
M3lum4t bibirnya dalam-dalam dan menggigitnya sedikit, berhasil membuat Serly tersadar dari keterkejutannya.
Dia menatap wajah yang begitu dekat, tepatnya menempel dengannya. Namun,
George segera mengangkat tangannya yang berada di balik tengkuk Serly, dan ia tutupkan ke matanya.
Serly mengerjap, paham akan apa maksudnya.
Dia kemudian memejamkan mata, meresapi setiap p4gut4n yang tengah George lakukan padanya, dan ia balas dengan m3m4gut bibir bawahnya yang ranum.
Satu tangannya perlahan terangkat, m3r3mas baju pasien yang tengah George kenakan.
Keduanya terbuai, dengan cekalan tangan kian saling menguat. Merasakan c1um4n lembut… yang lama-kelamaan semakin berhasrat.
Serly menurunkan tangannya, menyusup ke balik baju yang George kenakan… dan m3r3mas dadanya cukup kuat.
Sampai George mendesis kesakitan.
"Aduh, duh. Tante nakal juga, ya!" ucapnya seraya melepaskan c1um4nnya.
Serly membuka matanya dengan semburat merah muda terlihat jelas di kedua pipinya, dan menunduk malu-malu.
George terkekeh sembari menarik dagunya lagi.
"Beri aku pengalaman … walau hanya untuk satu kaliiii, saja," ucapnya menatap dalam wajahnya Serly.
Serly menurunkan tatapannya. Kasihan juga tak tega melihatnya. Namun, harga dirinya dipertaruhkan sekarang.
Dia mendongak, menatap kembali dua manik yang memancarkan api asmara.
"Aku minta maaf, George. Aku nggak bis- nghhhh!"
Tidak mau mendengar penolakan terus, George dengan cepat m3ng3cup bibirnya. Membungkam semua ucapan yang akan Serly ungkapkan padanya.
__ADS_1
Serly terdiam, dengan air mata yang perlahan turun menyusuri lekuk pipinya.
Membuat George berhenti.
Dia melepaskan c1umannya, mendongak menatap kedua mata yang kini tengah mengeluarkan butiran crystal.
"Tan-"
"Jika kamu masih seperti ini … biarkan aku untuk berpikir," ucapnya seraya bangun dan turun dari atas bed tersebut.
George mendesah sembari mengacak rambutnya kasar.
"Tan!" panggilnya sembari turun dari bed dengan sebuah tiang infus ia bawa.
"Maafkan aku," ucapnya tulus.
Serly menghela napas dan berbalik menatapnya.
"Aku perempuan, George. Aku harus bisa menjaga etika dan nama baik keluarga. Aku tidak mau kamu lupa… dan berbuat di luar kehendak yang kita inginkan."
Serly menghela napas. Ada rasa tidak tega di dalam hatinya untuk pergi dari sana.
Satu tarikan napas Serly hembuskan kembali. Dia menatap tangan yang entah kapan tuh jarum infus telah George lepas.
"Bersabarlah. Nanti juga ada saatnya tubuh ini milikmu seutuhnya."
George mengangguk pelan.
"Yaudah. Sekarang kamu istirahat lagi. Aku mau cuci muka dulu," ucapnya lembut.
George mendongak. "Ikut!"
Mendengar hal itu, Serly langsung menatapnya tajam.
__ADS_1
"Iya. Aku tidur. Sambil bayangin Tante Dewi ngelonin aku."
"George!" Serly menghempaskan tangannya dan ia lipat di dada.. dengan ekspresi wajah yang masam.
George terkikik. "Nggak, Tan. Aku becanda doang," ucapnya sembari mengelus pipi Serly sekilas.
Serly mendengus. Kemudian mengantarnya untuk tiduran lagi di kasur, dan tanpa sengaja, manik mata George menangkap sosok orang yang sangat dia kenal tengah berdiri di depan pintu.
"Mamah! Papah!" gumamnya.
Serly yang tengah menyelimuti tubuhnya, samar-samar mendengar ucapannya.
"Apa?" tanyanya.
George mengerjap. "Coba lihat ke depan pintu, Tan. Aku barusan gak sengaja melihat Mamah sama Papah!" titahnya menunjuk pintu yang sedikit terbuka.
Serly mengerutkan dahinya seraya berbalik.
Kemudian melangkah ke sana.
"Mamah, Papah," ucapnya sedikit terkejut.
Kedua orang tua George segera berbalik dan menatapnya.
"Eh, Nak!" ucap Papah dan melangkah bersama mendekati mereka berdua.
"Mah! Pah! Kenapa gak masuk?" tanyanya menatap pasangan suami istri itu heran.
Mereka berdua malah saling tatap.
"Lebih baik kita bicarakan di dalam, Pah!" ajak sang istri.
Serly termenung mendengarnya.
__ADS_1
"Membicarakan apa, ya?" tanyanya gugup juga takut.
Mereka berdua tersenyum, lalu mengajaknya masuk dan berdiri di masing-masing sisi kasur yang tengah George tiduri.