
"Oo, Nyonya. Nyonya baru saja pergi, Non. Ke kantor sama Tuan!" jawabnya.
Serly menghela nafas panjang.
"Ada perlu apa, Non? Biar nanti Bibi sampaikan!"
Serly menggelengkan kepalanya. "Aku mau menunggu aja disini, Bi. Sampai mereka pulang!"
"Kalau begitu, yuk, di dalem, Non," ajaknya.
Serly mengangguk, lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Dia duduk di kursi yang kemarin dia duduki bersama papanya George.
Satu jam berlalu, dan Serly mulai bosan hanya duduk sambil memandangi sekeliling rumah tersebut.
Dia berdiri dan memutuskan untuk mencari kegiatan disana.
Tatapannya tertuju pada seorang pelayan yang tengah mencuci piring di dapur.
"Bi. Boleh aku bantu?" ucapnya seraya berdiri di samping pelayan tersebut.
"Eh, Non. Gak usah, Non. Ini pekerjaan Bibi," ucapnya menolak Serly untuk membantunya.
Serly merungut dan terus mencoba untuk merayunya. "Boleh, ya, Bi. Aku bosan hanya diam saja sedari tadi."
"Tapi, Non."
"Gapapa, Bi. Kek yang sama siapa aja. Aku juga sama kayak Bibi," ucapnya seraya mengambil alih pekerjaan tersebut.
Si Bibi tersenyum dan melakukan pekerjaan lain lagi.
Selang beberapa menit, Serly sudah menyelesaikan pekerjaan tersebut, lalu melanjutkannya dengan menyapu dan mengepel seluruh lantai di rumah tersebut.
__ADS_1
Beberapa pelayan melarangnya, namun Serly tetap keukeuh ingin membantu mereka.
"Bi! Siapkan air untukku!"
Terdengar sebuah teriakan dari arah ruang tamu, dan Serly yakin itu adalah mamanya George.
Dia segera melangkah dan menghampirinya, membuat mamanya terkejut.
"Sejak kapan kamu disini?!" ucapnya dengan nada membentak.
Dia menatap Serly tajam dan sinis. "Ngapain kamu kesini lagi, hah?" tanyanya sengit.
Serly tersenyum dan meraih tangannya lembut, namun segera dia tepis kasar.
"Sepertinya Mama capek. Aku buatkan jus, ya?" tawarnya manis.
Mama George menatap Serly lekat. "Mama? Cih. Gak sudi aku dipanggil Mamah sama wanita gak tau diri sepertimu!" ucapnya seraya melenggang dari sana.
"Bi. Buruan siapkan air. Tanganku kotor terkena virus kemiskinan!" ucapnya lantang.
"Biar aku saja, Mah. Mamah mau aku siapkan air apa? Hangat?" tanyanya terus berusaha untuk mencuri hati sang mertua.
Mamanya George tidak menggubris. Dia mendekati seorang Bibi yang malah berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.
"Buruan, Bi. Jangan sampai virusnya menyebar di rumah ini!"
Serly menunduk sambil menghembuskan nafasnya panjang.
Sakit. Itu benar-benar membuatnya sakit. Tapi, ia harus tegar demi bisa mendapatkan restu darinya.
"Bi. Yang mana kamarnya? Biar aku saja yang menyiapkannya," ucap Serly dengan sangat percaya diri.
Mama George mengepalkan tangannya. Dia menarik bahu Serly sangat kuat dan ia dorong secara kasar.
__ADS_1
"Siapa kamu yang berani-beraninya berbicara seperti itu, hah?!"
Serly memejamkan matanya sembari mengelus bahunya yang perih.
"Wanita rendahan sepertimu… tidak pantas berada disini!" bentaknya keras.
Serly menunduk mendengarkan semua caciannya.
"Pergi kamu dari sini! Sebelum aku berlaku kasar lagi padamu!"
Serly menghela nafas, lalu mendongak dengan senyum termanis ke arahnya.
"Bi. Boleh tunjukkan aku dimana kamarnya?" pinta Serly seraya melangkah meninggalkan mamanya George yang terheran-heran.
Dia mengepalkan kedua tangannya, melangkah cepat mendekati Serly.
"Kamu," gertaknya sambil menarik rambut Serly kasar. Sampai ia berbalik menghadapnya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Serly, dan meninggalkan jejak merah di sana.
Serly meringis sambil memegangi pipinya yang perih.
"Pergi! Atau perlu aku bawa Satpam untuk mengusirmu."
Serly mengangkat kepalanya pelan.
"Pergi!" bentaknya lagi.
Serly menarik sudut bibirnya tipis. "Mama seperti lelah. Mau aku pijitin?" ucapnya malah memberinya tawaran.
Membuat mamanya George semakin kesal.
__ADS_1
Dia kembali melangkah semakin dekat dengannya.
Serly yang melihat hal itu menunduk sambil memejamkan matanya, takut.