
Selang beberapa menit, seorang Suster keluar dari ruangan tersebut. Dia menginformasikan kalau George butuh pendonor darah. Namun, kedua orang tuanya masih belum tiba.
Membuat Serly juga Haddy kelabakan.
Mereka menelpon mamanya George secara berulang, tapi tak kunjung diangkat. Itu malah menambah beban pikiran mereka berdua.
"Ini gimana, dong, Dy?" Serly menatapnya sendu.
Haddy mendesah sambil mengacak belakang kepalanya. "Mereka kemana dulu, sih?" ucapnya kesal juga cemas.
Kemudian menghela napasnya, dan menatap Serly serius.
"Tante tunggu disini, aku akan mencarinya," ucapnya seraya memegang kedua bahu Serly lembut, dan ia usap-usap pelan.
"Donornya?"
Haddy tersenyum manis. "Kita beli aja. Moga ada," jawabnya tenang.
Hhhh ….
Serly menganggukkan kepalanya kecil. "Hati-hati," ucapnya khawatir.
Sebelah bibir Haddy langsung tersungging. Baru kali ini dia merasa hangat dengan seorang wanita.
"Thanks atas perhatiannya, Tan," ucapnya terharu.
Serly tersenyum, lalu mengantarnya sampai ke meja resepsionis, dan mereka berpisah disana setelah darah yang mereka butuhkan alhamdulillah ada.
Serly kembali menuju ruangan yang tadi, menunggu George yang tengah melakukan transfusi darah.
"George. Kumohon … sadarlah. Aku janji … apa pun, aku akan kembali padamu," gumamnya sambil duduk di area kursi tunggu.
Dengan sesekali menatap ke arah pintu yang tertutup rapat.
****
__ADS_1
Selang beberapa menit, dua orang Perawat Laki-laki keluar dari ruangan tersebut sambil mendorong sebuah bed.
"George!" Serly segera menyerbu dan menatapnya dengan senyum bahagia.
Dia melangkah mengikuti dua perawat tersebut sambil menggenggam satu tangan George lembut.
Mereka berhenti di depan sebuah ruang VVIP, lalu masuk setelah membuka pintunya.
"Sebentar, Nona. Kami akan mengecek dulu infusannya," ucap satu perawat sembari melangkah mendekati Serly.
Serly mengangguk seraya bergeser, dan memperhatikan perawat tersebut yang sedang berusaha menyuntikan cairan melalui selang infus.
"Jika ada sesuatu … panggil saja!" ucapnya sambil menatap Serly serius.
Serly mengangguk, kemudian mereka pamit keluar, dan tinggallah mereka berdua disana.
Serly menghela napas, lalu duduk di kursi yang ada di samping bed milik George.
Satu tangannya ia genggam serta ia elus lembut.
"George," ucapnya pelan. Ia menunduk dengan genggaman tangan sedikit mengerat.
"Maafkan aku, George," ucapnya.
Satu tetes air mata meluncur dan mengenai tangan George.
"Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini. Maafkan aku, George. Maafkan aku."
Serly terisak dengan sesekali mencium punggung tangan George lembut.
Tanpa ia sadari, kalau George ternyata sudah siuman. Dia hanya berpura-pura saja menutup matanya.
Serly terdiam dan menyeka air matanya kasar. Lalu menatap wajah George yang pucat.
"Aku janji, George. Aku akan mempertahankan cinta kita lagi. Aku ingin bersama denganmu lagi. Aku rindu kamu, George. Aku merindukanmu," ucapnya dan memeluk tubuh George hangat.
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu, Tan!" ucapnya sambil tersenyum lucu. Lalu, membuka kedua matanya dan mengecup kening Serly sekilas.
"George. Kamu sadar?" ucapnya terperangah. Ia tersenyum seraya melepaskan pelukannya.
George menyunggingkan bibirnya tipis. Kemudian mengangguk samar. "Sebenarnya … aku sudah sadar sedari tadi. Hehe…," ucapnya dengan sengiran tanpa dosa.
Serly langsung merubah ekspresinya dingin. Dia menatap George sinis.
"Maaf. Tadinya aku mau ngasih tahu. Tapi…,"
"Tapi apa? Kamu suka, ya, buat orang khawatir!" tegasnya merasa kesal.
George terkikik pelan. "Makasih banyak udah khawatir sama aku," ucapnya pelan.
"Ish. Aku serius, George!"
"Aku malah lebih serius," balasnya. Membuat Serly jadi mati kutu.
Dia musam mesem sambil menatap wajahnya malu-malu.
George terkekeh. "Peluk lagi, dong. Katanya rindu?" cibirnya.
Serly menunduk dengan pipi yang memerah.
"Hm. Ayolah. Obati semua lukaku."
Serly mengangkat kepalanya lagi.
"Ini gara-gara, Tante, lho!"
"George!" Serly langsung menatapnya sedih.
"Hihi. Canda, Tan. Buru peluk makanya. Hati juga pikiranku masih berat ini," ucapnya seraya menarik tangan Serly lembut.
Mereka saling tatap dengan senyum banyak arti, kemudian saling peluk hangat.
__ADS_1