
Selang beberapa menit, kedua orang tua George akhirnya tiba di rumah sakit… bersama Haddy juga ibunya Serly dan Dewi selaku pacarnya.
Mereka melangkah bersama-sama menuju kamar inap George.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat reaksi mereka berdua," ucap Haddy sambil menatap bunga yang ada di dalam pelukannya.
Om juga tantenya tersenyum tipis. Kemudian mendorong pintu kamar inap George secara perlahan.
"Ow." Keduanya terkejut saat mendapati George dan Serly tengah berpelukan.
"Ada apa?" Haddy menatap keduanya heran.
"Sepertinya kita nanti saja masuknya!" jawab Papa George sambil membalikkan badannya.
Membuat Haddy penasaran. Dia melangkah mendekati pintu tersebut, dan membukanya kasar.
Brak!
Dua insan yang tengah bermesraan di dalam, terperanjat dan langsung melepaskan pelukannya masing-masing.
Mereka menatap bersama ke arah pintu yang terbuka.
"Ck." George memutar bola matanya malas.
"Ngapain, sih, lo, kesini?" ucapnya ketus.
Haddy terkekeh, kemudian masuk bersama rombongannya.
"Mamah!" George menatapnya sekilas, lalu beralih pada papanya, Ibu Serly dan yang terakhir Dewi.
Kedua alisnya menaut, menatap sebuah bunga yang Haddy bawa.
__ADS_1
"Itu buat siapa? Aku 'kah?" tanyanya ge'er.
Haddy berdecak sambil memutar bola matanya. "Jangan ngarep!" ucapnya, lalu melangkah mendekati Serly.
"Ini buat pacarku," jawabnya mengarahkan bunga tersebut ke hadapan Serly.
Membuat George kesal melihatnya. Dia bergerak berusaha untuk bangun, namun….
"Diamlah. Kamu masih butuh banyak istirahat," ucap Serly perhatian.
George tersenyum manis, kemudian berbaring lagi.
"Awas, lo, Dy!" ucapnya dengan tatapan sengit.
Haddy terkekeh. Kemudian mengedipkan matanya pada kedua orang tua George memberi instruksi.
Mereka mengangguk paham, dan saling lempar tatapan.
"Apa, sih! Ko, main kode-kodean gitu!" George menatap mereka semua curiga.
Ish!
George memutar bola matanya, lalu menatap Serly yang setia terus berada di sampingnya.
Papa George menghela napas, kemudian melangkah mendekati Serly.
Membuat keduanya semakin kebingungan.
"Ada apa, sih!" George kembali menatap semuanya heran.
Ish!
__ADS_1
Ia berdecak saat tak ada satupun orang yang mau menjawabnya.
Lalu, menatap ibunya Serly lekat. Ada rasa bahagia di dalam hatinya. Sepertinya Mamah juga Ibu Serly sudah berbaikan. Terlihat dari sorot mata keduanya yang tenang, dan
Fokus George kembali pada papanya yang tengah menatap Serly serius.
"Nak!" ucapnya sambil meraih tangan Serly lembut, membuat George kesal melihatnya.
"Apa-apaan, sih, Pah! Lepasin, gak!" ucapnya emosi.
Namun, tidak dihiraukannya, membuat George tambah kesal.
Ia menatap semuanya dengan penuh emosi. Tapi,
"Pertama … Papah juga Mamah ingin meminta maaf pada kamu. Terutama Mamah. Maafkan semua perbuatan kasarnya padamu selama ini."
Serly mendengarnya sedikit bingung. 'Ada apa sebenarnya?' Itulah yang ada di dalam pikiran Serly.
Dia menatap Ibu juga mantan karyawannya mencari sebuah jawaban. Namun, mereka hanya diam saja seperti sudah berkompromi untuk tidak angkat bicara.
"Nak!"
"Om juga Tante gak usah minta maaf. Kalian tidak punya salah apa pun padaku," jawabnya dengan senyum paksa.
Papa George tersenyum hangat. Kemudian mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku jasnya, lalu ia arahkan ke hadapan Serly.
Hah!
Serly maupun George terkejut melihat benda tersebut.
"A-apa ini?" tanya Serly gugup. Kemudian menatap George mencari kebenaran. Namun,
__ADS_1
George malah mengedikkan bahunya. Dia juga tidak tahu apa maksud dari papanya itu.
Papa George tersenyum. Kemudian membalikkan telapak tangan Serly, dan membuka benda tersebut.