Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Mimpi Basah


__ADS_3

Setelah jalan-jalan sore yang menurut Serly itu tidak menyenangkan sama sekali. Dia mengantar Serly pulang sampai ke depan gang masuk perkampungan.


Serly turun dari mobil tersebut, "makasih, Dek," ucapnya seraya berbalik menatapnya.


George tersenyum. "Sama-sama, Tan!" jawabnya lembut.


Serly membalas senyumannya, lalu berbalik melangkahkan kakinya menjauhi Bocah tersebut.


Tak lama, terdengar suara mobil tersebut bergerak dan menjauh.


Serly berbalik dan ternyata benar. Dia melihat mobil tersebut menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Serly menghela nafas seraya membalikan badannya hendak melangkah menuju rumahnya yang masih sedikit jauh dari sana.


Tapi,


"Ser! Siapa itu?" tanya seorang tetangganya menatap Serly aneh.


Serly terperanjat, "eh, Ibu. Mmm ... itu bukan siapa-siapa, Bu. Itu temanku," jelasnya dan memang itu adalah kenyataannya.


"Oh. Ibu pikir itu pacar kamu," ucapnya dengan senyum seperti mengejek, "tapi ... tidak mungkin juga 'kan, kamu pacaran sama bocah? Masih sekolah lagi!" tambahnya.


Serly tersenyum tipis menanggapinya.


"Kalo begitu, saya permisi, ya, Bu," ucapnya sambil merundukan sedikit tubuhnya, sopan.


Ibu tersebut mengangguk sambil tersenyum tipis melihatnya, dan


Serly mulai mengayunkan kakinya lagi menuju sebuah rumah minimalis milik keluarganya.


"Assalamualaikum, Bu!" serunya setelah berada di depan rumah tersebut.


"Wa'alaikumsalam." Terdengar sebuah suara lemah lembut dari dalam, menjawab salamnya.


Serly segera masuk dan menyalami tangan ibunya yang sedang duduk santai di atas sebuah kursi sembari menonton televisi.


"Baru pulang, Nak?" tanyanya lembut.


Serly mengangguk sambil ikut duduk bersamanya.


"Siang tadi, sih, aku pulang dari tokonya,... tapi aku jalan-jalan dulu, Bu," jawabnya lembut.


"Oh. Kalau begitu... kamu mandi dulu, Sayang. Ibu sudah masakin kamu tempe goreng dan udang kecil," ucapnya sembari tersenyum manis.


Nah ini yang membuat Serly semakin sayang pada ibunya. Selain beliau ibunya sendiri, beliau adalah wanita terbaik dan tercantik bagi dirinya. Apa pun keadaannya.


Beliau sangat perhatian juga sayang padanya.


Beliau adalah orang tua satu-satunya yang Serly miliki, karena bapaknya sudah meninggal sedari ia kecil.


Jadi, Serly sangat ingin membahagiakannya, semampu dan sebisanya.


****


Serly ikut tersenyum mendengarnya, lantas ia langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat.


"Makasih, Bu! Aku semakin cinta dan sayang sama Ibu," ucapnya tulus dari dalam hati.


Ibu mengangguk seraya menepuk-nepuk punggung Serly pelan.


"Sudah sana mandi. Nanti keburu malam," ucapnya lembut.


Serly mengangguk sedikit kuat. "Oke, Bu. Emmuachhh.'' ucapnya seraya mencium kening juga pipi ibunya secara bergantian.


Setelah itu, Serly langsung beranjak untuk mandi.


***


Satu jam lebih waktu yang dibutuhkan oleh Serly, untuk menyelesaikan semua rutinitasnya memanjakan tubuhnya supaya wangi dan bersih.

__ADS_1


Setelah itu dia baru keluar dengan bunga-bunga yang mengikuti langkahnya menuju tempat makan.


"Perawan Ibu wangi banget, sih," ucapnya memuji sang anak.


Serly tersipu dengan semburat merah merona di pipinya. "Makasih banyak, Bu. Ibu juga wangi dan cantik," timpalnya memuji sang ibu.


"Ah... makasih banyak, Sayang." jawabnya sedikit malu-malu.


Membuat Serly terkekeh, lucu melihat muka merona milik ibunya.


Kemudian mereka makan bersama-sama dengan sangat tenang.


***


Selang beberapa menit,


"Alhamdulillah," ucap Serly seraya mengusap-ngusap perutnya yang sudah megah.


Ibu tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.


Selang beberapa jam, Serly sudah merasakan kantuk yang sangat berat, dia memutuskan untuk tidur saja.


"Bu! Aku tidur duluan, ya. Udah ngantuk banget!" pamitnya sopan.


"Hm." jawab ibunya yang entah sedang ngapain di dapur.


Serly gegas melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar kecil miliknya.


Aaahhhhh....


Satu tarikan napas panjang Serly lepaskan kasar.


Dia menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tengkurap dan kedua tangan memeluk bantal, erat.


ZzZzZzZz ....


________


"Dek! Eh, ah iya... suamiku. Mm..., Mas!" jawab Serly dengan tampang bingung harus manggil apa padanya.


"Itu tidak sopan. Gimana kalau memanggilnya Bapak?" Serly bergumam pelan, ''tapi itu terlalu tua untuknya."


Serly terus berpikir, memikirkan panggilan pas dan cocok untuknya.


"Honey!" panggilnya begitu lembut dari arah kamar miliknya.


Serly yang sedang berada di ruang tamu, langsung menoleh cepat.


"Iya!" jawabnya sedikit berteriak.


"Sini, dong!" ajaknya.


Serly tersenyum seraya bangkit dari duduknya, lalu berjalan sedikit cepat ke arah kamar tersebut.


"Ada apa?" tanyanya setelah berada dekat di sampingnya.


"Duduk sini!" ajaknya lembut. Membuat jantung Serly cenat-cenut.


Dia segera mendaratkan b0k0ngnya di samping George yang saat ini sudah menjadi suaminya.


"Ada apa, sih?" tanyanya merasa gugup juga gelisah, dan itu entah kenapa.


"Deketan, dong," pintanya sembari menarik pinggang Serly pelan.


Dug..., dug..., dug.


Seketika debaran jantung Serly bertambah cepat. Dia memegangi dadanya dengan nafas yang sedikit tercekat.


"Apa ini? Dia mau ngapain?" batinnya gelisah, mengingat kalau mereka baru beberapa hari ini menjadi seorang pengantin baru, dan Serly masih gugup juga canggung.

__ADS_1


Glekkk.


Seketika dia menelan ludahnya kasar, saat sebuah tangan menelusup ke belakang kepalanya, menarik tengkuk Serly pelan.


Napasnya memburu dengan wajah yang bersemu kemerahan sedikit panas juga.


"Bismilah," batinnya pasrah, akan menyerahkan seluruh kehormatannya buat sang suami.


Jarak wajah yang seinci lagi akan menempel, membuat Serly memejamkan kedua bola matanya.


Mmmmm....


Kedua bibir yang masih sama-sama ranum, menempel sempurnya dan George mulai memainkannya.


Dia m3m4gut juga m3lum4t bibir Serly penuh nafsu.


Suasana yang sangat berbeda itu, membuat debaran jantung Serly semakin berpacu dua kali lipat.


Dia mengangkat kedua tangannya, mengalung di leher George, menikmati c1um4n yang semakin panas.


Lum4t4n-lum4t4n kecil yang kini sedikit menuntut, membuat Serly kehabisan oksigen.


Dia mendorong pelan dada suaminya pelan. Lalu, menghirup banyak oksigen sebanyak-banyaknya.


George tersenyum dan kembali mer4up bibir Serly sedikit ganas.


Dia meng3mut-ng3mut4n kedua bibir Serly dengan sesekali mengh1s4p l1d4hnya kuat, memainkan sembari menyusuri setiap inci rongga mulut Serly, dan membelitkannya lembut, sampai menimbulkan beberapa bunyi decakkan-decakkan halus keduanya.


Sebelah tangan yang tadi berada di atas pangkuannya, kini naik menelusup kebalik pakaian milik Serly.


"Nghhhhhh...."


Serly yang merasakan ada sebuah tangan yang menempel di dua bukit k3mb4r miliknya, memejamkan matanya semakin rapat, saat dia mulai mengusap-ngusapnya pelan, dan


Semakin lama dia memainkannya, semakin membuat Serly tidak kuat untuk menahan gelora yang baru ia rasakan itu.


Ngilu juga menggelikan. Tapi, itu enak. Saat George dengan lihainya memainkan satu persatu pucuk miliknya.


Lama kelamaan, tubuh Serly meremang dengan inti dari tubuhnya berkedut.


Dia mendorong kuat dada George, sampai c1uman mereka berdua terlepas.


''Aku sesak, Sayang," ucapnya berbohong. Padahal ia sudah tidak tahan merasakan area sensitifnya yang terus berkedut.


Namun, George tidak rela Serly menghentikan begitu saja c1umannya.


Dia kembali menarik tengkuk Serly dengan sedikit kuat, dengan sebelah tangan m3r3m4s kuat satu bukitnya, dan ia terus m3lum4t-lum4t bibir Serly dengan begitu buas.


Mmmmm....


Tubuh Serly bergetar, dengan area inti yang merapat, menahan kedutan tersebut, dan


Prangg!


Ia tersentak saat ada sebuah suara keras yang terjatuh.


Serly terperanjat sembari bangun dari tidurnya.


Dia menghela nafas, dengan sebelah tangan mengelus-ngelus di dada.


"Astagfirullah! Suara apa itu?" gumamnya mengedarkan pandangannya, dan mengingat sebuah kejadian yang sedang ia nikmati barusan, "ternyata ini hanya sebuah mimpi," gumamnya lagi.


Dia menghembuskan nafas sembari menurunkan tangannya meraba inti sensitif dari tubuhnya. "Oh, astaga. Basah," ucapnya sedikit lesu.


"Hhhh... aku mimpi basah," tambahnya lagi.


Dia berkali-kali menghela napas lesu. Bagaimana tidak, ia sekarang harus mandi subuh-subuh.


Hahhhhhh....

__ADS_1


__ADS_2