
Serly ikut meneteskan air matanya saat mendengarkan setiap keluh kesah bocah tersebut yang menceritakan sebagian kisahnya.
"Kamu yang sabar! Jangan menangisinya yang sudah tenang di alam sana," ucap Serly lembut, "mungkin Tuhan tahu mana yang terbaik untuk adikmu," hiburnya sembari mengelus-ngelus punggungnya pelan.
"Sejak kepergiannya,... aku jadi kesepian, Tan! Di rumah tidak ada satu orang pun yang bisa aku ajak bercanda," ucapnya lirih. Membuat Serly semakin terenyuh padanya.
"Tidak ada yang selalu menemaniku. Aku sangat kehilangannya, Tan."
Serly mengangguk paham.
"Tiada lagi tawa yang ceria,... senyum yang indah, juga ejekan-ejekan yang selalu terlontar untuk mencari sebuah hiburan disela-sela kesepian kami," tambahnya menjeda.
Serly paham itu, karena ia juga pernah kehilangan orang yang sangat ia sayangi di dunia ini untuk menghadap-Nya juga.
"Hidupku terasa hampa, Tan. Dan itu sangat lebih terasa lagi setelah kepergiannya .. dan kehidupanku berjalan normal kembali seperti biasanya."
Serly kembali menganggukkan kepalanya.
"Setelah semuanya beres, Mamah juga Papah kembali lagi ke rutinitasnya semula."
Serly menghela nafas lembut.
"Yang kupikir ... mereka akan berubah, Tan. Namun nyantanya-" ucapannya tersengal.
Dia seperti susah untuk membuka suaranya lagi.
"Kupikir setelah kehilangan adikku ... Mamah dan Papah akan ada untuk menemaniku!" tegasnya sembari mengusap air matanya kasar.
"Tapi semua harapanku sirna. Mereka kembali lagi bekerja ... tepat setelah tujuh harinya adikku!"
"Mereka kembali meninggalkanku sendirian di rumah. Dengan bayang-bayang adikku pada saat itu." ucapannya sedikit mengandung kekesalan di dalamnya, dan
Kali ini Serly semakin tersentuh dengan ungkapamnya.
Tanpa terasa air matanya meluncur deras dari membasahi kedua pipinya.
Kemudian segera dia usap supaya tidak kelihatan olehnya.
"Aku takut juga sedih, Tan," ucapnya masih belum tuntas juga. Membuat Serly lama-lama mulai bosan.
"Di rumahku hanya ada Bibi yang menemaniku... dan itu pun tidak sepenuhnya ada untukku," tambahnya sedikit tenang.
Dia menarik napasnya dalam-dalam, dan ia hembuskan secara perlahan.
"Tapi, aku-" dia menggantungkan ucapannya, yang Serly yakini itu sangatlah berat untuk dia bicarakan.
Sebelah tangan yang sedari tadi terus berada di punggungnya, tak henti-hentinya untuk mengelusnya lembut.
"Jangan bersedih terus! Aku tahu kamu adalah Kakak terbaik untuk adikmu," hiburnya sembari membalikan badan bocah tersebut.
"Kamu harus kuat,... mereka hanya mempunyai kamu satu-satunya orang yang akan mendo'akan mereka saat ini juga nanti. Susah atau pun senang,'' tambahnya yang entah itu menghibur atau malah memperburuk suasana hatinya.
Biarlah... yang penting dia sudah mencobanya.
Bocah tersebut mendongak, "tapi mereka hanya sibuk untuk dunianya sendiri ... tanpa mengerti bagaimana perasaanku sebagai seorang anaknya," ucapnya dengan kedua bola matanya menatap nanar ke arah bawah.
"Jangan ngomong seperti itu ... mereka juga bekerja untukmu 'kan? Untuk masa depanmu supaya cerah dan terjamin," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalo emang sayang, mereka tidak akan pernah ninggalin aku terus, Tan. Pasti mereka akan meluangkan waktunya untuk berada di sampingku terus," ucapnya menolak sama apa yang dikatakan oleh Serly.
Shut!
Serly mencoba untuk menghentikan omongan-omongannya yang sudah mulai ngawur kemana-mana. Pikir Serly.
Meski itu adalah keluh kesahnya, tapi Serly tidak mau jika harus terus mendengarkannya sampai menyalahkan kedua orang tuanya segala.
Jujur, Serly juga sedih mendengarnya. Tapi, mungkin orang tuanya ada maksud tertentu dan mempunyai cerita mereka masing-masing tentang apa yang mereka ambil untuk anaknya.
__ADS_1
Pertama-tama Serly mencegahnya supaya diam dengan menempel jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
Yang kedua, Serly menempelkan jari telunjuknya di bibir merah muda nan begitu lembut terasa di jarinya.
Glekk.
Seketika Serly menelan ludahnya sendiri sedikit kelat, saat bocah tersebut malah menjilat jarinya yang tengah menempel di bibir miliknya yang seksi.
"Astaga," gumam Serly membatin juga gugup.
Jantungnya seketika berpacu, berdebar-debar tak karuan.
Serly segera menarik jarinya yang masih asyik menempel, lalu ia sembunyikan ke belakang tubuhnya.
"Maaf!" Satu kata lolos begitu saja dari mulutnya.
Bocah tersebut tersenyum. "Aku yang seharusnya meminta maaf, Tan. Bukan Tante," ucapnya sopan.
"Maaf. Karena sudah bikin Tante harus menungguku lama disini," ucapnya, "maaf juga karena harus mendengarkan semua keluh kesahku ...,"
"...maaf karena harus menyia-nyiakan semua waktunya hanya untuk menemaniku di sini,"
"Ma-affsss-"
Serly segera menghentikan ucapannya lagi. Jujur, dia sebenarnya sudah bosan dan sudah pusing, sedari tadi harus menjadi pendengar setianya.
Dia menempelkan kembali jari telunjuknya pada bibir ranum bocah tersebut, yang dengan nakalnya ia kembali m3nj1l4tnya sekilas.
Serly mendesah dengan jari yang enggan untuk dia tarik dari bibirnya yang lembut.
Perlahan, bocah tersebut menarik kedua sudut bibirnya---tersenyum sembari menatap Serly dalam.
Kemudian tatapannya beralih pada jari Serly yang terus saja menempel kuat di bibirnya.
Serly yang juga ikut mengikuti arah pandangnya, tersadar akan kemana dia menatapnya.
Sebenarnya dia tidak rela jarinya harus terlepas dari bibir bocah tersebut. Namun,
Glekkk.
Serly kembali menelan ludahnya kasar.
Sebelum tangannya sampai ke bawah, bocah tersebut malah meraih dan mencekalnya seraya menautkan jari-jemari mereka---menyatu.
Oksigen..., oksigen..., oksigen.
Jikalau tidak akan malu, tepatnya malu-maluin. Serly rasanya ingin berteriak-teriak kegirangan.
Tapi ia tahan, yang mungkin saat ini wajahnya sudah memerah merona, seperti kepiting berjemur dikuali. Haha....
Sebelah tangan Serly yang berada di atas pangkuannya... bergetar pelan, dan itu membuatnya menjadi salah tingkah, plus malunya itu 'ampun, dah...' kelihatan banget polosnya. Tidak pernah disentuh sama cowok.
"Astaga," batinnya sangat kesenangan.
Serly merutuki dirinya sendiri yang malu-maluin di depan bocah tersebut.
Dia menarik napasnya... berusaha mengkonsentrasikan kembali pikiran dan hatinya yang semakin cenat-cenut tidak karuan.
"Tarik nafas... keluarkan. Tarik nafas...,"
"Tan!" panggilnya membuyarkan lamunan Serly yang tengah menuntun dirinya mengatur pernafasan.
Dia menggenggam erat tangan Serly yang bergetar juga dingin.
Serly menarik nafas dalam-dalam, lalu ia hembuskan sambil memasang kedua telinganya dengan serius, supaya bisa mendengar dengan jelas apa yang akan dia katakan padanya.
Debaran jantungnya yang semakin berpacu dua kali lipat, tidak bisa ia sembunyikan lagi.
__ADS_1
Dia menatap tangan yang semakin erat menggenggam tangannya, yang Serly pikir bocah tersebut akan menyatakan sesuatu padanya, dan Serly sudah menyiapkan sebuah jawaban yang pas untuknya.
"Aku berterima kasih pada Tante karena sudah mau menungguku disini ... dan bersedia mendengarkan semua keluh kesahku," ucapnya sambil menangkupkan sebelah tangannya pada punggung tangan Serly.
Serly mengangguk. "Mungkin setelah ini,'' batinnya berharap-harap cemas.
"Tan." ucapnya sedikit serius, dengan tangannya ia bawa ke dadanya.
Ahhh....
Serly semakin lemas dibuatnya. Rasanya dia ingin mati untuk saat ini juga. Tapi,
Itu tidak boleh. Dia tidak mau melewatkan apa yang akan ia katakan padanya.
Dengan segenap kekuatan dan semangat 45, Serly kembali memasang telinga, mata dan hatinya dengan mantap.
"Aku, aku,"
"Ya Alloh... greget banget, sih. Kenapa lama banget ngungkapinnya!" gerutunya dalam hati.
"Aku, aku boleh peluk Tante?" pintanya malah semakin membuat Serly greget.
Dia menganggukkan kepalanya dengan senyum manis di wajahnya.
Tangan mereka terlepas, dan bocah tersebut langsung memeluk tubuh Serly dengan sangat erat.
"Ayolah, cepetan bicara. Aku sudah tidak sabar ingin menjawabnya," batin Serly greget banget.
"Tan. Aku kangen Adik, aku kangen peluk dia. Aku sangat kangen segalanya tentang dia."
Serly menarik napasnya kasar. Dia pikir kalau dia akan menembaknya.
Kecewa. Sungguh sangat kecewa.
Tapi, apa boleh buat. Ia juga tidak berani mengungkapkan isi hatinya.
Serly diam seribu bahasa dengan perasaan kecewa, itu semua karena harapan juga terkaannya yang terlalu percaya diri dan kege'eran.
****
Sekian lama bocah tersebut memeluknya, semakin perih juga perasaannya.
Dia mendorong pelan tubuh bocah tersebut, sedikit memberi jarak diantara keduanya.
"Kita harus pulang. Hari sudah semakin sore," ucapnya pelan, "bentar lagi malam," tambahnya.
Dia mengangguk pelan.
"Dek! Kakak pulang dulu, ya! I MISS YOU, DEK!" teriaknya sangat keras.
Serly tersenyum paksa.
Setelah itu, mereka kembali menuju mobil tadi terparkir.
Di dekat mobil, "oh, iya, Tan! Kita belum kenalan Lho!" ucapnya sambil menggosokan tangannya ke celana.
"Dari tadi ngomong mulu, curhat mulu, jadi tidak ingat buat kenalan 'kan?" cibir Serly dalam hatinya.
Serly tersenyum tipis menanggapinya. Jujur, di dalam hatinya ia masih kesal padanya.
Bocah tersebut mengulurkan tangannya ke arah Serly, dan Serly menyambut dengan berat hati.
"George Mahendra." ucapnya tersenyum simpul.
Serly tersenyum. "Serly Audiya," jawabnya sambil tersenyum manis, menjabat tangannya.
Kemudian mereka masuk ke dalam mobil, dan George langsung melajukan mobil tersebut--- menjauhi tempat tersebut.
__ADS_1