Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Frustasi


__ADS_3

Haddy menepikan mobilnya tepat di samping George.


"Silahkan Tuan Muda." ledeknya seraya mendorong pintu mobil supaya terbuka.


George menatapnya tajam. "Besok gue sunat!" ancamnya kesal.


Haddy bergidik mendengarnya. "Kalo di sunat lagi nanti gue laku, Bro!"


George tidak menggubrisnya. Langsung menginjak pedal gas dan melesat membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.


"Woi! Mau nyari mati, lo!" Haddy memegang kuat sandaran kursi dengan wajah cemas.


George tidak menghiraukannya. Ia malah semakin mempercepat laju mobilnya.


"George! Berhenti, gak?! Berenti, woi!" Haddy sudah sangat tidak tahan. Ia meraih tangan George paksa.


"Diem!"


Haddy membelalakan matanya. "George. Kalo lo lagi ada masalah. Ngomong sama gue. Bukan malah nyari mati kek gini."


George memelankan lajunya dan langsung menepi.


"Sadar, George. Perjalanan lo masih panjang. Cita-cita lo belum tercapai. Juga, lo harus ingat. Lo ingin menikahi Serly. Lo ingat itu."


"Gue bingung, Dy. Gue bingung harus bagaimana meluluhkan hati ibu gue. Otak gue buntu, Dy. Buntu!"


Haddy melepaskan sabuknya terlebih dahulu, dan bergeser berganti posisi.


"Lebih buntu lagi kalo lo bunuh diri kayak tadi. Hilang sudah semua harapan lo untuk bisa mendapatkannya."


George menundukkan kepalanya lirih. "Sangat sulit untuk menentang orang tua, Dy."


Haddy paham akan permasalahan cinta mereka yang sangat sulit.


"Sekarang. Lo pulang dulu aja, George. Soal kedepannya. Nanti kita pikirin sama-sama."


George menyandarkan kepalanya ke belakang kursi. "Cinta terhalang restu orang tua," gumamnya.


George mengangkat sebelah lengannya untuk menutupi wajahnya. "Lebih baik aku bersaing dengan beribu Pria daripada harus menentang orang tua sendiri."


Haddy menatap sahabatnya itu. "Lo pasti bisa. Semua perjuangan akan mendapatkan hasilnya, George." Haddy menepuk bahu George beberapa kali. "Segala sesuatu itu butuh perjuangan, George. Gak langsung cekgur jadian."


George menatap Haddy sekilas. "Kenapa bukan lo aja. Kenapa harus gue yang mendapatkan masalah ini?"


Haddy yang baru melajukan mobilnya langsung mengerem mendadak.


Ceket ….


"Lo mau bunuh diri!" George langsung ngegas.


"Enak aja lo ngomong kayak gitu tadi. Hidup gue itu indah, cerah, juga damai. Makanya gue bisa adem ayem pacaran."

__ADS_1


George memeletkan lidahnya meledek. "Gue sumpahin. Supaya lo ketiban omongan lo sendiri."


"Gak akan mempan."


"Dih. Liat aja kalo itu sampe terjadi. Gue adalah orang pertama yang akan menertawakan lo."


"Jangan, dong. Hidup gue hanya bercukupan. Gak bergelimang harta kayak lo. Kalo dikasih masalah seperti itu. Gue bisa-bisa bunuh diri."


George menatapnya menelisik. "Yekan. Lo aja kagak mau dan memilih untuk bunuh diri. Apalagi gue yang tengah merasakannya."


Haddy terkikik. "Nikmatilah, Kawan!" ucapnya dan melajukan kembali mobilnya karena suara bising yang memekan dari arah belakang mobilnya.


"Lo pokoknya harus bantu bujukin ortu gue. Mereka suka mendengarkan lo ketimbang gue."


"Asyiap. Asal ada komisinya aja."


George menatapnya kesal. "Heran. Kenapa gue milih lo buat jadi temen gue? Padahal banyak tuh yang mau temenan sama gue," ucapnya.


"Ya. Jangan seperti itu 'lah George. Gue itu tulus mau jadi temen lo. Beda dengan mereka semua."


"Wle. Tulus darimananya? Lo tiap gue minta bantuan lo selalu minta imbalan."


Haddy nyengir mendengarnya. "Di dunia ini tidak ada yang gratis, George. Sekarang tuh zaman sudah berbeda."


"Iya. Sampai gue salah pilih kawan."


"George?"


Haddy mengangguk. Ia melajukan mobilnya dengan sangat santai.


"Gue pikir orang kaya itu enak. Apa-apa tinggal tunjuk. Eh, ternyata kagak." Haddy bergumam dalam hatinya dengan sesekali melihat sahabatnya yang tampak frustasi dengan keadaan yang tengah ia hadapi saat ini.


"Giliran cinta. Dia gak bisa ngapa-ngapain. Gak bisa beli, gak bisa minta, apalagi tinggal tunjuk jari."


Haddy bermaksud membawa George ke rumahnya saja. Ia mau George pulang dengan keadaan yang sudah stabil.


"Lebih enak jadi orang biasa. Tidak mewah juga tidak kekurangan. Apalagi kekurangan cinta. Ha … aku adalah rajanya." Haddy membangga- banggakan dirinya sendiri.


"Ah. Neneng Ndew. Calangeo." ucapnya lebay.


Haddy menggeleng sambil tersenyum lucu. "Aku ingin cepat-cepat hari esok," gumamnya sudah tidak sabar.


Tin … tin ….


Haddy membunyikan klakson mobilnya membangunkan satpam juga orang yang ada di sampingnya.


"Woi! Ngapain?!" George langsung memukul keras pundak Haddy.


"Sudah nyampe, weh."


George mengedarkan tatapannya. "Rumah lo?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Sementara lo tinggal disini dulu sama gue. Biar urusan ibu lo. Nanti gue yang ngomong."


George menatap sahabatnya bahagia. "Thanks, Dy. Lo emang kawan baik," ucapnya seraya merangkul tubuh Haddy.


"Tadi aja lo gak mau temenan sama gue. Sekarang lo meluk-meluk gue."


George yang baru sadar akan apa yang ia lakukan itu adalah menggelikan, langsung ia lepaskan kasar.


"Lo ngapain meluk-meluk gue?"


Haddy menatapnya aneh. "Lo udah sadar, 'kan?"


George mengangguk. "Sadar!"


"Nggak lagi mimpi?"


George menggeleng. "Nggak." jawabnya.


"Lo tahu artinya memeluk … dan di peluk?"


George mengangguk. "Memeluk artinya orang yang melingkarkan tangannya di tubuh orang lain ."


"Ya?"


"Dipeluk artinya orang yang di peluk sama si pemeluk."


"Hm."


"Terus apa hubungannya?"


"Tadi tangan siapa yang melingkar?"


"Gue." jawabnya seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Nah itu tahu."


"Oh. Jadi gue yang memeluk? Dan lo yang gue peluk?"


"100!"


"Berarti aku lagi lupa itu. Separuh jiwaku lagi berkelana mungkin."


"Hiyak! Lo ada-ada saja."


"Cepet masuk. Gue mau kangen-kangenan."


"Laganyaaaaaaa."


"Gue butuh hiburan."


"Apalagi gue," timpalnya.

__ADS_1


Mereka melangkahkan bersama-sama masuk ke dalam rumah milik Haddy dan keluarga.


__ADS_2