, dengan sesekali dia juga memainkan l1d4hnya di dalam r0ngga mulut Serly, menyusuri setiap inci di dalamnya, hingga menimbulkan decakan-decakan halus dari c1uman tersebut.
Sebelah tangan George mulai nakal. Dia menelusup ke balik pakaian yang Serly kenakan.
Serly yang merasakan ada sebuah tangan yang masuk, berusaha melepaskan c1umannya, namun George tidak membiarkannya.
Dia semakin ganas memainkan kedua b1b1rnya. Seperti sudah terlatih, membuat Serly kewalahan untuk mengimbanginya.
George tersenyum seraya naik ke atas tubuh Serly, dan mengungkung tubuhnya dengan c1uman yang tidak sedikitpun ia biarkan terlepas.
George terus *3*****, m3lilit juga m3ny3sap lid4h Serly cukup kuat, sampai Serly tidak sadar, bahwa tangan George sudah mulai bergerilya memainkan satu pucuk k3mbarnya miliknya.
Dia m3r3mas dan m3milinnya sampai Serly berdesis, merasakan nyeri juga linu yang bersamaan.
Tidak puas dengan itu, George menaikan bajunya, dan memperlihatkan satu bukit yang tadi ia mainkan.
Disitulah Serly sadar. Dia mendorong dada George cukup kuat, sampai c1uman mereka terlepas.
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Kemudian mata George turun, menatap satu bukit yang masih belum Serly tutupi.
Putih, bersih dan sangat halus. Dia ingin kembali merasakannya. Apalagi, melihat pucuknya yang sedikit kemerahan. Membuatnya tidak tahan ingin menjadi seorang Bayi.
__ADS_1
Serly yang sadar akan gerak-gerik juga hawa dingin di bagian dadanya, langsung menarik ujung kaosnya, namun….