Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Menikmati Malam


__ADS_3

Dia menarik tengkuk Serly dan langsung meemaguut bibirnya lembut penuh hasrat kerinduan. 


Serly yang malu-malu kucing, membeku tanpa mau membalas paagutannya.


George menghela napas sembari melepaskan pagutannya. Dia menatap Serly dengan wajah sayu.


"Kenapa? Apa Tante terpaksa menerimaku lagi?" tanyanya lirih.


Serly menggeleng, membalas tatapannya dalam. 


"Ya sudah. Kalau Tante nggak mau. Aku gapapa, kok," ucapnya sedih. Kemudian membaringkan tubuhnya, berbalik memunggungi Serly.


"Jangan lupa matikan lampunya! Aku mau tidur duluan!"


Serly menghembuskan napasnya pelan. Kemudian beranjak naik ke atas bed tersebut dan berbaring di hadapan George.


"Kamu marah?" tanyanya sedih.


George menggeleng samar.


"Jangan bohong, George!" Serly menangkupkan sebelah tangannya di pipi George.


George menghela napas. Lalu, membalas tatapannya sendu. "Aku kecewa, Tan. Bukan marah," jawabnya jujur.


Serly menunduk. "Maafkan aku," ucapnya.


George tersenyum dan menarik dagunya lembut. 


Mereka bersitatap dengan wajah yang kian mendekat.


Perlahan, kedua kelopak mata Serly terpejam. Menyambut bibirnya yang masih merah muda.


Mmmmm ….


Keduanya saling paagut … dengan tangan perlahan saling memeluk.


Mereka terbuai akan ciiumaan kerinduan dan kesedihan.


George meelumaat bibirnya rakus. Sampai menimbulkan beberapa decakan halus dari peraduan bibirnya.


Serly mendorong dadanya saat terasa sesak di dada.


"George," ucapnya dengan nafas terengah-engah.


George tersengeh sambil menggaruk tengkuknya. "Kelepasan," gumamnya. Membuat Serly gemas mendengarnya.


Cup!


"Sudah. Sekarang … kamu tidur. Biar cepat sembuh!" ucapnya setelah mendaratkan satu kecupan di bibirnya.

__ADS_1


George merungut. "Aku mau sesi kedua," kekehnya malu-malu.


Serly mendelik. "Tak ada. Kamu masih sakit. Dan harus banyak istirahat!"


"Hm. Baiklah," jawabnya dengan bibir mengerucut, berhasil membuat Serly gemas lagi melihatnya.


Dia mencomot bibirnya yang ranum, dan ia tempelkan ke pipinya sendiri.


George menyunggingkan bibirnya sekilas. "Kalau ada … buat apa pake tangan. Pake ini dong," ucapnya seraya mendaratkan satu kecupan di kening, pipi juga bibirnya. Namun,


"George!" Serly kembali mendorong dada George lembut saat ia hendak melanjutkan ciiumaannya lagi.


George terkekeh. "Iya, udah. Nggak ada lagi!" ucapnya ketus.


Serly tersenyum dan bangun dari sana. Tapi, segera George tarik tangannya.


"Disini aja. Kita tidur bersama!" ucapnya dengan tampang memohon.


Serly menatapnya lama.


"Ayolah. Cuma tidur doang. Gak bakal neko-neko. Janji!" ucapnya sembari mengacungkan satu jarinya.


Satu tarikan napas Serly hembuskan pelan, kemudian berbaring di atas kasur pasien yang cukup besar… dengan satu tangan saling memeluk hangat.


"Good night, Tan! Have a nice dream!"


Serly tersenyum. "Too," jawabnya singkat.


Mereka benar-benar menikmati malam ini dengan tidur bersama. 


Sampai-sampai ada beberapa kali Suster yang mengecek infusan juga jahitan di tangan George… tidak mereka sadari.


Mereka benar-benar terlelap.


Sampai pagi menerpa, Serly terbangun saat merasakan ada keanehan dalam dirinya.


"George!" gumamnya. Saat sadar kalau George 'lah yang tengah berulah.


George tersenyum tipis dengan mata masih terpejam.


"George, ih. Jangan," ucapnya sedikit meeleenguh.


Serly mendorong tangannya pelan, namun George malah semakin memperkuat reemasaannya.


"George. Aaahh … gak boleh!"


George terkekeh kecil mendengarnya, dan dengan sengaja ia menyembulkan satu bukiit yang begitu mulus dan montok itu dari sangkarnya.


"George!" Serly mendorongnya pelan.

__ADS_1


"Dikit, Tan!" ucap George sembari membuka kedua matanya, dan menahan tangan Serly yang ingin menutupnya lagi.


Glek!


Seketika tenggorokkan terasa kering. Kedua matanya terpaku pada si montok yang begitu molek dan menggugah selera.


George menelan ludahnya kasar. "Tahan, George. Tante belum sepenuhnya milikmu," batinnya, dengan tangan yang mulai naik dan mengelusnya lembut.


"Ahhh, George!"


Entah sengaja atau tidak. Serly malah semakin membuat George resah.


"Ya ampun, Tan. Jangan seperti itu," gumamnya gelisah.


Serly yang masih mengantuk, tidak terlalu jelas mendengar ucapannya.


Dia malah kembali meleenguh sembari mendorong tangannya.


George mendongak. "Tan!" ucapnya lembut.


Serly yang tadi nggan untuk membuka mata, perlahan memperlihatkan dua maniknya yang sedikit kemerahan.


"Boleh, ya!" izinnya.


Serly mengerutkan dahinya.


"Ini!" jelasnya sembari meereemaas kuat bukiit tersebut.


Glek!


Kali ini Serly yang menelan ludahnya, dan dengan cepat dia menyingkirkan tangan George dari as3tnya.


"Tan! Pliiiisss! Hanya itu doang," ucapnya dengan satu tangan menangkup abstrak di depan wajahnya.


Serly menghela napas. "Jangan, George. Kita-"


"Plisss! Sekali ini doang!"


Serly termenung. Dia bingung harus seperti apa menolaknya. Tapi,


Kalau melihat dari sorot matanya … Serly rasanya tidak tega untuk menolaknya. Namun,


Serly terus berpikir mempertimbangkan semuanya. Dia tidak mau salah langkah, dan dirinya sendiri yang rugi.


"George!"


George mendongak dengan tatapan mata sayu, penuh hasrat yang harus segera dituntaskan.


"Aku-"

__ADS_1


George yang benar-benar sudah tidak tahan lagi, langsung menarik tengkuk Serly kasar. Tanpa mau mendengarkan ucapannya terlebih dahulu.


__ADS_2