
Serly menutup Tokonya lebih awal dari hari kemarin. Meski para pengunjung masih ada beberapa yang berdatangan.
"Kenapa tutupnya cepet-cepet, Tan?" Tanya George.
Serly menatapnya sebentar, "Enggak apa-apa. Kasian mereka kelelahan." Katanya sambil mengunci pintu Toko.
"Dy! Kamu pulang aja, ya! Aku mau ikut sama, Tante!" Katanya menyuruh Haddy untuk pulang sendiri.
"Hm, gimana kalo, Om sama, Tante ke rumah?" Tanyanya risau.
"Gak bakal, Dy! Mereka mana ingat sama aku." Jawabnya sinis.
"George!" Seru Serly yang tengah mendengarkan mereka.
George menoleh cepat, "Apa?" Tanyanya gak merasa bersalah.
"Kamu gak boleh gitu, itu orangtuamu. Pegimanapun, itu Ibu dan Bapakmu." Jelasnya.
George menunduk lesu, "Dah, ah Tan! Aku gak lagi mau membahas ini." Katanya lirih.
Serly hanya menghela napas rendah. Dia paham.
"Ok, deh, George! Gue pulang sekarang. Apa aku anterin kalian dulu?" Tawarnya.
"Hm..., Boleh!" Jawab George.
George meminta persetujuan pada Serly, "Gimana? Boleh, kan, Tan?" Tanyanya mencari tahu.
"Hm." Jawab Serly sambil mengangguk memgiyakan.
Haddy akhirnya mengantarkan mereka dulu pulang, "George! Kamu aja yang bawa Motornya." Katanya sembari memberikan kuncinya.
"Hm, ok." Katanya menerima itu. Ia naik terlebih dahulu le atas Motor.
"Eh, tunggu bentar!" Katanya sambil turun kembali dari Motor, "Kalo Gue yang bawa, nih! Lo ke enakan dong bisa pegang-pegang Pacar, Gue dodol!" Katanya sedikit marah karena merasa di kerjain.
"Hihi, Gue kira boon!" Katanya dan mengambil kembali kunci itu.
"Semprulll!" Ledeknya.
"Hihi..."
Haddy malah terkikik geli. Begitu juga dengan Serly. Ia juga ikut terkikik merasa lucu dengan Pacarnya Bocahnya ini.
Haddy naik ke atas Motor dan di susul oleh George dan Serly di belakang.
"Gimana? Cukup gak, Tan?" Tanya Haddy manis. Ia terus-terusan menggoda Sahabatnya.
"Pas!" Jawab Serly lagi dengan centilnya membuat orang yang berada di tengah mereka jadi kesal.
"Cepetan maju dodol! Ingat! Dia pacar, Gue. Jangan Lo maen embat-embat." Kata George kesal.
"Ya elah, George! Gue cuma bercanda, Kok!" Katanya sembari menoleh lagi pada Serly.
Serly mengangguk dengan tersenyum.
George mendelikkan Matanya kesal.
__ADS_1
Bugh...
George memukul Bahu Haddy keras. "Cepetan, mau Gue makan Lo hidup-hidup?" Ancamnya.
"Sadis amat sih, Lo!" Jawabnya dan langsung menyalakan Motornya.
Haddy memalajukan Motornya dengan perlahan. Ia sengaja mengulur waktu di jalan. Supaya mereka bisa saling bermesraan.
Bukan apa-apa, Haddy tahu jika sahabatnya ini membutuhkan suasana yang tenang. Biar bisa meluluhkan hatinya yang sedang membara.
Sejam lebih mereka baru sampai di persimpangan gang.
"Pegel banget!" Gerutu Serly sambil turun dari Motor.
"Haddy, Nih! dia bawa Motornya kayak keong!" Kilahnya.
"Tapi, Kalian menikmatinya, kan?" Tanya Haddy pada mereka berdua.
George tersenyum, "Lo emang mengerti aku banget!" Katanya sembari menepuk Bahu Haddy, "Thanks, Bro!" Ucapnya tulus.
"WOK. Gue pamit, Bye,Tante sexy!" Katanya sembari melambaikan Tangannya ke arah Serly dan kiss bye.
Pukk...
George langsung menepuk keras Tangan Haddy.
"Sembarangan aja, Lo" Katanya ketus.
"Emang salah, ya?" Tanyanya.
Serly mengangguk dan mencekal mesra Tangan George.
"Bye, bye, Tante sexy!" Teriaknya.
Serly hanya menggelengkan Kepalanya merasa heran dan unik.
"Maaf, ya, Tan! Dia emang kayak gitu. Suka cuplas, ceplos!" Jelas George merasa malu mempunya teman kayak Haddy.
"Gak papa kali, George! Dia itu lucu." Jawabnya santai.
"Jangan bilang Tante suka sama dia?" Tuduh George.
Serly langsung menghengikan langkah Kakinya, "Astaga, George! Jangan aneh-aneh deh!"
" Ya, takut aja."
"Kamu pacar pertama dan terakhirku, George!" Gombal Serly.
"Masa!"
Serly mengangguk kuat.
George memeluk Serly erat, "Jangan tinggalin aku." Katanya lirih.
Serly mengangguk, sebelah Tangannya ia angkat dan mengusap Punggung George.
"Makasih, Tan!" Serunya sembari melepas pelukannya.
__ADS_1
Mereka terus berjalan sampa di depan sebuah rumaj minimalis milik Keluarga Serly.
"Maaf, ya bila kamu gak betah!" Seru Serly sambil mempersilahkan George untuk masuk.
"Masuk juga belom, Tan!" Serunya.
"He. Silahkan!"
George masuk dan di dalam sudah ada Wanita paruh baya yang sedang berdiri menyambut George.
"Eh, ada tamu!" Serunya sopan.
George menundukan Kepalanya sedikit.
"Ser! Ambilin minum dulu." Titahnya.
Sementara Serly pergi ke dapur, mereka berdua mengobrol.
"Ini dengan Nak siapa?" Tanya Ibunya Serly.
"George, Bu!" Jawabnya sopan.
"Oh, Nak George! Dari mana?"
George menyebutkan asal dan keluarganya dengan jujur, dan membuat Ibunya Serly tercengan kaget.
"Astaga! Ibu mimpi apa di datengin anak orang kaya!" Katanya.
"Ih, Ibu! Jangan malu-maluin ah." Kata Serly merasa gak enak.
"Gak papa, Tan!" Timpal George merasa hangat bisa di sapa oleh Wanita paruh baya ini.
Setelah habis perbincangan antara Ibunya dan George, kini bagian Serly yang terus bertanya.
"Sebenarnya kamu ada apa dengan Ibumu?" Tanya Serly meminta penjelasan.
George hanya celingak celinguk berpura-pura gak mendengar.
"George!" Serunya lembut.
"Nanti, ya, Tan! Aku masih gak mau bahas soal itu." Jawabnya gak mau menjelaskan.
"Hm, ok deh." Jawab Serly sedikit ketus.
"Jangan ngambek, dong!"
"Enggak, George! Aku ngerti kok."
"Makasih ya Tan!"
"Hm."
"BTW, kamu mau nginep di sini tuh beneran?" Tanya Serly gak percaya.
"Ya, beneran dong! Masa boongan."
"Ya mungkin aja setelah liat kondisi rumahnya kayak gini jadi gak mau." Tuduh Serly yang enggak-enggak.
__ADS_1