
George menatap lekat manik Mata, Serly sangat dalam.
"Tan! Itu gak bener. Aku-aku gak punya pacar, kok!" Kata George sedih menjelaskan.
"Lah, emangnya kenapa kalo udah punya, pacar?" tanya Serly biasa aja.
George langsung diam seribu bahasa.
"Itu hak, kamu, George!" Seru Serly lembut, "Kamu mau punya pacar atau enggak pun, Aku gak berhak untuk mengetahuinya." Tambah Serly bertolak belakang dengan suara dalam hatinya.
Sebenarnya dia sedih, sediiiihhh banget saat mendengar itu. Tapi, apa yang bisa ia lakukan. Serly bukan siapa-siapanya, George. Jadi, gak ada berhak untuk mencampuri tentang Privasi-nya, termasuk hati George.
George menunduk sedih mendengar penuturan Serly yang lembut, serasa gak ada harapan untuknya. Untuk bisa mendekati Serly.
"Oh, iya. Aku lupa, kalo Tante, udah punya Pacar!" Kata George lirih.
Serly tahu jika Bocah ini mempunyai perasaan untuknya. Tapi, Serly gak mau jika harus jadi orang ke-3.
Serly berpikir sebentar, setelah mendengar ucapan George barusan.
"Pacar?" Tanya Serly memastikan lagi.
George mengangguk pelan. "Pria yang tadi mengantar, Tante! Itu pasti pacar, Tante, kan?"
Serly menyunggingkan sebelah Bibirnya senang. "Haha...." Serly tertawa pelan. "Itu, yang tadi yang mengantar, aku biasa lah!" Kata Serly sedikit membanggakan dirinya.
"Biasa, apa? Pacar kedua?" Tanya George sedikit sinis.
Serly langsung menyilangkan kedua Tangannya di depan Dada, "Bukan! Itu saudara aku."Jelas Serly berbohong.
"Saudara?" Tanya George gak paham.
Serly mengangguk-anggukan Kepalanya secara berulang dengan pasti.
"Yes!" Gumam George seraya menyikutkan Tangannya sebelah.
Serly tersenyum melihat tingkahnya.
Jika kita jadian, kayaknya aku harus lebih dewasa me.......
Glekkk....
Serly menelan Ludahnya kasar, saat George memeluk Tubuhnya secara tiba-tiba.
"Makasih, ya, Tan! Tante selalu ada untukku." Kata George dengan erat memeluk Serly.
Serly hanya diam diri mematung. Entah harus senang atau apa? Serly bingung harus ngapain.
Dengan perlahan-lahan, Serly mengangkat kedua Tangannya untuk membalas pelukan George.
Tapi,
Serly urungkan kembali, ia gak jadi untuk membalas pelukan George padanya.
"Aku sayang! Sama, Tante. Meski aku baru dua hari bisa menyentuh, Tante dan melihat, Tante!" Katanya lagi.
Serly makin kebingungan, apa yang sebenarnya ia katakan.
"Asal, Tante tahu, aku udah lama mengenal, Tante!"
"Hah...."
Serly mendorong pelan tubuh, George supaya bisa menatapnya.
George menunduk malu. "Waktu, itu... aku-aku sebenarnya bukan mau nunpang Toilet." Kata George pelan.
Serly menautkan kedua alisnya belum paham.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku mau melihat Tante dari dekat!" Tambahnya.
"Maksudnya?"
Serly terus mencari tahu apa saja tentangnya.
"Aku udah lama suka, suka..."
"Suka sama siapa?" Potong Serly cepat.
"Suka sama,Tante!" Katanya sedikit keras sembari mencium Bibir Serly sekilas.
Serly melongo gak percaya sama apa yang barusan Bocah itu lakukan.
Sementara, George, dia gelagapan. George merutuki dirinya yang bertingkah se enaknya saja. George mengalihkan pandangannya ke sembarang arah cemas dan bingung.
Gue harus bagaimana sekarang, gegabah banget sih, Lo, George. Dimana sopan santun Lo sama yang lebih tua. Rutuk George pada dirinya sendiri.
Mereka saling diam dalam beberapa menit.
"Maaf." Kata George mencoba untuk memulai kembali percakapan. "Aku, gak sengaja. Itu-itu spontan terjadi begitu saja." Tambah nya lagi.
Serly mencoba menormalkan kembali debaran jantungnya.
"Gak papa." Jawab Serly singkat.
George mendongakan Kepalanya menatap Serly, "Tante, Tante, Tante marah ya sama aku?" tanyanya sedih.
"Marah! So pasti. Ini ciuman pertamaku, pasti aku akan marah." Jelas Serly dan membuat si Bocah jadi bangga.
"Serius, Tan?" Tanyanya bersemangat kembali.
Serly mengangguk.
"Ah, pantas saja manis." Gumamnya lumayan keras. Jadi, Serly pun mendengarnya.
"Awss... sakit, Tan!" Serunya mengaduh.
"Biarin, Aku lebih sakit lagi." Timpal Serly sambil memegang Dadanya.
"Itu, mah gak akan sakit,Tan! Itu enak. haha...."
Serly memdelikan Matanya sebal dengan pemikiran George yang sudah keluar dari batasannya.
Tapi, ya. Namanya anak jaman sekarang, selalu begitu. Katanya hal biasa.
Mereka terus bercanda di ruang UKS sejak lama.
"Ngomong, ngomong, kamu beneran...."
"Aku beneran, Tan, aku beneran suka sama Tante!" Potongnya kepedean.
"Ih, Bocah gendeng! Bukan itu yang mau aku tanyakan!"
"Terus.."
"Kamu beneran sakit? apa bohongan?" Sekidik Serly.
"Yah, Bener atuh,Tan! Masa bohongan." Kilahnya sinis.
"Biasa aja kali, aku nanya baik-baik juga." Timpal Serly kesal.
"Ya, Tante, nanyanya kayak gitu."
"Bisa enggak kalo gak manggil, Tante!" Pinta Serly.
George memutarkan Matanya berpikir. "Maunya di panggil apa? Baby, atau Hunny?" Usulnya.
__ADS_1
Serly bergidik geli mendengar panggilan untuknya dari George. Jadian juga belum, panggilan udah kayak gitu. Iyyy....
"Udah, ah. Tante aja." Kata Serly ketus.
"Haha... Tante, ngambek ya?"
"Gak! Siapa yang ngambek?"
"Itu, Bibirnya monyong!" Kata George seraya menunjuk Bibir Serly, "Mau aku cium lagi?" Tanyanya sembari mengerlingkan mata sebelah.
Serly langsung memelototkam Matanya pada George.
Serly gak paham dengan tingkahnya yang masih labil, tapi sudah punya pikiran kotor kemana-mana.
"Ampun, Tante galak!" Katanya dengan begitu lucu.
Serly tertawa halus melihat Wajah ketakutan George. Jadi makin imut saja.
"Aku beneran suka sama Tante! Apa Tante mau jadi pacar aku?" Tanyanya menyela tawa Serly.
"Kamu masih sekolah, belajar dulu yang rajin."
"Tapi, aku suka sama Tante!"
"Itu hak kamu. Tante gak bisa larang itu."
"Apa itu artinya,Tante menolakku?"
"Dengarkan aku baik-baik. Aku bukan menolak, tapi alangkah baiknya kamu belajar dulu yang rajin. Soal begituan nanti juga ada waktunya!"
"Tapi,Tan!"
"Aku akan menunggumu sampai kamu sukses."
"Benarkan?"
Serly mengangguk yakin.
"Yaaaaaa....." Teriaknya begitu kencang.
Syuttt....
Titah Serly takut mengganggu Murid lain yang sudah kembali melakukan ***.
George memeluk kembali tubuh Serly dengan erat. Dia sangat senang sekali mendengar itu.
"Kalo, gitu. Aku pulang dulu ya! Kamu baik-baik. jika gak kuat, bawa kendaraannya sama teman kamu aja." Titah Serly lembut.
"Kita pulang bareng aja ya?"
"Kamu masih belum selesai sekolahnya. Masih banyak waktu untuk belajar. Apalagi kamu lagi sakit, kan?"
"Aku ingin ikut sama,Tante!"
"Kemana?"
"Ke rumah, Tante!"
"Ngapain?"
"Biar ada yang rawat aku, Tan!"
Serly diam sebentar sebelum mengangguk mengiyakan ke inginan George.
"Baiklah."
"Asyikkk. Makasih, Tante!" Katannya dan lagi-lagi memeluk Serly.
__ADS_1
Kali ini, Serly sudah sedikit terbiasa. Ia membalas pelukan George.