
Pagi-pagi sekali Serly bangun, dan itu semua gara-gara mimpi basah semalam.
Oh my god.
Brrrrrr....
Serly keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk putih melilit di tubuhnya.
''Andai... saja handuknya bernyawa,'' gumamnya sembari terus melangkah, "aku akan terus mandi ... meski dijam seperti ini," tambahnya memelas.
Astaga.
Serly menggeleng-gelengkan kepalanya, "enyahlah wahai kau pikiran jelek dari otakku ... jangan membuatku semakin sengsarahu." gerutunya sembari masuk ke dalam kamar, dan
berjalan mendekati sebuah lemari pakaian.
Dia mengambil satu setel baju berlengan panjang, supaya tidak kedinginan.
"Jodoh, oh, jodoh. Dimanakah dirimu bersembunyi?" gumamnya sambil memakai pakaian tersebut.
Setelah selesai, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju, hendak membuat sarapan. Tapi,
Betapa terenyuhnya hati Serly saat ia sudah mendapati ibunya sedang mengantongi bubur ke dalam plastik berukuran 10×20.
Serly berpikir, kalau ibunya akan berkeliling menjual bubur-bubur tersebut.
"Ya alloh," gumamnya seraya berjalan mendekat.
Tepat berada di belakang tubuhnya, Serly langsung memeluk tubuh sang ibu dengan begitu erat dan hangat. Dia melusupkan kepalanya di balik punggung sang ibu.
"Ibu," serunya dengan nada sedikit sedih, "aku sayang sama Ibu,'' tambahnya lirih.
Ibu hanya diam melihat sikap manja anaknya pada dirinya.
Setelah puas memeluknya, Serly bergeser dan duduk di samping ibunya.
Dia meraih keranjang kecil yang suda tersedia beberapa kantong bubur di dalamnya hendak membantu.
''Sudah! Kamu istirahat lagi saja, biar ibu yang bereskan semuanya." cegah sang ibu sambil terus mengantongi bubur tersebut.
Serly menggeleng cepat, "nggak, Bu. Aku mau bantuin Ibu," jawabnya lembut.
Ibu tersenyum, "makasih, Sayang!" ucapnya mengelus pipi Serly lembut.
Serly menarik sedikit ujung bibirnya, lalu mengambil satu persatu bubur yang sudah di bungkus, dan ia letakan di dalam keranjang plastik serta menyusunnya rapi.
Hhh....
Tidak terasa, mentari sudah menampakan cahayanya dengan begitu hangat.
Serly yang sudah selesai membantu ibunya, beranjsk dari sana menuju kamar ... guna untuk mengganti baju lagi dengan setelan bekerja.
"Bu. Aku berangkat dulu, ya!" Serly mengulurkan tangannya meminta izin dengan menyalami tangannya.
"Iya. Hati-hati di jalan, ya, Nak! Semoga hari ini rezeki kita lancar!" ucapnya tulus.
Serly tersenyum, "amiiin." jawabnya lembut.
*****
Sementara Serly berangkat ke toko, ibunya juga berangkat untuk menjual semua bubur yang tadi sudah siap untuk di bawa keliling kampung.
__ADS_1
Di perjalanan.
Kik..., kik..., kik....
Serly berdecak, kesal mendengar sebuah klakson yang terus memekakan telinga.
"Siapa, sih! Berisik amat!" gumamnya mendengus kesal tanpa mau menoleh sedikitpun.
Terlihat dari ekor matanya, sebuah mobil berhenti di sampingnya.
"Hay, Ay! Mau berangkat kerja, ya?" tanyanya dengan nada begitu manis.
''Sudah tahu, ngapain nanya, coba. Hadeuuhhh.'' batinnya. Dia memutarkan bola matanya malas.
Kemudian menoleh, "iya." jawabnya datar.
Serly mengedikkan bahunya kuat. Bergidik mendengarnya.
Serly melanjutkan langkahnya, tidak menghiraukan ajakan Pria tidak tahu diri tersebut.
"Ay!" teriaknya sembari melajukan mobilnya lagi.
Serly berjalan dengan begitu santai, pura-pura tidak mendengar teriakan-teriakan Pria itu.
"Ser!" serunya saat sudah ada di samping Serly.
Serly mendesah seraya menghentikan langkah kakinya dengan berat, dan ia hentak-hentakkan kuat.
"Apa, sih, Tejo! Gue udah telat, nih!" ucapnya sambil menoleh ke arah dimana Pria itu berada.
__ADS_1
"Tejo?" gumamnya heran, "Biarlah, asal kamu bahagia, Ay. Nama itu pun gak papa buatku," jawabnya lembut.
"Uekk." Serly memeletkan lidahnya ke samping.
"Ayolah, Ay! Sekali ini... saja." pintanya dengan tampang memohon.
Serly mendelikan matanya sebal.
"Pliiissss...." mohonnya lagi, yang semakin membuat Serly muak.
Dia kembali melangkahkan kakinya dengan ringan tanpa memperdulikan permintaannya.
Dukkk.
Aaaa ....
Serly memekik, terkejut saat Pria itu tiba-tiba menarik tangannya kuat, hingga dia membuatnya terbalik dan memeluk badannya dengan erat.
"Ish!" Serly berdecak seraya melepaskan pelukannya, dia juga mendorong dadanya kuat.
"He... maaf, Ay!" ucapnya nyengir tanpa beban.
''Gimana, Ay? Mau, ya?'' tanyanya memohon.
"Hanya untuk kali ini saja." jelas Serly mengalah. Dia malu sedari tadi terus diliatin banyak orang.
Pria itu mengangguk senang.
''Ck. Kayak anak kecil aja.'' batin Serly heran.
Dia melangkahkan kakinya mendekati mpbil tersebut, memutuskan untuk berangkat ke toko bersamanya. Bersama Fans-nya yang tidak sedikitpun menyadari statusnya itu apa.
__ADS_1
Serly masuk ke dalam mobil dengan TERPAKSA. Terpaksa mau diantar oleh suami orang.