Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Nasib Buruk


__ADS_3

Serly diam mengabaikan ketukan seseorang di pintunya. Dia terus meringkuk sambil memeluk kedua lututnya erat.


Tok, tok.


 Pintu itu kembali diketuk, dan Serly hanya meliriknya sekilas. Sampai pada akhirnya orang itu bersuara, mengucap salam dengan suara yang tenang.


Membuat Serly terpaksa bangun dan melangkahkan menuju pintu tersebut.


Krek.


Serly menatap orang yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Ya ampun, Ay! Kamu kenapa?" tanyanya heran melihat keadaan Serly yang begitu menyedihkan.


Serly tidak menggubrisnya. Dia melangkahkan kakinya dengan lunglai  ke dekat kursi. Menyandarkan punggungnya lemas ke belakang kursi.


"Ay! Aku boleh masuk?" Ia terus berdiri di ambang pintu dengan tatapan mengedar ke sekeliling.


Serly tidak menghiraukannya. Dia terus berdiam diri tanpa mau meliriknya lagi.


Hhhh ….


"Kamu kenapa, Ay?" Dia masuk dan duduk di hadapan Serly. Menatapnya dalam dan lekat.


Serly tetap diam. Menatap pun ia tidak mau.


"Ay!"


Serly mengangkat pandangannya, lalu beralih pada orang yang baru masuk ke dalam rumah tersebut.


"Eh, ada Nak Arip!" Ibu melangkah dengan senyum manis tercetak di wajahnya.


"Ibu!" Pria yang dipanggil Arip itu tersenyum sambil menyalami tangannya.


"Udah lama?" tanya Ibu sembari meletakkan tas jinjingnya di atas meja, lalu masuk ke dapur untuk mengambil air minum, dan tak lama beliau kembali dengan segelas air putih di dalam baki.


"Maaf, Nak. Setiap kesini Ibu hanya bisa menyajikan itu."


Arip tersenyum tipis. "Gapapa, Bu!" jawabnya sembari meneguk air tersebut, lalu ia taruh kembali di atas meja.

__ADS_1


"Ah, iya, Bu. Apa Serly sudah dikasih tau? Soalnya-"


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum bisa memberitahunya."


Serly yang diam namun mendengarkan setiap percakapan mereka, menatap keduanya aneh.


"Ada apa, Bu? Apa yang mau Ibu kasih tau padaku?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.


Arip menatap ibunya Serly lama, menyerahkan semuanya padanya.


"Maafkan Ibu, Nak!" ucapnya sedih. Membuat Serly curiga mendengarnya.


"Begini, Ay-"


"Diam. Aku ingin mendengar semuanya dari Ibu!" tegasnya sambil menyeka semua air matanya.


Ibu menunduk merasa tidak tega pada anaknya. Tapi,


"Maafkan Ibu, Sayang. Ibu menyetujui kamu untuk menikah dengannya."


"Apa?" Serly terkejut mendengarnya. Dada yang masih sesak terasa berdebar hebat dengan napas yang memburu.


"Maafkan Ibu."


Serly terkekeh merasa lucu. "Apa Ibu tidak tahu dia siapa? Dia sudah mempunyai istri, Bu! Dia sudah punya istri!"


Ibu menunduk dalam.


"Ay. Meskipun aku sudah punya istri … tapi kamu akan jadi prioritasku. Terspesial bagiku."


"Hahaha … apa? Prioritas?"


Serly kemudian menatap ibunya. "Ibu. Ibu dengar 'kan? Apa itu baik bagi orang yang mau melakukan poligami?" Dia menggelengkan kepalanya pelan, "aku rasa nggak, Bu."


Serly melirik Arip sinis. "Jika tidak ada keperluan lain lagi … Anda bisa pulang!" tegasnya.


Arip menghela napas. "Baiklah, Ay, kalau begitu. Tapi-" 


Serly menatapnya lekat.

__ADS_1


"Kamu harus bayar semua sisa hutang ibumu padaku!" ucapnya begitu lantang dan tegas.


Serly mengerutkan dahinya masih belum paham.


"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."


"Apa ini, Bu? Hutang apa?"


Semuanya diam, dan Serly ingat sekarang. "Jadi, semua uang yang Ibu gunakan untuk berobat Bapak itu dari dia!"


Ibu mengangguk pelan.


"Berapa semuanya?" Serly menatap Arip begitu lama dan tajam.


"Lima puluh!"


"Ribu?" Serly mengerutkan dahinya.


"Juta!" jawab Arip lantang.


Hah?


Kedua bola mata Serly membulat.


"Jika kamu tidak bisa-"


"Ambil saja toko ku!" potongnya tegas, "itu sudah cukup untuk menutup semua hutang-hutang ibuku!" tambahnya datar.


Arip menghela napas lirih. Sebenarnya bukan  ini yang dia inginkan. Dia rela menunggu belasan tahun lamanya hanya untuk bisa mendapatkan Serly.


"Baiklah kalau begitu, Ay. Mana surat-suratnya." pintanya lirih.


Gegas Serly melangkah menuju kamarnya. Mengambil dan memberikan surat tanah tersebut ke tangan Arip.


Dia menunduk sedih. Kini bukan cintanya saja yang hilang. Tetapi, lapak pencahariannya juga sudah dimiliki orang lain.


Serly melangkah gontai menuju kamar, mengunci dirinya disana.


Meratapi nasib buruk yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2