Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Morning Kiss


__ADS_3

"Ck. Anak itu," gumamnya seraya menarik selimutnya kembali… dengan mata perlahan terpejam lagi.


****


Tanpa terasa, mentari pagi sudah memancarkan sinarnya.


Serly terbangun, lalu membantu ibunya menyiapkan beberapa jenis sarapan, dan setelahnya dia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum membangunkan kedua manusia paling unik di muka bumi ini. (Menurut Serly)


"Ser. Ibu hari ini ada undangan untuk hadir ke rumah Pak Rt, mungkin pulangnya akan sedikit sore." Ucap ibunya saat melihat Serly keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkap juga handuk kecil melilit di kepalanya.


"Ngapain, Bu?" Serly menelisik tatapan ibunya.


"Ibu belum tahu. Tapi, katanya ada yang mau disampaikan," jelasnya sambil menata beberapa makanan ke dalam rantang susun kecil.


"Itu buat siapa?" Tanya Serly sembari melangkah mendekati ibunya.


"Buat kamu bawa ke Toko."


Serly tersenyum dan mengecup kening ibunya. "Makasih banyak, Bu," ucapnya seraya memeluk tubuh rengkang ibunya.


"Sama-sama," jawabnya, "kalau begitu … Ibu berangkat sekarang, ya? Kamu-"


"Sepagi ini, Bu? Undangan apa, sih? Jangan bilang Ibu bekerja disana?" tuduhnya penuh curiga.


"Kan Ibu sudah bilang. Ibu gak tahu ada apa."


"Terus?"


"Ibu berangkat sepagi ini … kan jarak ke rumah Pak Rt cukup jauh. Ibu gak mau terlambat," ucapnya.


Serly mengangguk pelan. "Hati-hati, ya, Bu!"

__ADS_1


Ibunya mengangguk dan meninggalkan Serly yang masih mematung disana.


Serly menghembuskan nafas kasar, mengenyahkan semua pikiran buruknya… dan melangkah mendekati dua manusia yang masih meringkuk di atas sebuah karpet.


"George … bangun. Sudah pagi," bisiknya halus.


"George!" ucapnya lagi.


Serly berdecak saat George masih saja belum bangun.


"Geo-"


Nggghhh….


Serly mengurungkan niatnya saat salah seorang dari mereka menggeliat dengan lenguhan panjang.


"Jam berapa, Tan?" Tanya Haddy seraya bangun dan mendudukkan tubuhnya dengan suara khas juga muka bantalnya.


"Oh. Masih pagi berarti. Aku tidur lagi aja." Haddy menjatuhkan tubuhnya lagi, dan memeluk George erat.


"Ck. Bangun! Bukannya kalian hari ini mau sekolah?"


Haddy menggeleng. "Hari ini libur, Tan. Libur internasional!"


"Dy?" Serly menekankan suaranya.


"Ck. Oke, oke, Tante galak … yang bohaynya kebangetan! Bikin mata ngiler melihatnya…."


Serly mendelik. "Buruan mandi sana. Jangan lupa keramas sekalian!" ucapnya ketus.


George yang pura-pura masih tidur, terkekeh geli mendengarnya. Begitupun dengan Haddy. Ia duduk sambil tertawa halus. 

__ADS_1


"Keramas apaan? Emangnya aku abis sport malam!"


Serly mendelik dengan tatapan sinis ke arah George.


"Selamat pagi untuk yang kedua kalinya, Tante." George tersenyum seraya meraih tangan Serly lembut.


Haddy mencebikkan bibirnya ketus. "Caelah kalian … terus aja pamer. Terus… terus… lama-lama bosan aku liatnya." Ia beranjak dari sana menuju dapur.


"Wihhh … udah ada makanan. Aku makan duluan, ya, Tan!" teriaknya tanpa malu juga cuci muka terlebih dahulu.


Serly berdecak tidak percaya. "Bangun … sana mandi. Nanti telat sekolahnya." Ia menarik selimut yang ada di atas tubuh George.


"Morning kiss dulu!" pintanya menarik tubuh Serly sampai ia terduduk di sampingnya.


"George. Jangan aneh-aneh, ah." tolaknya.


"Awal sih, aneh. Tapi, lama-kelamaan nagih."


"Astaga, George. Kepalamu sepertinya harus direndam dulu seminggu. Kotor banget pikirannya."


"Sebulan aja, Tan! Biar kinclong!" Timpal Haddy dari arah dapur.


"Buru, Tan. Aku gak mau mandi … gak mau sekolah kalau gak dapet morning kiss dari Tante." ucapnya merajuk.


Serly tersenyum tipis. "Oke. Bobo aja lagi sana. Aku berangkatnya berdua ama Haddy. Biar peluk-pel-"


Ucapannya terhenti saat George tiba-tiba menarik dan menc1um bibirnya sekilas. "Gitu aja susah banget!" ucapnya seraya bangun.


"Jangan macam-macam!" tegasnya dengan mendaratkan satu kecupan lagi di kening Serly. Kemudian berlalu menyusul sahabatnya yang tengah asyik sarapan.


Serly menunduk menyembunyikan pipinya yang terasa hangat. "Astaga, George. Kau itu…," gumamnya merasa malu sendiri.

__ADS_1


Kemudian ia melipat selimut dan membawanya ke kamar.


__ADS_2