
Untuk sesaat, Serly masih berdiam diri sembari menatap keseluruhan tubuh Alex yang masih terbungkus oleh pakaian rumah sakitnya.
Ditatap seperti itu oleh wanitanya, membuat George menjadi semakin percaya diri untuk memperlihatkan dadanya yang ramping.
Dia perlahan membuka satu persatu kancing baju tersebut, dan membukanya sedikit hati-hati. Takut mengenai lukanya yang belum kering.
Melihat itu, bukannya Serly terpana… dia malah memutarkan kedua bola matanya malas.
"Katanya gak bisa. Tapi itu bisa!" cibirnya dengan kedua tangan melipat di dada.
George tersengeh, "aduh-duh. Aduh… aku lupa!" ucapnya di akhiri dengan senyuman tanpa dosa.
Serly berdecak dan memberikan paper bag yang masih dipegangnya ke hadapan George.
"Nih. Kamu pakai sendiri. Aku tunggu saja diluar!" ucapnya ketus.
George merungut sembari memberikan baju yang sudah ia buka. "Tante tega tinggalin aku dalam kesulitan seperti ini?" tanyanya memelas.
Serly menghela nafas, kemudian mengambil satu kain dari dalam paper bag tersebut.
"Sudah. Jangan banyak akting. Aku tahu kamu itu manja!" ucapnya, seraya mengarahkan satu lubang tangan kemeja ke hadapannya.
George tersengeh. "Itu tahu. Tapi Tante malah so' tidak paham!" jawabnya sembari memasukkan satu persatu tangannya ke lubang baju tersebut, dan Serly kemudian mengancinginya.
Kini….
Serly kembali terdiam… dengan tatapan tertuju pada celana yang George pakai.
"Kenapa, Tan? Apa ada sesuatu yang terlihat berdiri?" goda George dengan pikiran mesumnya.
Serly menatapnya sinis. "Kamu 'tuh, ya. Pikirannya makin ngeres aja."
George terkekeh. Lalu, membalikkan tubuhnya menghadap tembok.
Serly termenung. "George. Keknya sama aja, deh. Kamu madep mana-mana pun… akan tetep kelihatan."
George mendesah seraya membalikan tubuhnya lagi. "Ya udah. Gini aja. Susah banget sih!"
Serly menatapnya ketus.
"Tante gak usah takut. Aku gak bakal ngapa-ngapain, kok. Lagian, ya, entar juga Tante bakal melihatnya. Memainkannya juga."
Kedua pipi Serly langsung bersemu merah merona.
"Yaudah. Kamunya merem. Jangan liat-liat!" ucapnya sedikit gugup.
George terkekeh. "Kok, aku sih? Harusnya 'kan, Tante!"
Serly tersenyum sedikit malu, dan tanpa bicara lagi. Dia mengeluarkan satu potong kain terakhir yang ada di dalam paper bag tersebut. Lalu, ia sampirkan di bahunya seraya merunduk, berjongkok di hadapan George.
Melihat itu, George tersenyum-senyum dengan mata pura-pura menutup, dan perlahan….
Serly mengarahkan kedua tangannya yang gemetaran ke arah karet celana. Lalu, menurunkannya dengan mata terpejam.
George terkekeh. "Gak usah merem juga kali. Takut amat liat barang spesialku!" cibirnya sedikit ketus.
Serly menghela nafas, dan kembali membuka kedua matanya.
Ish!
Seketika ia memasang wajah cemberut dan menatap George kesal.
"Kenapa, sih, kamu gak bilang. Kalau kamu pakai kolor!" ketusnya sembari mengarahkan satu lubang celana ke depan kaki kanannya.
George tertawa. "Habisnya… Tante kek lagi mau ngapain aja. Tegang banget!"
Serly berdecak, lalu menaikan celana tersebut sampai terpasang di pinggangnya, dan….
__ADS_1
Glek!
Seketika Serly terdiam dengan saliva ia telan kasar. Matanya tertuju pada tangan yang tak sengaja menyentuh barang tersebut saat ingin menaikan resletingnya.
Di menit berikutnya… dia mendongak dan menatap wajah George yang seakan tidak terjadi apa-apa padanya.
"Kenapa, Tan? Gak sengaja, ya?" tanyanya tanpa ragu.
Serly langsung menunduk dengan tangan segera ia tarik dari resleting celananya.
George menghela nafas. "Bagaimana? Apa ada aliran listrik yang menyerang tubuh Tante?" bisiknya dengan begitu nakal, dia mengecup dan menj1lat cuping telinganya halus.
Membuat Serly memejamkan matanya dengan kedua tangan saling meremas juga tubuh yang membeku.
George terkekeh, dan perlahan mencondongkan kepalanya ke depan wajah Serly. M3ng3cup bibir ranumnya sekilas.
"Ingin lagi?" godanya.
Kedua mata Serly langsung menatap kedua manik yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Aku ingin, Tan!" ucapnya sendu.
Serly menghela nafas seraya mengalihkan pandangannya. Beranjak dari sana sembari melipat baju pasiennya.
George merungut. Lalu, melangkah mengikuti Serly yang terus berjalan kesana kemari, merapikan barang-barangnya yang akan ia bawa pulan.
"Tan!" panggil George dengan sesekali menghalangi langkahnya. Namun, Serly seakan tidak ingin menatapnya.
Dia terus berkilah dari hadapan George.
Sampai akhirnya George nyerah, dan duduk lemas di sisi kasur.
"Tante kenapa, sih, selalu begitu padaku?" ucapnya lesu.
Serly tidak menggubris. Dia segera meraih sebuah buket besar dan ia peluk hangat.
"Yuk!" ajaknya acuh.
Serly menarik nafas dan berhenti di hadapannya. "Aku sudah pernah bilang, George. Sering malah, dan aku tetap tidak akan mau sebelum kita SAH nanti!"
George mengerutkan dahinya. "Jadi, aku harus terus menahannya sampai kita menikah?" tanyanya tidak percaya.
Serly mendelik seraya memalingkan wajahnya.
"Tante mikirin apaan, sih!"
Serly tidak menggubris.
"Pasti Tante mikirnya mesum, ya?" tuduhnya.
Serly mencebik dengan lirikan malas.
"Aku ingin buang air kecil, Tan. Tak kuat rasanya jika harus menahan sampai kita menikah."
Sontak Serly langsung menoleh dengan raut wajah tidak percaya, dan tak lama dia terkekeh pelan.
"Kenapa kamu gak bilang, George!"
George mendelik. "Gimana mau bilang. Tantenya ambekan kek gitu."
Serly tertawa lepas. "Oke, oke. Maaf," ucapnya, "sudah sana. Aku tungguin kamu disini," usirnya.
George menggeleng. "Gak jadi. Mau aku tahan sampai menikah!" ucapnya ketus.
Serly tersenyum dan menangkupkan satu tangannya di pipi George. "Udu-duh. Pacarku ngambek!" ucapnya menggemaskan.
George mendelik, membuat Serly semakin gemas melihatnya.
__ADS_1
"Ya udah. Yuk, pulang. Mamah sama Papah udah nunggu lama diluar," ucapnya.
George tidak menggubris. Dia malah mendengus sembari memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut.
Serly menarik nafas, lalu membalikkan wajahnya menghadap pada Serly lagi.
Cup!
"Maaf!" ucapnya setelah mendaratkan satu kecupan hangat di bibirnya.
George sedikit menarik ujung bibirnya. "Gak cukup!" ketusnya lagi.
Serly terkekeh. "Doyan!" cibirnya, dan kembali mengecup bibir George mesra. M3lum4tnya cukup lama.
"Sudah?" tanyanya sembari melepaskan lum4t4nnya.
George tersenyum lebar. "Masih kurang!" tegasnya.
Serly berdecak dan segera membalikkan badannya. Meninggalkan George yang malah musam-mesem disana.
"Ck. Tan! Tunggu!" teriaknya seraya turun dari sana, dan berjalan sedikit cepat menyusul Serly.
"Tungguin, dong!" ucapnya setelah berada di samping Serly.
Serly tersenyum sambil meliriknya sekilas. "Siapa suruh malah senyam-senyum sendiri," ucapnya.
George tersengeh dengan satu tangan menarik ujung bajunya kuat, menutupi resletingnya yang masih terbuka sedikit.
Dia melirik beberapa orang yang menatapnya aneh.
"Tan!" panggilnya sedikit menyenggol lengan Serly.
Serly menoleh dengan tatapan heran.
"Apalagi?" tanyanya seraya berhenti.
George mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Serly. "Resletingku masih kebuka. Dan banyak orang yang melihatnya," bisiknya dengan ekor mata terus mengedar.
Serly menepuk jidatnya pelan. "Aku lupa, George!" jawabnya.
George mengangguk. "Bisa pegangin, gak. Atasnya doang. Biar aku yang tarik sletingnya!"
Serly malah berpikir.
"Ayo, Tan. Keburu melorot ini."
"Seriusan disini?" tanyanya tidak percaya.
George berdecak. "Cepetan, Tan. Satu langkah lagi… celanaku pasti bakalan turun!" ucapnya.
Serly menunduk memperhatikan celananya. Lalu mengangguk, dan mengarahkan satu tangannya ke depan celana yang George pakai.
Seketika itu juga, desas-desus terdengar samar di telinga mereka berdua. Membuat Serly jadi risih dan bingung sendiri.
"Buruan, George."
"Bentar, Tan. Sletingnya nyangkut!"
Ish!
Serly berdecak sembari memutar bola matanya. "Buruan, ih. Liat, tuh! Banyak banget yang liatin kita," ucapnya sedikit berbisik.
George mengangguk sambil terus berusaha menarik resletingnya, dan
"Ah… akhirnya. Udah, Tan!" ucapnya lega.
Serly tersenyum dan menarik tangannya cepat.
__ADS_1
"Udah, yuk! Malu diliatin banyak orang!"
George mengangguk. Mereka melangkah bersama-sama dengan Serly terus menundukkan kepalanya malu.